Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam

Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam
18. Diavolo


__ADS_3

"Selamat lagi, Bee."


Sapaan Xavion terdengar di seluruh kamar itu. Pria tampan itu tersenyum menyambut istrinya yang baru saja membuka matanya. Tangan pria itu mengelus kepala istri kecil kesayangannya itu dengan lembut.


El membalas senyuman pria tampan itu. Pipinya gadis cantik itu muncul rona merah karena tanpa sengaja bertatapan dengan suaminya itu. Gadis itu berusaha untuk tidak mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Lima detik, sepuluh detik, lima belas detik El masih bisa bertahan untuk menatap suami tampannya itu. Di detik ke dua puluh gadis itu memutus kontak mata dengan suaminya. Dia tidak bisa menatap suaminya terlalu lama karena jantungnya serasa ingin keluar dari tempatnya karena berdetak dengan cepat dan rona di pipinya semakin memerah seperti kepiting rebus.


"Permulaan yang bagus, Bee." Puji Xavion. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis saat melihat istri kesayangannya mengalihkan tatapannya dengan pipi yang merah merona. Pria bermata abu-abu itu menghargai usaha kelinci kecilnya yang bisa bertahan beberapa detik untuk menatapnya. Tidak masalah, nanti semakin lama istrinya itu akan semakin terbiasa.


"Kapan kita pulang, Kak?" Tanya El. Gadis cantik itu menempelkan wajahnya pada dada bidang suaminya untuk menikmati detak jantung milik Xavion. Ternyata jantung pria itu juga berdebar dengan cepat, sama dengan miliknya meskipun miliknya terasa lebih cepat.


"Tidak suka disini?"


"suka, Kak. Tapi bagaimanapun rumah sendiri adalah tempat terbaik." Jawab El seraya memaikan kancing piyama Xavion. Yeah kemanapun dia pergi, rumah sendiri adalah tempat pulang ternyaman.


Samakah kalian dengan El? Kemanapun atau sejauh apapun dia pergi maka rumah adalah tempat pulang terbaiknya. Senyam atau seindah apapun tempat itu, tidak akan bisa mengalahkan nyaman rumah sendiri.


"Mau pulang setelah sarapan?"


"Mau, Kak." Jawab El cepat.


Xavion terkekeh pelan mendengar istrinya menjawab dengan cepat dan antusias. Padahal tempat ini nyaman seperti mansion mereka, tapi kelinci kecilnya itu merasa bahwa mansion tempat yang paling nyaman baginya.


"Baiklah. Kamu mandi dulu, Bee. Aku akan memesan sarapan untuk kita."


El mengangguk sebagai jawaban atas ucapan suaminya itu. Gadis kecil itu bangun dan merapikan ranjang mereka. Setelah itu, dia masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan rutinitas yang harus dia lakukan di pagi hari.


Sementara Xavion meraih ponselnya untuk memesan sarapan supaya di antar ke kamar mereka. Dia melangkah menuju sofa yang ada di kamar itu, mengecek email masuk dengan tab miliknya sambil menunggu istrinya selesai mandi.

__ADS_1


Tringgg... Tringgg... Tringgg...


Ponsel milik pria tampan itu berdering. Mata abu-abunya melirik ID penelpon itu. Nama James Smith terpampang sebagai pelaku yang membuat ponselnya berdering.


"Ciao Imperatore." Sapa orang yang menelponnya saat panggilan itu dijawab oleh Xavion. Dia tetap fokus pada email yang berisi pekerjaannya yang telah di kirim oleh sekertarisnya. Pria itu hanya berdehem pelan sebagai jawaban sapaan yang dilontarkan oleh tangan kanannya itu.


"Anda tidak bisa pulang ke mansion sekarang, Imperatore. Jalan menuju mansion diserang. Diavolo sedang membereskan mereka."


"Sejak kapan?" Tanya Xavion dengan suara dingin. Pria itu masih fokus dengan tabnya, dia sedang mengecek beberapa dokumen kerjasama dari klien luar negeri.


"Tadi Pagi Imperatore. Mereka bersembunyi di hutan dekat jalan raya. Salah seorang Diavolo menemukan salah satu dari mereka. Kami menyergap mereka namun ada beberapa yang melarikan diri. Saya akan memberitahu Anda jika situasinya sudah akan untuk Anda dan Imperatrice pulang."


"Sebelum pukul sebelas semua sudah aman!" Perintah Xavion. Pria itu meletakan tabnya setelah selesai memeriksa seluruh email masuk.


"Kak, bisa El minta tolong?" Teriak El dari dalam kamar mandi. Pria tampan itu mengangkat kepalanya. Mata abu-abunya memandangi pintu kamar mandi yang mulai terbuka lalu kepala kelinci kecil kesayangannya itu muncul disana. Pria itu memandangi istrinya dengan tatapan bertanya.


"Ciao Imperatrice!" Sapa James dari seberang telpon. Tangan kanan Xavion itu mendengar suara sang permaisuri milik kaisar mereka dan menyapanya menggunakan Bahasa Italia.


[Imperatore : Kaisar dan Imperatrice : Permaisuri]


"Dia menyapamu, Bee." Jawab Xavion saat melihat tatapan bertanya dari istrinya itu. Pria itu terkekeh melihat wajah kebingungan milik kelinci kecilnya yang terlihat menggemaskan di mata Xavion.


"Hallo juga." El menjawab dengan sedikit berteriak supaya terdengar oleh si penelpon itu. Gadis kecil itu tersenyum saat menerima handuk berwarna pink yang diberikan oleh suaminya.


"Terima kasih."


Xavion kembali ke sofa tempatnya duduk tadi. Dia meraih ponselnya dan meletakkan di telinganya.


"Dengar perintahku?"

__ADS_1


"Ya Imperatore. Saya pastikan sebelum pukul sebelas jalan menuju mansion sudah aman dan Anda dapat kembali ke mansion dengan nyaman, Imperatore." Xavion tidak berniat menjawab perkataan tangan kanannya itu. Pria itu menutup telepon mereka sepihak.


Ting-tong...


Bell kamar mereka berbunyi. Pria itu membuka pintu kamar mereka, seorang pelayan membawa bungkusan makanan pesanannya. Dia memberikan tips pada pelayan yang telah mengatar makanan mereka.


"El sudah mandi, sekarang Kak Xavion yang mandi."


"Hmm... Makanlah dulu jika sudah lapar. Tidak perlu menungguku." Xavion mencium kening sang istri sekilas lalu masuk ke kamar mandi.


El melangkah menuju meja rias untuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan hair dryer. Gadis cantik itu duduk di depan cermin dan memandangi wajahnya di cermin. Setelah rambutnya kering, El menyisir dan mengikat rambutnya seperti ekor kuda.


Perhatian gadis cantik itu kini tertuju pada kantong plastik yang ada di atas meja. Ada sekitar tiga kantong plastik dengan isi yang berbeda-beda. Kantong plastik pertama berisi burger nasi, dan ayam, kantong kedua berisi berbagai macam minuman, dan yang terakhir berisi berbagai macam makanan ringan dan potongan buah yang di kemas dengan bagus dalam box plastik.


El mengambil dua piring di dekat meja itu, lalu mengisinya dengan nasi dan ayam. Lalu menyusun dua burger, mengeluarkan minuman dan menata dengan rapi di meja. Tidak lupa buah-buahan juga di tata rapi di atas meja bersama dengan makanan lainnya. Untuk makanan ringan dia letakan di sofa karena meja penuh dengan makanan lainnya.


Gadis itu bersandar pada sofa seraya menunggu suaminya selesai mandi. Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok pria tampan yang sedari tadi di tunggu oleh El. Mata gadis itu memandangi rambut suaminya yang masih basah.


"Belum makan?" Tanya Xavion. Pria itu mendekat pada istrinya yang duduk sambil mencuri pandang kearahnya. Tangan pria itu mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil.


"Nunggu, Kakak."


"Ayo makan kalau begitu."


"Kak Xavion tidak pakai baju dulu? Nanti masuk angin, Kak." Ujar El. Gadis cantik itu mengambil makanan untuk suami tampannya itu.


"Tidak perlu, aku lapar." Xavion menghantungkan handuk kecil itu pada lehernya. Pria bermata abu-abu itu memandangi istrinya yang kesusahan membuka tutup botol air mineral. Dengan sigap Xavion mengambil botol itu dan membantu membuka tutupnya.


"Terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2