
"Lapar?"
El menoleh kearah calon suaminya yang tengah fokus menyetir. Merasa diperhatikan, Xavion melirik dengan ujung matanya kearah kelinci kecilnya itu. El menggelengkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaan yang diberikan calon suaminya itu.
Xavion menaikan sebelah alisnya ketika mendengar jawaban dari calon istrinya. Mereka belum makan karena kejadian di perusahannya tad.
'Apa kelinci kecilku ini tidak lapar?' Pikir Xavion.
Tapi bukan Xavion namanya jika meminta ijin terlebih dahulu. Dia membawa El ke sebuah restoran mewah yang ada di tengah kota. Dia melepas seatbelt dan melihat dengan ujung matanya ke El yang sedang menatapnya.
"Kenapa?" Tanya Xavion. Pria pemilik mata abu-abu itu memiringkan tubuhnya hingga dia bisa menatap calon istrinya yang malah menunduk menghindari tatapannya.
"Tidak ada, Kak."
"Ayo keluar," ujar Xavion. Pria tampan bak dewa Yunani itu melangkah keluar mobil dan berjalan memutar untuk membuka pintu mobil untuk calon istrinya. Kelinci kecil kesanyangannya itu baru saja terluka jadi dia akan kesulitan berjalan. Jadi, dia menggendong calon istrinya itu.
"Kak Xavion, El jalan sendiri saja." Tolak El saat calon suaminya menggendongnya. Dia akan merasa sangat malu jika masuk ke restoran elit itu dalam gendongan Xavion. Di dalam sana pasti banyak orang yang mengenal Xavion mengingat dia adalah CEO muda yang paling diincar untuk dijadikan menantu mereka.
Sebenarnya tidak mengherankan jika melihat betapa tampannya pria itu. Belum lagi perusahaan raksasa miliknya yang tersebar di berbagai penjuru dunia. Memang pantas jika banyak pengusaha yang ingin menjodohkan putri mereka dengan pria bermata aba-abu itu. Selain untuk kerjasama, putri dan calon cucu mereka pasti akan terjamin kehidupannya nanti.
Sayangnya pilihan Xavion malah jatuh pada gadis yatim piatu miskin sepertinya. El merasa kurang percaya diri karena pikiran konyolnya sendiri. Jika dibandingkan dengan putri kolega bisnis Xavion, dia pasti kalah dalam segi apapun. Hal itu membuatnya merasa bahwa dia tidak pantas untuk berdiri di samping seorang Xavion Kenzie Alexander.
"Auwww..." Keluh El saat merasakan keningnya disentil pelan oleh Xavion. Dia melirik calon suaminya yang memasang wajah dingin kearahnya.
'Apa aku mengabaikan calon suami tiranku ini? Apakah aku menyinggungnya? Bagaimana ini?' Batin El gelisah karena sudah mengabaikan Xavion.
"Kak, gendong. Kaki El sakit." Ucap El memelas.
Hanya ini jalan satu-satunya yang El miliki adalah bersikap manja. Semoga saja calon suaminya itu luluh dan melupakan sikap tidak sopannya tadi. Dia tidak berniat mengacuhkan calon suaminya itu.
"Oke," jawab Xavion. Pria itu mengangkat tubuh kecil calon istrinya itu. Tidak ada wajah tertekan atau bagaimana karena tubuh mungil calon istrinya itu terasa sangat ringan. Dia berpikir bahwa dia harus memperhatikan pola makan kelinci kecilnya agar tubuhnya lebih berisi.
__ADS_1
Xavion tidak tau apa yang dipikirkan oleh calon istrinya sedari tadi hingga membuatnya melamun dan mengabaikannya. Tapi, dia tidak perduli apapun itu, Xavion merasa dirinya sangat beruntung karena dapat menggendong calon istrinya itu.
Sebenarnya, Xavion sengaja menggendong El seperti ini, hanya untuk menunjukkan pada semua orang yang ada di restoran itu bahwa dia telah memiliki calon istri yang sangat cantik dan menggemaskan. Dia sangat muak dengan kolega bisnisnya yang selalu menyodorkan putri mereka untuk menjadi istrinya.
Xavion tidak mau menikah dengan j*lang yang selalu menjajakan tubuhnya atau memamerkan tubuh sexy mereka. Dia lebih senang dengan gadis cantik yang penurut dan lemah lembut seperti El. Lebih tepatnya, dia hanya ingin El menjadi istrinya bagaimanapun sifatnya.
Sungguh kebetulan yang luar biasa karena gadis itu berwajah cantik dan juga dilengkapi sikap penurut dan pemalu yang membuatnya tertarik pada pandangan pertama. Selama ini, Xavion sangat jarang merasakan ketertarikan semacam ini pada perempuan sehingga membuat Mommynya mengira dia tidak normal dan mencari sendiri calon istri untuknya.
Xavion sangat tidak senang dengan tiga perempuan yang dibawa oleh sang mommy. Dia memberitahu mommynya bagaimana kriteria untuk istrinya, karena hal itu El yang terpilih menjadi istrinya. Dia tidak perduli siapa dia, apa statusnya, bagaimana latar belakangnya, Xavion akan tetap menjadikan Maurelle Anderson sebagai calon istrinya.
Pria bermata abu-abu itu mendudukkan calon istrinya di kursi ruangan VVIP. Dia sengaja memilih ruang VVIP karena tidak ingin diganggu dan membuat kelinci kecilnya risih saat dilihat oleh para pengunjung restoran itu. Ruangan privat ini lebih nyaman untuk mereka berdua.
"Ingin makan apa, Love?"
"Emm... El mau steak dengan kematangan well done, jus jeruk dan air minelar, Kak."
"Oke. Seperti apa yang dikatakan istriku tadi, dua porsi." Kata Xavion.
'Kenapa tidak makan disana?'
"Tidak suka disini?" Tanya Xavion. Dia akan pindah dari ruangan ini jika membuat kelinci kecilnya tidak suka.
"El suka. Disini nyaman, Kak. Hanya saja kenapa makan disini? Kenapa tidak diluar saja?"
"Disini lebih tenang." El menganggukkan kepalanya seolah mengerti maksud calon suaminya itu. Xavion lebih suka berada di kegelapan dan kesunyian jadi dia pasti akan memilih ruangan privat walaupun hanya untuk makan.
Xavion tersenyum melihat kelinci kecilnya mengangguk seolah mengerti maksudnya. Dia yakin jika gadis yang ada di depannya ini tidak mengerti apa yang dia maksud. Sebenarnya, dia memilih ruangan ini hanya untuk membuat calon istrinya merasa nyaman saat makan.
Jika diluar pasti ada banyak tatapan penasaran bahkan bisa saja beberapa orang akan menghampiri mereka. Dia tidak ingin kelinci kecilnya terganggu karena kedatangan para orang bod*h itu.
"Love?"
__ADS_1
El fokus pada bunga mawar putih yang berada di tengah meja itu lalu mengalihkan tatapannya pada calon suaminya. Dia menunduk kembali saat melihat pria bermata abu-abu itu menatapnya dalam. Dia merasa pipinya mulai memanas dan jantungnya berdetak kencang seperti habis di kejar hantu.
"Nanti saja," ujar Xavion saat melihat dua pelayan berjalan mendekat ke ruangan mereka.
Tokk... Tokk... Tokk...
"Masuk." Jawab Xavion. Ketika mendengar jawaban mereka berdua masuk dan meletakkan pesanan keduanya di depan mereka.
"Selamat menikmati, Tuan dan Nyonya. Kami permisi dulu." Ujar salah seorang pelayan.
"Makanlah."
"Selamat makan, Kak."
"Hmm."
Xavion merasa dia sudah gila! Bisa-bisanya dia malah fokus pada bibir merah milik kelinci kecilnya yang terlihat menggoda di matanya.
'Sialan! Kenapa aku gairahku datang saat ini?'
"Kak?" El melambaikan tangan kecil di depan wajah Xavion karena sedari tadi pria itu hanya menatapnya saja. Dia yang di lihat seperti itu membuatnya sangat gugup.
"Apa?" Jawab Xavion setelah menarik kembali kesadarannya.
"Kakak kenapa?"
"Tidak ada, Love."
Obrolan singkat mewarnai kebersamaan mereka, saat sedang menyantap makanan mereka. Dan ditemani oleh pemandangan indah.
__ADS_1