Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam

Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam
26. Hampir Kelepasan


__ADS_3

Xavion memutar kursinya untuk menatap pemendangan langit dan kota untuk meredam emosinya. Matanya tertutup dengan nafas terengah-engah karena emosinya yang sudah berada diubun-ubun.


'Sialan! Kenapa aku semarah ini hanya dengan membayangkan bahwa tubuh kelinci kecilku di lihat James. Padahal itu hanya pikiranku saja!"


"Keluar! Jangan ganggu saya!"


"Kak Xavion." Xavion memutar kursinya saat mendengar suara lembut kelinci kecilnya itu. Matanya menatap istrinya terkejut karena sudah berdiri di depan pintu ruangannya.


'Sedang apa istri cantikku kesini? Kenapa El menyusulku kemari? Dan apa-apaan pakaian kurang bahan itu?' Batin Xavion.


Sebenarnya, El masih tergolong memakai pakaian yang sopan yaitu dress berwarna maroon yang panjangnya selutut dan lengannya sepanjang siku. Tapi mengingat kejadian tadi, membuatnya tidak rela membagi sedikitpun kulit putih kelinci kecilnya pada orang lain. Pakaian ini terlalu banyak memperlihatkan kaki jenjang milik istrinya.


'Sialan!'


Xavion mendekati kelinci kecilnya lalu menariknya masuk dan tidak lupa mengunci pintu ruangannya itu. Dia merapatkan tubuhnya pada tubuh mungil istrinya yang bersandar pada pintu ruangannya itu. Nafasnya masih memburu karena amarahnya dan sekarang dia malah melihat istrinya disini. Rasanya dia ingin menarik kelinci kecilnya ke ranjang dan menjadikan gadis cantik itu miliknya seutuhnya.


'Itu bukan ide yang buruk, kan?' Pikir Xavion.


"Kak ini berkasnya keting-- KAK!" El memekik kaget saat tubuhnya di gendong di bahu seperti karung beras oleh suaminya itu. Xavion sesekali memukul bokongnya dengan gemas.


El sangat kaget karena kelakuan suaminya seperti itu. 'Ada apa dengan Kak Xavion?'


Xavion membuka pintu kamar yang ada di ruangannya itu. Dia lalu melemparkan tubuh mungil istrinya ke atas ranjang king size yang ada di sana. Matanya penuh dengan gairah dan amarah saat melihat istrinya datang dengan pakaian seperti itu. El hanya menatap Xavion dengan raut kebingungan. Xavion melempar jas, dasi, dan kemeja putihnya ke lantai. Sekarang dia bertelanjang dada memperlihatkan dada bidangnya dan roti sobeknya yang sangat sexy itu di hadapan kelinci kecilnya.

__ADS_1


El terkejut melihat suaminya membuka pakaian atasnya. Tapi, dia lebih terkejut melihat tatapan matanya yang penuh gairah bercampur dengan amarah. Gadis cantik itu menahan nafasnya saat sang suami mendekat dan tangan pria itu mengelus pahanya. Ujung dressnya di tarik ke atas dengan pelan bersama dengan jari Xavion yang mengelus pahanya.


El melotot saat melihat suaminya merobek dressnya, hanya menyisakan pakaian dalam berwarna hitam. Warna hitam sangat kontras dengan kulit putih mulus kelinci kecilnya itu.


"Cantik," gumam Xavion pelan. Dia menatap sang istri dengan penuh gairah.


Tangan Xavion bergerak naik dari perut ke dada lalu naik lagi ke pipi sang istri. Jarinya mengusap lembut pipi tembam milik kelinci kecilnya yang berhasil membuatnya lepas kendali hanya karena membayangkan tubuh milik istri kesayangannya di lihat oleh pria lain. Tidak ada yang diijinkan melihat tubuh kelinci kecilnya ini, El hanya miliknya seorang!


Xavion menindih tubuh mungil istrinya bagaikan seekor harimau yang siap menerkam kelinci kecil yang tidak berdaya. Dia mendekati wajah istrinya--menempelkan kening mereka lalu menutup mata sebentar.


"Tubuh ini hanya milikku, tidak ada yang boleh menyentuhnya!" Ujar Xavion pelan namun sarat dengan ancaman. Tangannya meremas sedikit kuat pinggang kelinci kecilnya lalu menggeram merasakan betapa lembut kulit kelinci kecil kesayangannya itu.


"Kak!" El menutup matanya karena tidak kuat melihat mata abu-abu suaminya yang indah namun penuh gairah itu. Dia menggigit bibir bawahannya saat merasakan remasan kuat di pinggangnya oleh sang suami. El sangat ketakutan melihat apa yang suaminya lakukan.


El tidak berani menghentikan suaminya yang sedang di liputi gairah yang tinggi. Sebenarnya, dia tidak masalah seandainya Xavion meminta haknya sekarang. Namun, El takut karena suaminya itu sedang dalam mood yang buruk.


Dia merasa serba salah, ingin menghentikan tapi tidak berani dan takut suaminya semakin marah. Jika tidak dihentikan juga, El takut melakukannya dalam kondisi suaminya yang tengah emosi.


"Kak Xavion!" Pekik El kaget saat merasakan dadanya diremas kuat oleh Xavion.


Xavion yang awalnya tengah membuat kiss mark di leher kelinci kecilnya itu seketika menghentikan kegiatannya. Dia menjauhkan wajahnya dari leher El, hal itu membuatnya sadar dengan apa yang sudah dia lakukan pada kelinci kecil kesayangannya itu.


"Maaf, maaf Bee. Aku tidak sadar atas apa yang aku lakukan tadi."

__ADS_1


"Tidak masalah Kak. Kak Xavion boleh meminta hak kakak sekarang, tapi tolong lakukan dengan lembut." Ucap El dengan lembut. Bibirnya menyunggingkan senyum lembut pada sang suami supaya pria tampan itu tidak menyalahkan dirinya sendiri karena perbuatannya melewati batas. Dia sungguh tidak masalah jika sang suami meminta haknya sekarang juga.


"No. Maafkan aku Bee. Aku tidak seharusnya melakukan ini."


Xavion pergi ke kamar mandi dengan perasaan menyesal. Bisa-bisanya hampir kehilangan kendali padahal dia berjanji pada dirinya sendiri dan juga istrinya akan melakukan hal itu saat sang istri sudah mencintainya dan tidak segan lagi padanya. Cemburu yang dia rasakan telah membuatnya hampir kelepasan.


'Bodoh!' Maki Xavion sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.


"Are you okay, Kak?"


Xavion baru keluar dari kamar mandi menatap kelinci kecilnya yang sedang melihat kearahnya dengan tatapan khawatir. Gadis cantik itu hanya mengenakan kemeja putih miliknya yang terlihat sangat besar di tubuh mungilnya. Xavion berpikir bahwa sang istri terlihat sangat sexy dan menggemaskan saat mengenakan kemeja putih yang kebesaran di tubuhnya.


Xavion sendiri baru saja selesai mandi untuk mendinginkan kepalanya yang panas. Dia hanya mengenakan celana. Rambutnya basah membuat airnya mengalir ke bagian tubuhnya yang tidak tertutup, menambah kesan sexy dan menggairahkan.


Sementara itu, El menatap suaminya dengan khawatir karena sang suami tidak keluar dari kamar mandi. Dia memakai kemeja putih sang suami yang tergeletak di lantai. Dia menunggu suaminya keluar dengan sabar sambil menatap ke arah pintu kamar mandi.


El semakin khawatir saat mendengar geraman keras dari kamar mandi. Dia berpikir hal buruk telah terjadi pada suaminya itu.


'Kak Xavion.... Baik-baik saja, kan? Tidak ada masalah yang terjadi padanya, kan?' Batin El.


El semakin merasa bersalah karena tidak sengaja menghentikan perbuatan sang suami karena pekikannya yang keras tadi. Dia tidak bermaksud mencegah suaminya itu, El hanya terkejut karena perbuatan sang suami cukup kasar padanya. Sekarang, dia merasa bersalah dan takut kalau suaminya akan marah padanya.


Detik demi detik berlalu, namun sang suami belum keluar Dari kamar mandi. El hanya duduk menatap sesekali ke arah pintu kamar mandi. Hampir saja dia menangis jika tidak mendengar suara pintu kamar mandi dibuka.

__ADS_1


__ADS_2