Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam

Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam
28. Menggemaskan 2


__ADS_3

Mata abu-abunya menatap tajam ke wanita yang kini menangis dan memegangi tangannya yang terluka. Bahkan pisau itu masih menancap di lengannya karena tidak ada yang membantunya melepaskan benda tajam itu. Xavion menunduk untuk melihat istri kesayangannya itu, lebih tepatnya penasaran dengan ekspresi yang di keluarkan istri kecilnya itu. Hukuman wanita jal*ng itu tergantung bagaimana istri kecilnya berekspresi.


El mendongak saat merasakan tubuh suaminya sedikit bergerak. Matanya bertemu dengan manik abu-abu milik Xavion lalu secara refleks dia menundukkan karena kaget dan malu. Rona merah menjalar di wajahnya hingga membuatnya seperti kepiting rebus.


"Apa yang kalian tunggu?" Teriak Xavion marah. Sepertinya perintah yang dia ucapkan tadi sudah cukup jelas. Namun, kenapa mereka masih berada di ruangan ini?


"Calm down, Kak. Jangan marah. Mereka kaget sama seperti El," ucap El pelan. Dia mengubah posisi tubuhnya menjadi miring dan meletakkan kepalanya di dada bidang Xavion. Dia mengusap dada bidang Xavion, berniat untuk menenangkan pria itu.


James langsung menyeret wanita malang itu keluar dari dalam ruangan tuannya. Mari kita ralat, dia sama sekali tidak merasa kasihan pada wanita itu setelah melihat pakaian yang dikenakannnya dan juga wanita itu hampir menghina sang ratu. Wajar jika sang tuan murka bahkan meleparkan pisau ke wanita itu. Dan jika dia tidak segera keluar dari ruangan ini, maka sudah bisa dipastikan dia akan menjadi korban selanjutnya.


James juga menyeret Ben yang masih kaget dengan tindakan tuannya itu. Dia tidak mau repot untuk membereskan mayat Ben, jika sampai tuannya murka karena mereka tidak segera keluar dari ruangan itu. Apalagi melihat sang tuan yang menyentuh glock kesayangannya meskipun matanya menatap pada sang ratu. Akan lebih aman jika mereka segera keluar.


"Calm down, Kak. Jangan marah. El kaget... KAK!" El menjerit kaget saat tubuhnya diangkat dan didudukkan di atas meja. Gadis kecil itu membuka pahanya untuk membiarkan Xavion memeluk perutnya erat.


"Maaf." Xavion menenggelamkan wajahnya di perut El. Untuk pertama kalinya emosinya yang sudah ada di puncak malah menghilang dengan mudah hanya dengan sentuhan lembut El di dadanya. Dia sendiri tidak menyangka jika dia bisa tenang dengan mudah. Bolehkah dia memanfaatkan hal ini?

__ADS_1


Xavion tersenyum kecil saat memikirkan sebuah ide gila di kepalanya. Beruntungnya dia memiliki El yang sangat penurut dan polos. Namun, dia juga harus membuat istrinya belajar untuk tidak sembarangan mempercayai orang lain selain dirinya dan sang ibu sejak saat ini. Bisa berbahaya jika seandainya El dengan mudah percaya kepada orang lain yang dianggap baik olehnya.


Istri kecilnya itu pasti akan menurutinya jika dia mengutarakan apa yang sedang dia pikirkan. Dia melihat seberapa penurut El, sudah jelas kelinci kecilnya itu akan dengan mudah menuruti ucapannya tanpa bertanya apapun. Perlukah dia mengatakannya sekarang?


"Kamu takut, Bee?"


"Sama Kak Xavion? Enggak takut, El hanya kaget saja. Mama mungkin El takut sama suami El sendiri," jawab El lembut. Dia mengusap lembut rambut suaminya sambil tersenyum penuh kasih di wajahnya. Dia tau, menikah dengan mafia seperti Xavion akan membuat hidupnya berada dalam bahaya setiap waktu dan juga hidup di lingkungan yang di penuhi senjata dan darah. Meskipun Xavion baru mengatakan siapa dirinya setelah menikah, tapi El sudah siap dengan segala konsekuensinya.


Kalau disuruh jujur. Jujur saja El sedikit takut melihat perempuan tadi ketika lengannya berdarah karena tusukan pisau dari suaminya itu. Meski takut, El berusaha untuk menagatasinya karena itu adalah resiko menjadi istri seorang mafia. Bisa saja suatu hari nanti dia akan melihat hal yang lebih mengerikan dari ini. Dia harus mempersiapkan dirinya supaya tidak menjadi beban bagi suaminya.


El terlalu banyak diberikan sesuatu yang berharga dalam hidupnya oleh Xavion dan ibu mertuannya. Mereka memberikannya makanan yang enak, fasilitas mewah, uang yang tidak akan habis, pelayan yang siap melayaninya, tempat tidur yang empuk, dan yang paling penting adalah keluarga yang sangat menyayanginya. Suami dan ibu mertuanya memberikan kasih sayang yang diinginkannya sejak dulu. Dia akan melakukan apapun untuk membalas apa yang telah mereka berikan padanya.


Meski setiap kali Xavion memasang wajah datarnya, tapi dia memberikan perhatian dan cinta setiap hari. Walaupun dia tidak mengatakan perasaannya secara langsung tapi El bisa melihatnya dari setiap tindakannya.


"Tidak takut padaku?" Tanya Xavion. Dia melepaskan pelukannya lalu mendongakkan kepalanya untuk bisa menatap El yang sedikit lebih tinggi darinya karena duduk di meja. Mata abu-abunya menatap dengan datar istri kecilnya yang sekarang menunduk tidak berani menatapnya.

__ADS_1


El sendiri jadi gelagapan saat Xavion tiba-tiba menatapnya dengan datar. Sepertinya dia salah bicara tadi, mana mungkin dia tidak takut pada Xavion yang tiba-tiba menatap datar seperti ini. Maksud perkataannya adalah dia tidak takut saat Xavion marah seperti tadi karena dia harus menjadi air yang memadamkan api.


'Apa Kak Xavion salah paham? Bagaimana caranya dia menjelaskannya?'


"Tidak takut?" Tangan Xavion meraih dagu El dan sedikit mengangkatnya agar dia bisa menatapnya.


"Omg, kau menggemaskan Bee! Sangat menggemaskan!"


Xavion menarik kepala El sedikit turun lalu menempelkan bibir mereka.


"Aku rapat dulu Bee, kamu tunggu disini. Kalau mengantuk tinggal tidur di kamar, ponsel ada di meja kalau kamu mau main ponsel, di kamar ada beberapa camilan kalau mau yang lain panggil James di depan pintu. Jangan keluar dari ruangan tanpa aku, mengerti?"


Xavion mendudukkan El di kursi kebesarannya. Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis, sangat tipis sampai tidak bisa disebut dengan senyuman. Mata abu-abunya menatap El dengan mata penuh peringatan. Ketika istri kecilnya itu hanya memakai kemeja putih kebesaran miliknya dan pakaian dalam saja. Dia tidak ingin membagi pemandangan indah itu pada orang lain.


Xavion bukan pria baik yang akan membagi keindahan istrinya pada semua orang. Semua orang hanya perlu melihat istri kecilnya yang cantik dengan tampilan sopan bukan seperti saat ini. Miliknya hanya untuk dilihat oleh dirinya sendiri. Dia tidak suka berbagi, sangat amat tidak suka.

__ADS_1


"Iya, aku akan diam di sini Kak." Jawab El dengan lembut. Dia tersenyum dengan lebar untuk menenangkan suaminya untuk tidak khawatir padanya. Lagipula, dia tidak mengenal siapapun di kantor ini jadi dia tidak bisa pergi kemanapun.


__ADS_2