
"Kamu cantik sekali!"
El tersenyum malu saat sang calon mertua memujinya seperti itu. Matanya sesekali melirik kearah calon suaminya melihat bagaimana reaksinya. Dia memunduk saat melihat wajah calon suaminya tidak ada reaksi.
'Apa penampilannya aneh?'
Sementara Xavion melangkah perlahan untuk mendekati kelinci kecilnya dengan tatapan datar. Manik abu-abunya melihat dari atas ke bawah kelinci kecilnya untuk memastikan apa ada hal yang kurang atau ada yang tidak sempurna.
"Bajunya nyaman?"
El mengerjab pelan matanya karena terkejut. Posisi keduanya sangat dekat, dia sedikit tidak terlalu nyaman. Apalagi ada banyak orang di ruangan itu yang sedang menyaksikan apa yang sedang mereka lakukan.
Jantung El berdetak kencang karena posisi mereka terlalu dekat. Belum lagi calon suaminya itu berbisik di telinganya dengan suara yang sensual membuatnya merasa lebih gugup. Dia belum terbiasa berdekatan dengan jarak seintim ini dengan calon suaminya.
"Love?"
"Iya, Kak. Gaunnya nyaman dan tidak terlalu berat. Stylenya juga bagus, El suka." Jawab El pelan. Dia meremas gaunnya erat karena gugup.
'Kapan Xavion menjauhkan tubuhnya dari dekatku?'
"Xavion menjauhlah dari menantu kesayangan Mommy! Mommy tau menantu Mommy sangat canti, tapi jangan terlalu dekat juga! Lihat wajah menantu Mommy sudah seperti kepiting rebus." Kata Carol, Mommy Xavion. Dia menarik putranya menjauh dari El yang masih menunduk dengan wajah memerah.
El menghela nafas lega saat calon suaminya ditarik menjauh dari dekatnya oleh sang mommy. Dia merasa jantungnya berdetak dengan kecang serasa dia baru saja ikut lomba maraton karena dia gugup. Dia berpikir jika Xavion tidak menjauh mungkin dia tidak akan bisa berdiri dengan tegak lagi.
El mengangkat wajahnya dengan pelan untuk melihat wajah calon suaminya sekali lagi. Bibirnya berkedut menahan senyuman saat mendapati senyum tipis di wajah calon suaminya itu serta mengangguk kecil. Dia merasa wajahnya kembali terasa memanas saat membaca gerakan bibir calon suaminya.
'Cantik.'
"El suka bajunya, Sayang? Atau ada yang kurang nyaman? Suka dengan bentuknya? Atau ada yang perlu di rombak atau di tambah?" Tanya Carol pelan. Dia mendekati calon menantunya yang sangat cantik memakai gaun yang putranya pilih. Selera seorang Xavion Kenzie Alexander memang tidak usah diragukan lagi.
"El suka gaunya, Mom. Tidak berat dan modelnya juga cantik."
__ADS_1
"Baiklah. Kita ambil yang ini aja? Setelah itu, kalian mengambil cincin, Mommy tidak ikut dengan kalian soalnya sudah diminta pulang sama suami tercintaku."
"Hati-hati, Mom." Kata El sembari mengecup pipi calon mertuanya itu.
"Mari Nona, biar saya bantu mengganti gaunnya."
"Saya saja," ujar Xavion. Dia menghampiri calon istrinya yang terkejut karena ucapannya. Para karyawan butik yang ingin mendekati kearah El menunduk dan dengan perlahan mundur untuk mempersilahkan Xavion membantu calon istrinya mengganti gaunnya.
"Kak," panggil El. Xavion yang sudah menutup tirai ruang ganti menoleh pada calon istrinya dan melihat wajahnya memerah.
"Kakak yakin ingin membantu El?"
"Kenapa?" Tanya Xavion. Dia menaruh tangannya di dalam saku celananya sembari menatap penuh minat pada kelinci kecilnya yang sedang merasa gelisah dan gugup itu. Kelinci kecilnya terlihat menggemaskan dengan wajah memerah dan gerakan tubuh yang terlihat tidak nyaman.
"El, itu emph..."
"Katakan!"
Tidak mungkin calon suaminya itu membantunya mengganti gaun pengantin ini saat dia hanya menggunakan pakaian dalam saja. El malu jika hanya mengenakan pakaian dalam di depan calon suaminya meski mereka akan segera menikah.
'Sangat memalukan,' batin El.
"Lalu?"
El mendongak saat mendengar pertanyaan yang keluar dari calon suaminya itu. Dia tidak sengaja menatap manik abu-abu Xavion yang sedang menatapnya juga dengan pandangan bertanya.
'Apa Xavion tidak malu melihatnku hanya mengenakan pakaian dalam saja?' Pikir El.
Sementara, Xavion menahan tawa melihat kelinci kecilnya yang sedang berpikir dan gelagapan. Dia sengaja menggoda kelinci kecil kesayangannya itu. Sebenarnya, dia tau jika calon istrinya itu akan merasa malu padanya. Lantas kenapa? Bukannya mereka akan menikah jadi tidak masalah dia melihat kelinci kecilnya hanya mengenakan pakain dalam. Apalagi kalau kelinci kecilnya tidak memakai apapun, dia akan merasa lebih senang lagi.
Xavion mendekat pada calon istrinya yang masih setia menunduk itu dengan perlahan. Untuk sekarang kelinci kecil tidak masalah tidak menatapnya, tapi setelah menikah Xavion akan meminta kelinci kecilnya untuk belajar menatapnya. Padahal Xavion suka sekali menatap manik mata El yang terlihat begitu indah. Tidak, bukan hanya manik matanya tapi seluruh yang ada pada kelinci kecilnya sangat menarik baginya.
__ADS_1
"Kau harus belajar menatapku, Love. Tidak sopan saat berbica tapi tidak menatap lawan bicara kita."
"Maaf, Kak. El akan berusaha," ujar El namun masih menunduk. Dia masih belum berani menatap calon suaminya itu.
"Tidak harus sekarang, tapi setelah kita menikah. Aku ingin berbicara sambil bertatapan," jelas Xavion. Dia menyunggingkan senyuman tipis saat kelinci kecilnya mengangguk mengiyakan ucapannya.
"Berbalik."
El dengan patuh memutar tubuhnya membelakangi Calon suaminya itu. Bibir bawahnya dia gigit pelan saat merasakan resleting gaun pengantinya ditarik ke bawah. Dia menahan nafasnya saat tangan besar calon suaminya tidak sengaja menyentuh punggungnya.
Gaun pengantin yang digunakan oleh El terlepas dan terjatuh ke bawah meninggalkan tubuh El. Dia hanya menggunakan pakaian dalam berwarna hitam. Dia semakin gelisah dan gugup saat tangan calon suaminya mengelus punggungnya dengan lembut. Hal itu membuatnya merinding.
"Aku akan membelikan pakaian dalam berwarna hitam, warna ini sangat cocok untukmu, Love."
Xavion menyerahkan pakaian milik kelinci kecilnya itu lalu berbalik membelakangi kelinci kecilnya itu. Dia tidak membiarkan hawa n*fsunya menguasai dirinya saat melihat calon El hanya memakai pakaian dalam saja.
Sementara, El memakai pakaiannya dengan cepat. Dia berbalik dan menemukan calon suaminya sedang memunggunginya. Saat melihat hal itu, dia menyunggingkan senyum kecil. Dia merasa dihargai saat calon suaminya tidak melihatnya terus.
"Kak?"
"Sudah selesai?" El mengangguk sebagai jawaban. Xavion memeluk pinggang calon istrinya dengan erat lalu membuka tirai ruang ganti itu.
Para karyawan butik melotot ketika melihat gaun pengantin mahal itu tergeletak begitu saja di lantai. Pemilik butik yang melihat itu membuat matanya melotot hingga hampir keluar dari tempatnya, karena melihat rancangan khusus miliknya tergeletak di lantai bagaikan sampah tak berguna. Mereka dengan cepat memeriksa gaun itu dengan terinci untuk memastikan tidak ada yang rusak.
Para karyawan butik terlebih pemilik butik tidak berani berkomentar pada Xavion sekalipun ada kerusakan pada gaun itu. Dia terlalu sayang dengan nyawanya, makanya dia hanya bisa menutup mulutnya dengan rapat-rapat. Untunglah, gaun itu tidak rusak sedikitpun, apalagi itu akan dikenakan sebentar lagi. Bisa kacau jika gaun itu ada rusak sedikit.
"Pastikan tidak ada kerusakan pada gaunnya saat hari pernikahan."
"Ba-baik, Tuan."
Atmosfer ruangan yang tadinya mengerikan membuat mereka kesulitan untuk bernafas, kini sudah kembali seperti semula. Semua karyawan butik itu menghela nafas lega saat sang iblis sudah keluar dari ruangan itu. Saat Xavion berjalan keluar butik bersama El.
__ADS_1
'Sungguh mengerikan!' Batin semua karyawan butik itu.