
"Lucu."
"Hah? Apa Kak?" El bertanya dengan heran saat mendengar suaminya mengatakan kata 'lucu'.
'Apanya yang lucu? El kan sedang bertanya tentang keadaan Kak Xavion tapi kenapa jawabannya tidak nyambung?' Batin El dalam hatinya.
"Kamu lucu memakai kemejaku, Bee." Puji Xavion. Mata pria itu menatap kelinci kecilnya yang menggemaskan saat mengenakan kemejanya itu.
'Apa aku membeli banyak kemeja putih kebesaran untuk dipakai istriku ini? Sepertinya itu bukan ide yang buruk.' Pikir Xavion. Dia merencanakan untuk membeli banyak kemeja untuk di pakai kelinci kecilnya itu.
Sayangnya, kalimat pujian itu malah terdengar seperti teguran di telinga El. Gadis itu mengira bahwa suaminya sedang menegurnya karena dia memakai kemeja milik suaminya itu. Sedangkan Xavion harus bertelanjang dada.
'Haruskah aku melepas kemejanya?' Batin El.
"Apa yang akan kamu lakukan, Bee?" Xavion terkejut saat melihat istri kecilnya itu membuka kancing kemeja bagian atasnya. Dia mencegah tangan istri kecilnya yang akan membuka kancing bajunya. Dengan cepat Xavion mengancing kembali kancing kemeja yang sudah El buka sebelumnya.
Xavion baru saja keluar dari kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya, tidak mungkin dia masuk lagi karena melihat istri kecilnya tidak berbalut pakaian apapun. Lagipula apa yang dipikirkan oleh istri kecilnya ini.
'Apa El berniat menggodaku? Apa mommy mengajar hal-hal aneh lagi?' Batin Xavion.
"Kak Xavion kan meminta kemeja ini. Maaf, karena dress El robek jadinya El pakai kemeja kakak tanpa ijin. Kakak jangan marah."
__ADS_1
'Marah? Siapa? Xavion? Dimana letak marahnya? Dia bahkan memuji istri kecilnya itu lucu saat memakai kemejanya karena itu memang yang dirasakannya saat melihat istrinya tenggelam di balik kemejanya yang besar. Ukuran tubuh keduanya yang berbeda jauh jelas membuat kemeja itu tenggelam dalam tubuh mungil istri kesayangannya. Dia malah suka melihat istrinya yang terlihat menggemaskan, bukan marah.
Memang siapa yang bisa marah melihat gadis di depannya ini? Apalagi dengan tatapan polosnya. Rasanya Xavion ingin mencongkel mata istrinya saking menggemaskannya.
"Gadis bodoh," ujar Xavion. Dia menyentil pelan kening istri kecilnya lalu tertawa kecil. Dia melangkah menuju lemari pakaian kecil yang ada di kamar itu. Karena seringkali lembur dan menginap disini, dia memiliki beberapa pasang pakaian disini. Jika kemejanya dipakai istri kecilnya itu, jelas dia punya yang lain untuk dipakai. Tidak mungkin meminta gadis konyol itu membuka kemejanya dan membiarkannya hanya mengenakan pakaian dalam saja.
Seandainya tidak memiliki pakaian pun pria itu tetap bisa meminta sekertarisnya membelikan pakaian untuknya tanpa perlu membuat istrinya melepaskan pakaiannya. Dia bisa gila jika memang melakukan itu pada gadis yang berhasil membuatnya tertarik pada pandangan pertama ini.
Xavion meraih sebuah kemeja berwarna putih dari lemari pakaian dan memakainya di depan El yang sedang menatap lekat padanya, menegaskan jika El tidak perlu melepaskan kemeja yang sedang dia pakai. Xavion menatap lekat tubuh istri kecilnya yang mengenakan kemejanya, perlukah dia menyuruh sekertarisnya membelikan baju untuk gadis cantik itu?
Sepertinya tidak perlu karena lebih baik keluar ruangan dengan keadaan El hanya menggunakan kemeja itu kan? Biarkan saja jika ada karyawan kantornya yang memikirkan hal yang lain karena melihat kelinci kecilnya keluar hanya dengan kemeja miliknya saja.
"Disini dulu ya? Temani aku bekerja."
El mengikuti langkah Xavion karena tangannya digenggam oleh suami tampannya itu. Xavion membawanya menuju kursi kebesaran miliknya. El didudukkan di pangkuan Xavion. El menatap laptop Xavion yang menampilkan entah apa itu namanya, dia tidak mengerti. Xavion menaruh kepalanya di atas pundak El.
El sendiri hanya bisa diam memperhatikan suaminya yang sedang mengerjakan pekerjaannya.
'Apa Kak Xavion tidak merasa berat saat memangkunya?' Gumam El dalam hatinya.
"Permisi Tuan Xavion, ada yang harus An..."
__ADS_1
"Dimana sopan santunmu! Hah?" Sentak Xavion marah. Dia menatap tajam ke pada sosok perempuan yang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.
'Sialan! Dari mana James mendapatkan asisten jal*ng seperti ini?' Batin Xavion kesal.
Kemeja perempuan itu sang at ketat di tubuhnya dengan bagian leher rendah dan sedikit memperlihatkan dadanya. Xavion mengerutkan keningnya ketika melihat perempuan itu mengenakan rok ketat setengah paha. Seingatnya dia sudah membuat peraturan untuk tidak memakai rok di atas paha untuk setiap karyawan perempuan.
'Satu ****** lagi!' Batin Xavion kesal. Dia memang memiliki dua sekertaris untuk membantu Ben dalam pekerjaannya karena sekertarisnya satu itu seringkali menggantikannya rapat saat dia ada pertemuan penting. Dia merasa sepertinya dua orang sekertaris akan lebih baik tapi ini sudah ke sekian kalinya dia mendapatkan sekertaris kedua modelan jal*ng seperti ini.
Sebelum perempuan ini, ada juga beberapa sekertaris yang bekerja lebih dulu. Xavion memecat mereka semua dengan alasan yang sama, menggodanya dengan menampakkan sebagian tubuh mereka. Dia bahkan membuat peraturan tentang pakaian yang harus digunakan tapi kebanyakan dari mereka melanggar peraturan itu. Pernah ada seorang sekertaris yang lumayan baik menurutnya tapi malah menggodanya dengan berpura-pura terjatuh hingga menampilkan isi dalam roknya yang tidak ditutupi apapun.
'Sialan! Kenapa para perempuan itu tidak seperti istriku yang pemalu dan menggemaskan? Kenapa harus bersikap murahan? Sepertinya aku harus tegas pada Ben agar tidak asal memilih sekertaris.'
"Seret perempuan sialan ini, James!"
Xavion menekan tombol di mejanya yang bisa terhubung langsung dengan James. Rahang pria tampan itu mengeras karena marah dengan tatapan tajam, yang membuatnya marah adalah karena perempuan ****** sialan ini menatap istri kecilnya dengan tatapan sinis. Berani sekali dia melihat miliknya yang berharga seperti itu.
Tidak lama James masuk ke ruangan lalu menunduk hormat pada Xavion. Dia dengan cepat menundukkan kepalanya ketika melihat sang ratu tengah berada di pangkuan tuannya. Sudah menjadi aturan tidak tertulis yang ditegaskan tuannya, tidak ada yang boleh menatap kearah mereka saat sepasang suami-istri itu sedang bersama.
"Tuan..."
"KELUAR!" Perintah Xavion memotong ucapan Ben yang baru saja masuk ke ruangan Xavion. Ben menatap James yang juga menatapnya, dia memberikan kode lewat pandangan mata yang hanya di mengerti oleh mereka berdua.
__ADS_1
"Tuan Xavion jangan mengusir saya. Saya bisa memeberikan kepuasan kepada Anda lebih dari wanita jal... Arrghh!" Perempuan itu menjerit keras saat sebuah pisau lipat kecil melayang dan menusuk lengan kanannya. Benar, pisau itu dilemparkan oleh Xavion tepat sebelum wanita sialan itu menghina istri kecilnya. Siapapun tidak diijinkan menghina kesayangannya apalagi di depan gadis kecil yang sedang meringkuk dalam pelukannya ini.