Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam

Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam
02. Ciuman Terima Kasih


__ADS_3

El berjalan memasuki mansion mewah milik Xavion. Awalnya, dia cukup kaget dan panik saat mobil Xavion memasuki hutan. Dia panik mengira Xavion akan membuangnya ke hutan. Setelah dijelaskan jika mansion Xavion ada di tengah hutan barulah El merasa lega.


Sebenarnya El mempunyai banyak pertanyaan di otaknya, namun dia belum memiliki keberanian untuk bertanya. Dia akan menunggu Xavion menjelaskan padanya.


"Selamat datang Tuan besar."


El secara refleks memegang lengan kiri Xavion dengan erat saat beberapa pelayan berbaris dan membungkuk hormat menyambut mereka. Dia menunduk saat rambut hitam panjangnya diusap lembut oleh calon suaminya itu.


"Ini calon istriku, El. Perlakukan dia dengan baik."


"Baik, Tuan besar."


El mengikuti Xavion masuk ke dalam mansion itu. Xavion membawanya ke lift menuju lantai dua dimana letak kamar mereka berada. Sedari tadi El hanya menunduk tidak berani sedikitpun mengangkat kepalanya.


"Selain saat bersamaku, kamu tidak diijinkan menunduk seperti ini. Istriku harus penuh kuasa di depan orang lain," jelas Xavion panjang. Xavion menatap dalam El yang berdiri sambil menunduk di depannya.


Semua ucapannya adalah demi kebaikan El. Istri seorang Xavion Kenzie Alexander tidak diijinkan menunduk pada siapapun. El hanya boleh menundukkan kepalanya saat bersamanya.


El yang penurut dan lemah hanya boleh ditunjukkan di depannya, saat berhadapan dengan orang lain dia harus mengangkat kepalanya dengan sangat percaya diri. Tidak ada seorangpun yang beloh merendahkan istrinya.


"Tapi aku tidak terbiasa melakukan itu, Kak."


"Pertama lakukan itu di depan para pelayan mansion ini. Kamu tidak boleh menunduk pada para pelayan, aku akan menghukummu jika kau ketahuan menunduk di depan para pelayan. Mengerti, Love?!"


"Iya, aku usahakan Kak."


Xavion keluar dari lift sambil menggandeng tangan El. Dia tau ada beberapa pelayan yang tertarik padanya. Dan dia tidak ingin calon istrinya ditindas oleh para pelayan itu karena sifat lemah lembutnya itu.


Sebenarnya, sangat mudah bagi Xavion untuk menyingkirkan para hama itu seperti membalikkan telapak tangan. Tapi, dia ingin calon istrinya itu belajar. Setidaknya di mansion ini, selain dirinya para pelayan harus menghormati calon istrinya juga.


"Ini kamar sementaramu. Selamat istirahat," ujar Xavion. Dia hendak melangkah Kakinya, tiba-tiba tangan mungil meraih tangannya untuk menghentikan langkahnya.


El menunduk dengan jatung berdegup kencang. Dia menghembus nafas panjang sebelum berjinjit mencium pipi Xavion.


"Terima kasih." Ujarnya pelan lalu bergegas memasuki kamar dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus dan jantung yang berdetang kencang. Ini pertama kali dia melakukan kontak fisik seperti itu.

__ADS_1


Ucapan calon mommy mertuanya terngiang di kepalanya sedari tadi. 'Xavion sangat suka jika seseorang mencium pipinya sebagai ucapan terima kasih.' Yang tidak El ketahui, itu adalah sebuah bualan mommy mertuanya.


Sementara, Xavion tersenyum kecil di depan pintu kamarnya. Dia yakin seribu persen apa yang dilakukan El barusan adalah saran dari mommynya.


Dan Xavion sangat menyukai saran itu.


...


"Pelayan." Dua orang pelayan menghampiri El yang sedang berdiri di depan pintu dapur. Mereka menunduk hormat pada calon nyonya mereka.


"Makanan kesukaan Kak Xavion apa? Aku ingin memasak untuknya."


"Maaf, Nyonya. Biar koki yang memasak. Silahkan tunggu sebentar."


"Jangan, aku ingin memasak sendiri."


"Maaf, Nyonya. Kami takut Tuan besar akan marah jika mengijinkan Anda memasak." Jawab pelayan sambil menunduk hormat. Sudah jadi peraturan mutlak jika majikan dilarang melakukan pekerjaan apapun. Apalagi Xavion sudah mewanti-wanti sebelumnya jika calon istrinya dilarang melakukan pekerjaan apapun.


"Hmm... Baiklah, tolong buatkan brownies saja."


"Maaf, Nyonya. Tapi, Tuan besar alergi terhadap coklat. Bagaimana jika red velvet saja, Nyonya?"


Tangannya nenopang dagu menatap para koki yang sibuk memasak pesanannya. Rambut hitam panjangnya yang dia kuncir seperti ekor kuda.


Setelah makan malam, Xavion pergi ke ruangan kerja untuk menyelesaikan pekerjaannya. El yang tidak mempunyai kesibukan turun dan ingin membuat kue untuk Xavion. Tapi sayangnya, para pelayan melarangnya.


Empat puluh lima menit berlalu, akhirnya cake red velvet selesai dibuat. Saat cake itu diletakkan dihadapannya, El selesai memakan Pudding coklatnya. Seorang pelayan tadi memberikannya sepiring pudding coklat supaya dia tidak bosan menunggu.


"Terima Kasih." Ujar El. Dia tersenyum lembut lalu pergi membawa sepiring cake red velvet yang sudah di potong itu.


Tok... Tok... Tok...


El mengetuk pintu dengan pelan pintu berwarna coklat itu. Xavion menyahut dan memintanya masuk.


"Kak?"

__ADS_1


"Hmm? Kemarilah Love."


"Mau makan cake bersama? Koki tadi yang membuat ini. Tadinya aku ingin membuat cake untuk kakak tapi pelayan melarangku."


"Bagus," ucap Xavion sambil tersenyum tipis. Dia menghampiri El sambil membawa laptop yang sedang duduk di sofa dan sepiring cake di meja.


"Kenapa aku tidak boleh memasak?" Tanya El. Dia menyuap Xavion cake sesuai permintaannya itu. Xavion fokus pada laptopnya sambil sesekali menoleh untuk menerima suapan dari El.


"Istriku tidak boleh lelah. Ada para pelayan, jadi kamu diam saja."


"Diam saja? Aku pasti akan bosan. Setidaknya ijinkan aku memasak, Kak."


"TIDAK!" Nada tegas Xavion membuat El mengatupkan bibirnya supaya tidak bertanya lagi. Dia tidak bisa membantah lagi karena tidak memiliki cukup keberanian untuk membantah calon suaminya itu.


El tetap menyuapi cake pada calon suaminya itu. Namun pikirannya melayang jauh memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan mulai besok untuk menghabiskan waktu luang. Selama ini, dia selalu bekerja dan sekolah, jarang memiliki waktu luang karena waktunya selalu habis untuk bekerja dan sekolah.


Sekarang saat dirinya tidak ada pekerjaan, dia bingung. 'Bagaimana dia menghabiskan waktu sepanjang hari? Tidak mungkin hanya tidur sehariankan?'


"Mengantuk?" Tanya Xavion. Dia tidak sengaja melirik El menguap. Mata El juga sedikit sayup, menahan kantuk. "Tidur saja duluan."


"Hmm? Boleh?"


"Tentu saja."


"Aku kira harus menemani Kakak sampai selesai. Bukankah tugas istri menemani suaminya?" Xavion terkekeh kecil mendengar penuturan El. Dia yakin seribu persen jika hal itu adalah ucapan mommynya. Sang mommy pasti sudah banyak wejangan yang dipahami dengan arti yang berbeda oleh El.


"Tugasmu hanya mengikuti perintaku. Paham Love?"


"Iya. Sekarang aku boleh tidur?" Tanya El sambil menguap. Padahal tadi sore, dia sudah tidur sebentar tapi sekarang dia sudah mengantuk lagi.


"Mau ditemani?"


"Belum boleh, kan belum menikah." Ujar Elll sambil menunduk. "El tidur dulu, Selamat malam."


El mengecup pipi Xavion secepat kilat lalu pergi. Mommy mertuanya bilang kalau Xavion akan bermimpi buruk jika tidur tanpa mendapatkan kecupan di pipi. Selama tiga bulan ini, El berusaha mengingat apa saja hal yang harus dilakukannya setelah resmi menyandang nama Alexander di belakang namanya.

__ADS_1


Beruntung sang mommy mertua memberitahukan banyak hal tentang Xavion padanya. Dia hanya berharap semoga dirinya benar-benar bisa berguna dan bisa membuat Xavion lebih bahagia.


El berharap dengan setulus hati untuk kebahagian Xaviondiam


__ADS_2