Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam

Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam
17. Mencoba Lebih Berani


__ADS_3

Xavion hanya menerima kamar yang katanya bonus itu saat melihat istri kecilnya kelelahan. Pria pemilik manik abu-abu itu awalnya akan membawa istri kesayangannya pulang ke mansion mereka tapi raut letih milik istrinya itu yang membuat dia mengurungkan niatnya. Dia tau jika service kamar terbaik ini semacam batu loncatan dari pemilik hotel supaya Xavion menyetujui kerjasama mereka.


Pekerjaan urusan nanti, yang terpenting istrinya harus istirahat terlebih dahulu.


"Butuh bantuan?" Tawar Xavion. Mata abu-abunya menatap sang istri yang sedari tadi duduk di meja rias melepaskan aksesoris rambut dan menghapus makeup yang menempel di wajahnya. Dia mendekat saat melihat istri kecilnya itu kesusahan meraih resleting gaunnya itu.


"Tolong Kak, tangan El tidak bisa mencapai resleting gaun ini."


El secara refleks menahan nafas ketika merasakan tangan suaminya menyentuh punggungnya. Tidak, bukan punggung tapi resleting gaun pengantinnya. Gadis cantik itu menelan saliva dengan susah payah ketika merasa resleting gaunnya diturunkan perlahan oleh Xavion. Jari pria itu menyentuh punggungnya yang tanpa sehelai benangpun.


Kedua tangan El secara refleks menahan gaun bagian dada supaya tidak melorot saat resletingnya dibuka. Perlahan gadis itu berbalik menghadap suami tampannya yang sedang menatap dengan wajah datarnya itu. Sedikit berjinjit, gadis itu mengecup pipi suaminya secepat kilat.


"Terima kasih Kak. El mandi dulu," pamit gadis itu.


"Gaunnya dibawa masuk ke kamar mandi?" Tanya Xavion. Pria itu bingung karena istrinya tidak melepas gaun itu. Dengan bentuknya yang panjang, pria tampan itu sangsi gaun itu akan membuat istrinya kerepotan di kamar mandi nanti. Dimana istrinya itu akan meletakan gaun itu saat dirinya mandi?


"Emm, El..."


"Aku paham. Lepaskan disini saja. Aku akan berbalik sampai kamu masuk ke kamar mandi, Bee." Xavion langsung membalikkan badannya, membiarkan sang istri melepaskan gaunnya itu. Pria bermata abu-abu itu paham jika istrinya pasti malu saat melepaskan gaunnya di depannya.


El menatap punggung kekar suaminya dengan senyuman kecil di bibirnya. Dia sangat beruntung memiliki Xavion Kenzie Alexander sebagai pendamping hidupnya. Pria bermata abu-abu itu sangat pengertian bahkan sebelum dirinya mengatakan keinginannya.

__ADS_1


El perlahan melepaskan gaunnya. Sebenarnya, dia sedikit kebingungan-tidak sedikit, dia kebingungan dimana meletakan gaun pengantin itu saat di kamar mandi nanti. Dia ingin mengatakan bahwa dia malu saat harus membuka gaunnya di depan suaminya. Mereka kan sudah menikah jadi wajar-wajar saja.


Tubuh El kini hanya dibalut dengan pakaian dalam berwarna hitam yang nampak kontras dengan kulit putihnya. Gadis itu belum masuk ke kamar mandi, pendangannya masih menatap punggung suaminya itu. Beberapa kali dia menelan saliva secara kasar saat ingin mengatakan sesuatu pada suaminya itu.


"Kak, mau mandi barsama?" Bisik El pelan. Meski pelan namun dia yakin suami tampannya dapat mendengar ucapannya karena kepala pria itu sedikit menoleh ke samping namun tidak sampai melihatnya. Kedua tangan gadis itu saling bertautan karena gugup.


Gadis cantik itu mencoba memberanikan dirinya untuk mengajak suaminya mandi bersama. Sekarang mereka sudah menjadi suami-istri, sang mommy mertuanya mengatakan jika mereka harus semakin dekat dan menghilangkan kecanggungan diantara keduanya. Mommy mertuanya juga mengatakan bahwa dia harus lebih berani menatap suaminya, melayaninya dengan baik. Bahkan mandi bersama seperti ini akan membuat hubungan keduanya semakin dekat dan langgeng.


El ingin lebih dekat dengan suami tampannya itu. Gadis cantik itu melawan semua rasa takut dan malunya supaya bisa lebih dekat dengan pria bermata abu-abu itu. Xavion juga mengatakan supaya dia lebih berani menatap matanya ketika mereka berbicara setelah menikah. El ingin menjadi istri terbaik baut suaminya itu.


"Bee."


'Apa Kak Xavion akan menolakku?' Batin El.


"Kamu yakin dengan ucapanmu itu?"


"Mommy bilang wajar bila suami-istri mandi bersama. Hal itu akan membuat hubungan mereka semakin dekat dan langgeng." Jelas El. Gadis kecil nan cantik itu menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang bersemu merah - lebih tepatnya seluruh wajahnya. Ketika pria itu membalikkan tubuhnya kearahnya.


"El mau lebih dekat dengan Kak Xavion." Cicit gadis kecil itu dengan pelan. Sungguh, dia tidak tau harus apa sekarang. Tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam saja kini terlihat jelas di mata suaminya itu. El sangat malu, dia takut suami tampannya menganggap dia gadis murahan yang mencoba menggodanya.


'Tapi mereka sudah suami-istri kan? Seharusnya hal ini normal kan?'

__ADS_1


"Katakan sekali lagi. Kali ini tatap mataku."


El meneguk salivanya dengan susah payah saat mendengar permintaan sang suami. Gadis cantik itu menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan untuk menenangkan debaran jantungnya yang berdetak dengan cepat. Perlahan gadis kecil itu mengangkat kepalanya untuk dapat menatap suaminya itu.


"Kak, mau mandi bersama?" Ujar El dengan susah payah supaya tidak berbicara terbata-bata. Dia merasa tubuhnya melemas seperti jelly karena saking gugupnya dia.


Xavion menyunggingkan senyuman tipis, sangat tipis hingga sang istri tidak menyadari senyumannya itu. Pria tampan itu cukup kagum dengan keberanian sang istri yang berbicara seraya menatap matanya. Kelinci kecilnya itu benar-benar berusaha memenuhi setiap permintaannya tanpa membantah.


Xavion melangkah dengan langkah lebar menuju istrinya yang kini menatapnya dengan pandangan gugup. Tubuh kelinci kecilnya itu dia gendong ala bridal hingga membuat kelinci kecilnya itu memekik. Secara refleks tangan istri kecilnya melingkar di lehernya supaya tidak jatuh.


Xavion masuk ke dalam kamar mandi, mendudukkan istrinya di atas closet. Pria tampan itu menuju jacuzzi untuk mengisi dengan air hangat dan sabun aroma vanilla. Dia memasukan tangannya untuk memastikan air tidak terlalu panas atau dingin.


Pria bermata abu-abu itu berbalik dan menatap istrinya yang juga menatap kearahnya untuk memperhatikan setiap gerak-gerik yang dia lakukan. Bibir pria tampan itu menyunggingkan senyuman kecil pada kelinci kecilnya yang terlihat sangat cantik.


"Jangan menyesal, Bee. Aku tidak memaksamu untuk mandi bersama jika kamu tidak siap."


"Tidak Kak, Aku tidak menyesal akan hal ini. Aku ingin hubungan kita semakin dekat."


Mereka hanya mandi bersama tidak melakukan hal lain. Karena Xavion tau jika istri kecil kesayangannya itu masih belum siap untuk menyerahkan dirinya pada Xavion. Pria pemilik manik abu-abu itu tidak akan memaksa El untuk berhubungan intim dengannya. Dia takut jika dia memaksanya, Kelinci kecilnya akan trauma atau takut padanya.


'Sabar Xavion. Kamu pasti bisa menahanya sampai kelinci kecil ini membuka hatinya. Tidak akan lama lagi.' Batin Xavion untuk menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2