
"Kenapa, Bi?"
El fokus menatap pepohonan dari jendela kamarnya melirik sekilas pada tiga pelayan yang baru masuk ke kamarnya. Dia enggan untuk menoleh ke arah ketiga pelayan itu.
Dia merasa cukup terganggu karena kedatangan mereka. Tapi, dia tidak ingin mengatakannya secara gambang. Dia berpikir bahwa mereka akan sakit hati dan dia tidak mau menyakiti perasaan mereka.
"Tuan baru saja pergi keluar untuk mengurus sesuatu. Kemungkinan beliau akan pulang larut malam. Kami akan menjaga Anda, panggil kami jika Nyonya memerlukan sesuatu."
"Baiklah, terima kasih. Kalian boleh pergi," ujar El. Ketiga pelayan itu menunduk lalu keluar dari kamar sang Nyonya.
El tersenyum dengan lepas. Matanya kembali fokus menatap pepohonan hijau yang terlihat berwarna cerah karena sinar matahari. Sedari tadi, dia melihat dari jendela kamarnya tapi tidak memperhatikan mobil calon suaminya keluar dari gerbang mansion. Mungkin karena dia terlalu fokus menatap pepohonan itu.
Menjadi calon istri Xavion Kenzie Alexander adalah hal yang paling dia syukuri. Selain itu, dia tidak lagi banting tulang untuk mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya. Dia juga bersyukur karena bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu dari calon ibu mertuanya. Dia merasa memiliki keluarga yang hangat kembali.
Selain itu, yang paling disyukurinya adalah menjadi calon istri dari Xavion. Meskipun kadang kala Xavion masih sering menampilkan wajah datar dan dingin, tapi pria tampan itu selalu berusaha memeperlakukannya dengan baik. Dia memberikan semua kelembutan dan cintanya untuk El dengan cuma-cuma.
Kenapa? Karena El merasa tidak memberikan apapun padanya, tapi calon suaminya itu malah memberikan hal yang paling besar yang sangat diinginkannya yaitu keluaga. Sejak kematian kedua orang tuanya juga perlakuan buruk ibu tirinya, El kehilangan keluarganya.
Tidak tanggung-tanggung, calon suaminya itu bahkan memberikan sebuah keluarga yang begitu hangat. Meskipun kadang Xavion terlihat acuh tak acuh padanya, tapi sebenarnya dia selalu perhatian pada El.
Hal kecil seperti memberi kabar, mungkin bagi sebagian orang itu tidak penting. Tapi lain hal bagi El, dia merasa itu adalah hal penting untuknya. Xavion tau jika memberi kabar itu adalah hal penting buat El. Karena El mempunyai trauma tentang hal itu, dia dulu tidak mendapat kabar dari orang tuanya tau-tau mereka pulang dalam keadaan tak bernyawa.
Mata El menatap tajam ke arah pepohonan itu. Beberapa orang dengan pakaian hitam dan wajah yang tertutup masker sedang bersembunyi di balik pohon-pohon itu. Orang-orang itu membawa senjata api di tangan mereka.
__ADS_1
'Siapa mereka?'
"Bibi!" Seru El. Dia tidak berteriak karena suaranya bisa saja terdengar sampai ke tempat orang-orang itu. Tiga pelayan melangkah masuk setelah mendengar seruan El.
"Ya, Nyonya? Anda perlu sesuatu?"
"Aku melihat beberapa orang bersenjata di balik pepohonan di hutan." Para pelayan itu serempak mendekat ke arah Nyonya mereka saat sang Nyonya meminta mereka mendekat. Ketiganya terkejut saat melihat beberapa orang yang tengah bersembunyi di hutan.
"Nyonya mari ikut saya ke ruang rahasia. Lily nyalakan alarm tanda bahaya. Ariel beritahu penjaga di depan kamar tentang para penyusup itu.
El mengikuti pelayan itu membawanya menuju ruangan rahasia. Dia berjalan dengan wajah panik dan pikirannya di penuhi banyak pertanyaan.
'Siapa mereka dan kenapa dia harus bersembunyi?'
Gadis itu melangkah masuk saat sebuah pintu dibuka oleh pelayan yang memandunya. Dia merasa ragu melihat lorong gelap yang ada di balik pintu itu. Matanya menatap pelayan yang ada bersama dengan tatapan curiga.
El mengangguk setelah mendengar ucapan pelayan itu. Dia memiliki Claustrophobia. Dia akan merasakan sesak dan ketakutan berlebihan saat harus berada di tempat gelap dan sempit tanpa cahaya sedikitpun.
Pintu tertutup dan secara otomatis lampu-lampu itu menyala. El mengikuti pelayan yang sudah berjalan terlebih dahulu untuk memandu jalannya. Mata El melihat sekeliling lorong itu. Dinding lorong itu berbentuk seperti batu di dalam goa.
'Sangat cantik.'
Pelayan itu membuka satu-satunya pintu berwarna hitam yang ada di lorong itu. Pintu berwarna hitam itu menyerupai dinding, tidak ada ganggang untuk membukanya selain menggunakan tombol kecil yang tersembunyi di dinding.
__ADS_1
El tidak menyadari bahwa disitu ada pintu. Dia hanya melihat pelayan itu menekan dinding saja, hingga pintu terbuka. Seandainya, El masuk sendirian maka dia tidak akan bisa menemukan tombol untuk membuka pintu itu.
"Silahkan Nyonya."
Mata El menjelajahi ruangan yang luas dibalik dinding itu. Ada sofa, ranjang king size, AC, kulkas, kamar mandi bahkan ada dapur mini. Ruangan rahasia ini dibuat dengan sangat sempurna hingga menyerupai sebuah rumah minimalis.
"Mau kemana, Bi?"
"Saya harus memeriksa keadaan di luar, Nyonya. Saya akan berjaga di dekat pintu lorong supaya tidak ada yang bisa masuk kemari."
"Tapi di luar gelap sekali," ujar El. Dia melihat lampu yang semula menyala kembali mati saat dirinya masuk ke dalam kamar. Pelayan itu mengatakan jika lampu akan menyala dengan otomatis jika merasakan hawa tubuhnya dan calon suaminya. Dia tidak membiarkan pelayan itu berjalan dalam kegelapan seorang diri.
"Saya sudah terbiasa, Tuan akan segera datang menjemput Anda. Tolong jangan pernah keluar dari kamar ini jika tidak dijemput Tuan Xavion, keadaan diluar sangat berbahaya untuk Anda. Saya permisi, Nyonya."
Pelayan itu menunduk hormat setelah itu dia keluar. El bingung dengan situasi seperti ini. Di satu sisi, dia menghawatirkan pelayan itu, tapi di sisi lain dia juga takut jika harus keluar dari kamar ini.
Pelayan itu mengatakan jika ini perintah Xavion, dia tidak bisa membantah perintah calon suaminya. Dia tidak akan keluar dari kamar ini sebelum calon suaminya menjemputnya. Dia akan menunggu calon suaminya datang.
"Kamu siapa?!"
Pintu terbuka membuat El menoleh dengan senyuman lebah. Tapi, saat melihat pria asing dengan senyuman aneh membuat senyuman El luntur. Seharusnya hanya calon suaminya yang bisa masuk kemari, pelayan itu dengan jelas mengatakan jika hanya Xavion yang bisa masuk ke dalam ruang rahasia ini.
'Apa yang terjadi?'
__ADS_1
Gadis cantik itu berdiri dan melangkah mundur saat pria asing itu mendekat padanya. Pria itu memakai pakaian serba hitam. Dia melangkah mendekat ke arah El seraya membuka kancing bajunya dengan senyuman aneh.
Airmata El mengalir seperti air terjun pada pipinya. El ketakutan, dia tidak mngenal siapa pria yang sedang bert*lanj*ng dada itu. Matanya menatap takut pada pria aneh yang semakin dekat padanya hingga membuat dia tersudut di dinding.