
"Ini bekal makanannya, Nyonya."
El baru saja sampai dapur menyunggingkan senyuman hangat pada para pelayan yang membantunya. Dia menerima kotak berisi makanan yang dia minta supaya dibuatkan untuk dibawa ke kantor Xavion.
Siang ini, Xavion dan dia akan ke butik untuk fitting gaun pengantin sesuai yang di katakan mommy Xavion. Calon suaminya juga memintanya untuk datang sebelum makan siang jadi dirinya meminta dibuatkan bekal untuk makan siang.
"Terima kasih." El melangkah keluar dari dapur. Di depan pintu, seorang supir sudah menunggunya. Setelah mengucapkan terima kasih karena supir itu membuka pintu untuknya, mobil meninggalkan halaman mansion Xavion.
Hari ini, El mengenakan dress coklat tua selutut dengan tali spaghetti yang menggantung di bahunya. Dia melengkapi dress itu dengan cardigan hitam dengan panjang.
Rambut panjangnya, dia kuncir kuda. Kakinya dibaluti flatshoes beludru dengan brand ternama yang harganya sangat fantastik. Dia juga melengkapi penampilannya dengan slingbag berwarna senada dengan dressnya.
Dia menatap hutan yang mereka lewati menuju jalan besar. Ternyata tidak terlalu menyeramkan seperti bayqngannya selama ini. Bahkan hutan itu bisa di katakan indah baginya. Meski begitu, El akan menolak keras jika disuruh jalan sendirian disini meskipun hari masih terang.
Smartphone miliknya berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Dia mengambil smartphone itu dan melihat nama penelphone itu. Jantungnya berdetak kencang karena membaca nama 'Calon suami' pada layar smartphone miliknya. Ini pasti ulah Xavion yang menulis nama kontaknya itu.
"Iya Kak?"
"Aku ada meeting. Nanti tunggu di ruanganku saat kamu sudah sampai, Love."
"Baiklah Kak." El memasukan kembali smartphone miliknya setelah panggilan teleponnya dimatikan oleh Xavion. Bibir tipisnya menyunggingkan senyuman kecil setelah menerima telepon dari calon suaminya. Dia merasa dianggap berharga karena hal sederhana itu. Dia berharap yang terbaik untuk mereka berdua kedepannya.
...
El sampai di kantor calon suaminya. Dia turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam bangunan tinggi milik calon suaminya itu.
El berhenti di depan meja resepsionis. Dia tersenyum canggung saat sang resepsionis memandangnya dengan sinis.
"Ruangan Kak Xavion dimana, Nona? Tanya El. Dia sedikit risih saat resepsionis itu menatapnya sinis dari atas sampai bawah untuk menilainya.
" Sudah ada janji?" Tanya resepsionis itu dengan ketus. Resepsionis dengan nama Jennifer Smith itu menatap tidak suka pada El.
__ADS_1
"Sudah Nona."
"Nona, Nona, panggil saya Nyonya." El mengangguk sebagai tanda bahwa dia mengerti. Mungkin di perusahan Xavion memang panggilannya begitu.
"Sudah ada janji dengan Xavion?"
"Xavion?" Gumam El pelan. Keningnya berkerut heran karena panggilan yang menurutnya itu tidak sopan.
'Apakah memang peraturannya seperti ini? Memanggil calon suaminya dengan nama tanpa ada embel-embel Tuan. Tapi resepsionis tadi memintanya dipanggil Nyonya? Apa dia tidak waras?'
"Iya Xavion calon suami saya. Sudah buat janji?"
"Ada Nyonya," jawab El. Dia bisa melihat senyuman tipis di wajah resepsionis itu saat dia menjawabnya.
'Calon suami? Sepertinya banyak sekali para wanita yang mengakui Xavion sebagai calon suami mereka.' Rasanya El tidak menyukai mendengar wanita di depannya ini menyebut Xavion sebagai calon suami wanita ini. Xavion adalah calon suaminya!
"Nama?"
"Maurelle Anderson." El menunggu dengan tenang di depan wanita itu. Matanya sesekali menatap tubuh Jennifer yang terlihat bak gitar Spanyol. Dia membandingkan dengan tubuhnya yang bak papan, rata depan belakang.
"Nama kamu tidak ada di dalam daftar tamu yang memiliki janji temu dengan calon suamiku. Silahkan pergi."
"Tapi Kak Xavion calon suami El. El juga punya janji dengannya," jawab El. Dia tidak mungkin pergi dan mengabaikan perintah calon suaminya itu. Jelas-jelas Xavion memintanya menunggu di ruangannya jadi dia harus menurutinya.
"Heh ******! Jangan mengada-ngada. Xavion ITU calon suamiku!"
"Aws... Kamu kasar sekali," kata El. Tubuhnya terjatuh ke lantai karena di dorong oleh Jennifer dengan keras. Wanita itu memandangnya dengan tajam dan penuh permusuhan.
"Pergi sekarang! Pengawal seret ****** ini keluar dari perusahaan ini!"
Dua orang pengawal masuk dan memegang kedua lengan El dengan erat. El di seret oleh kedua pengawal itu. Rasanya sakit sekali karena kedua pria itu mencengram erat sekali pada lengannya yang kecil itu.
__ADS_1
Sebutir air mata lolos dari mata El. Dia merasa lengannya sakit luar sekali karena cengkraman ke dua pengawal itu. Mereka seakan tidak merasa kasihan sedikitpun padanya.
"Dengar ******, Jangan pernah kembali kesini lagi dan mengaku sebagai calon istri Xavion. Xavion hanya punyaku!"
"Sakit," rintih El. Kedua pipinya diapit oleh Jennifer. Bahkan dia merasakan kuku wanita itu menusuk pipinya. Belum lagi lengannya masih dicengkram semakin kuat.
Tubuh El dilempar begitu saja keluar perusahaan Xavion. Lutut dan telapak tangannya tergores hingga mengeluarkan darah. Rambutnya yang dia kuncir rapi kini berantakan. Bagian lengan cardigannya sedikit robek karena dirobek dengan dengan sengaja oleh Jennifer.
El menangis pelan, dia terduduk di depan perusahaan Xavion dengan keadaan sangat memprihatinkan. Tubuh dan hatinya sangat sakit saat mendapatkan perlakuan kasar seperti ini. Seharusnya Xavion mengatakan jika orang-orang di perusahannya begitu jahat. Apa salahnya? Dia datang atas permintaan Xavion sendiri.
"Hallo?" ucap El sesegukan. Dia mengangkat panggilan telepon di smartphonenya tanpa melihat nama penelepon.
"Menangis?"
"Kak Xavion?" cicit El pelan. Dia akhirnya melihat nama yang muncul di layar smartphonenya. El kembali mengeluarkan airmata dengan deras setelah mendengar suara calon suaminya itu.
"Kenapa menangis? Dimana?"
"Di depan Kak. El mau pulang, El takut."
"SIALAN!" Panggilan teleponnya di matikan oleh Xavion membuat El semakin menangis dan takut. Dia berpikir bahwa calon suaminya marah padanya.
Tidak lama El merasa tubuhnya diangkat. Dia mendongak melihat wajah datar Xavion yang tengah menggendongnya. Bibirnya terkatup rapat, berusaha meredam suara tangisannya meski airmatanya terus mengalir begitu saja tanpa bisa menahannya.
Dia melingkarkan tangannya di leher calon suaminya saat calon suaminya melangkah ke dalam perusahannya. Dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang calon suaminya itu. Tubuhnya gemetaran saat mendengar suara Jennifer yang menyapa Xavion.
"Tuan Xavion? Kenapa Anda menggendongnya ****** i... arrghh." Jerit Jennifer saat tubuhnya di tendang dengan keras oleh Xavion. Wanita itu menatap takut kearah wajah datar bosnya yang menatap tajam kearahnya.
"Bereskan!" Perintah Xavion. Lima pengawalnya menunduk dan melaksanakan perintah sang tuan yang kini tengah diliputi amarah.
Xavion melangkah ke lift khusus yang membawanya ke lantai paling atas tempat ruangannya berada. Dalam hatinya, dia menyesali atas kecerobohannya itu. Harusnya dia meminta seorang pengawal untuk menjeputnya kelinci kecilnya atau meminta supir mengantarkan kelinci kecilnya yang ada di gendongannya ini.
__ADS_1
Melihat tubuh El yang bergetar serta penampilannya yang berantakan membuatnya sangat marah. Berani sekali orang-orang rendahan itu melakukan hal kejam seperti ini pada kelinci kecil kesayangannya. Dia akan membalas mereka semua dengan lebih menyakitkan dari apa yang di dapatkan oleh calon istrinya ini.
'Tunggu saja pembalasannya!'