Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam

Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam
11. Saran


__ADS_3

Pilih yang mana?"


El sedari tadi fokus melihat model cincin pernikahan yang ditunjukkan oleh pemilik toko itu lalu menoleh kearah calon suaminya. Gadis cantik itu menggelengkan kepala pertanda dia tidak tau. Semua cincin yang ada di sana terlihat cantik di matanya, dia bingung harus memilih yang mana.


"Tidak suka?" Tanya Xavion. El menggelengkan kepalanya yang Xavion anggap sebagai tanda jika calon istrinya tidak menyukai semua cincin di toko itu. Jika memang kelinci kecilnya tidak menyukai itu semua maka dia akan mencari di toko lain.


"El bingung," cicit El pelan. Dia meraih tangan Xavion untuk mencegah pria itu pergi dari toko itu.


Xavion menatap kearah tangannya yang di genggam oleh sepasang tangan mungil milik kelinci kecilnya. Mata abu-abu pria itu melirik calon istrinya yang menggeleng sambil menggigit bibir bawahnya. Dia paham apa maksud kelinci kecil kesayangannya itu. Tapi, ketika dia melihat El yang menggigit bibir bawahnya membuat sesuatu yang dibawah bangkit dengan gagah.


'Sial! Kenapa dia bangun disaat yang salah.'


Untuk mengalihkan gairahnya, dia berbalik untuk melihat beberapa model cincin pernikahan. Semuanya bagus dan cocok untuk kelinci kecilnya, sebenarnya tidak masalah apapun model cincin itu. Tapi, karena kelinci kesayangannya itu bingung dengan pilihannya mau tidak mau Xavion harus yang memilihnya.


Pilihannya jatuh pada cincin dengan model sederhana yang dihiasi dengan berlian kecil di tengahnya. Tidak terlalu mencolok jika digunakan oleh istrinya, karena kelinci kecilnya itu akan merasa tidak nyaman saat menjadi pusat perhatian karena sebuah cincin.



"Pilihan yang bagus, Tuan. Cincin ini hanya ada satu-satunya di negara ini dan baru datang kemarin. Berlian ini dari berlian termahal di dunia, The Cullinan Diamond. Akan saya antarkan ke alamat yang Anda berikan ketika telah disesuaikan.


"Terima kasih," ucap Xavion. Pria tampan itu memeluk pinggang istrinya dan berjalan keluar dari toko perhiasan itu.


Sebenarnya sang mommy sudah memilih cincin pernikahan untuk mereka, tapi karena Xavion tidak suka dengan pilihan mommynya. Dia menatap horror cincin yang dipilihkan mommynya. Cincin dengan berlian besar ada di tengahnya dan beberapa berlian kecil mengelilingi cincin itu.


Tanpa memikirkan perasaan sang mommy, dia meminta untuk mengganti cincin pilihan mommynya dengan model yang baru. Dia tidak mau kelinci kecilnya merasa tidak nyaman, apalagi berlian besar yang mencolok itu juga pasti akan membuat kelinci kecilnya risih dan tertekan.


"Kak," cicit El. Gadis itu menunduk namun tubuhnya sedikit miring kearah calon suaminya yang baru saja masuk ke dalam mobil.


"Cincinnya terlalu mahal."


"Suka?"

__ADS_1


"Suka, style cincinnya cantik sekali tapi harganya terlalu mahal."


"Tapi kamu menyukainya, kan?" Tanya Xavion. Pria tampan itu melihat kelinci kecilnya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaannya.


"Kamu menyukainya. Itu adalah hal yang paling penting. Harga bukan masalah bagiku."


"Tapi, El tidak cocok memakai cincin mahal itu."


"Buang saja kalau tidak mau." El terdiam saat mendengar apa yang diucapkan oleh Xavion. Tidak mungkin dia bisa membantah saat Xavion mengatakannya dengan nada datar. Dia mengira sekarang calon suaminya sedang marah padanya.


El panik saat merasa Xavion sedang marah. Dia memutuskan untuk memgirim pesan pada calon mommy mertuanya untuk bertanya bagaimana cara membujuk Xavion saat sedang marah. Dia terlalu takut berbicara pada calon suaminya sekarang. Dia takut salah memilih kata yang membuat Xavion semakin marah padanya.


'Sayang, Xavion benar jika kamu menyukai cincin itu cukup katakan saja jangan perdulikan harganya. Dan jika kamu tidak menyukainya katakan pada putra mommy biar dia mengganti cincin sesuai dengan keinginanmu.'


Balasan pertama yang El dapat. Dia menceritakan awal mula kejadian yang menyebabkan calon suaminya marah padanya. Dia ingin mendapat solusi terbaik untuk membujuk Xavion supaya tidak lagi marah padanya. Calon mertuanya pasti tau solusinya.


'Sayang, ini pernikahan yang pertama dan terakhir untuk kalian berdua. Wajar jika Xavion menginginkan yang terbaik untuk pernikahan ini. Jika putra mommy keberatan atas harga yang harus dia bayar, Xavion pasti mengatakanya. Selama Xavion tidak mempermasalahkan tentang harga, kamu hanya perlu mengatakan suka atau tidak. Jangan pikirkan hal lain, oke?'


'Xavion marah? Dia pasti hanya sedikit kesal saja. Kalian sedang di mobil, kan? Ambil tangannya dan genggam erat. Jika Xavion melirik sekilas maka dia benar marah, kamu duduklah di pangkuannya. Bersikaplah manja dan mints maaf padanya. Setelah itu mommy yakin pria kaku itu akan memanfaatkanmu. Jika belum mempan, cium saja bibirnya! Fighting!'


Yang membuatnya gugup adalah dia harus melakukan apa yang calon ibu mertuanya katakan. Dia juga ragu pada dirinya sendiri, apakah dia bisa melakukan yang disarankan Carol, calon ibu mertuanya? Bagaimana jika dia membuat pria tampan miliknya itu semakin marah?


'Semangat El, kamu pasti bisa!'


El menyemangati dirinya kalau dia pasti bisa melakukannya. Dia melepaskan seatbeltnya dengan perlahan supaya tidak menarik perhatian pria tampan yang ada di sampinya itu. Dia menghela nafas panjang. Dia merasa bahwa jantungnya ingin keluar dari tempatnya padahal dia belum memulainya.


Kedua tangannya meraih tangan calon suaminya itu dan menggenggam jari-jari pria itu dengan erat. El menunggu reaksi pria tampannya itu atas apa yang dia lakukan. Semoga Xavion tidak merasa tangannya gemetar.


"Pakai seatbelt," ujar Xavion. Matanya melirik sekilas pada El yang duduk menghadapnya tanpa mengenakan seatbeltnya. Hanya beberapa meter lagi mereka akan sampai di mansion, meskipun begitu gadis kesayangannya tetap harus memperhatikan keselamatannya.


Pria tampan itu menginjak rem karena terkejut saat kelinci kecilnya tiba-tiba duduk diatas pangkuannya. Untungnya, mereka tidak berada di jalan besar, mereka sudah memasuki jalan menuju mansion. Xavion tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika seandainya mereka ada di jalan besar.

__ADS_1


Xavion menatap kelinci kecil nakalnya yang sedang bersandar dengan nyaman di dadanya. Tangan dirinya masih di genggam dengan erat oleh gadis itu, sementara tangan lainnya berada di pinggang kelinci kecil nakalnya menahan supaya tidak terbentur.


"Apa yang kamu lakukan, Hmmm?


" Kak Xavion jangan marah. El minta maaf. El suka cincinnya tapi sedikit kaget dengan harganya. El akan pakai cincinnya, jadi jangan marah pada El lagi."


Xavion menaikkan alisnya saat mendengar penuturan calon istrinya.


'Marah? Memang kenapa aku marah? Aku tidak merasa marah sedikitpun padanya, lalu kenapa dia malah meminta maaf padaku?' Batin Xavion.


Bibir Xavion terangkat membentuk senyuman tipis saat menyadari sesuatu. Calon istrinya pasti salah paham karena ucapannya tentang cincin pernikahan itu.


Sebenarnya, dia sama sekali tidak marah karena masalah sepele seperti itu. Seperti ucapannya tadi, El tinggal membuang cincin itu jika tidak menyukainya. Dia akan membelikan cincin baru yang sesuai dengan keinginan kelinci kecilnya itu. Tapi, kebungkamannya itu dikira sebagai kemarahan oleh El.


'Menggemaskan.'


"Kakak masih marah?" Tanya El sendu. Gadis cantik itu masih dengan nyaman menyandarkan kepalanya pada dada bidang Xavion. Sementara, jarinya menggambar sesuatu di dada bidang calon suaminya itu.


Dia membalik badannya untuk bisa berhadapan dengan sang calon suami masa depannya itu.


'Bagaimana ini? Jika Kak Xavion masih marah padaku? Aku sudah tau apa kesalahanku.' Batin El sedih. Dia tau rasanya saat pemberiannya ditolak, rasanya sangat menyakitkan. Calon suaminya itu pasti merasakan hal yang sama.


Gadis cantik itu mendongak menatap wajah calon suaminya yang datar itu. Dia berusaha menatap mata abu-abu yang indah itu untuk waktu yang lama. Saat pria tampan itu tengah menatapnya, dia tidak boleh mengalihkan pandangannya.


Perlahan El mendekatkan wajahnya pada wajah calon suaminya itu. Dia merasakan hembusan nafas pria itu pada wajahnya karena saking dekatnya jarak wajah mereka.


Xavion terkejut saat sebuah benda kenyal menempel pada bibirnya. Dia melihat kelinci kecilnya menutup matanya. Pria pemilik manik abu-abu itu tidak menyangka jika kelinci kecilnya akan menci*m bibirnya. Dia mengira bahwa gadis itu akan menc*um pipinya seperti biasa.


Hal ini pasti saran dari mommynya. Tidak masalah, dia sangat menyukai hal itu. Dia suka setiap sentuhan kaku yang dilakukan kelinci kecil kesayangannya itu.


"Maaf Kak," ujar El setelah ci*man mereka terlepas. Sebenarnya, itu tidak bisa disebut ci*man jika itu hanya saling menepel saja.

__ADS_1


"Dimaafkan."


Xavion meraih tengkuk kelinci kecilnya dan menc*um bibirnya dengan agresif untuk menyalurkan hasrat yang sedari tadi dia tahan. Dia sudah bersusah payah menahan diri untuk tidak menci*m bibir El. Tapi, gadis itu malah memulainya terlebih dahulu, tentu saja dia tidak akan menolak.


__ADS_2