Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam

Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam
14. Hampir Tergoda


__ADS_3

"Jangan menyentuh El. El kotor!"


"Jangan Kak, jangan mendekat. El kotor."


El menjerit histeris menatap calon suaminya yang hendak mendekat padanya setelah meletakkannya di atas kasur. Dia menggelengkan kepalanya berulang Kali dengan airmata yang mengalir deras keluar dari mata indahnya. Tubuhnya gemetaran saat mengingat dirinya sudah disentuh orang lain.


Dia merasa bahwa dirinya tidak suci karena membiarkan pria lain menyentuhnya. Pria itu melihat tubuh bagian atasnya secara langsung tanpa terhalang apapun. El merasa sangat bersalah pada calon suaminya karena tidak bisa menjaga tubuhnya.


Sementara, Xavion hanya menatap tajam pada kelinci kecilnya yang histeris. Dia marah pada dirinya sendiri karena terlambat menyelamatkan kelinci kecilnya hingga membuatnya mengalami kejadian seperti ini. Dia sangat marah pada pria asing yang telah menyentuh tubuh kelinci kecil kesayangannya itu.


"Love, kamu tidak kotor."


"Tidak kotor?" Tanya El sembari menatap calon suaminya dengan sendu.


"Tidak, kamu tidak kotor sedikitpun. Sekarang, kamu mau memberitahuku apa yang sudah dilakukan oleh pria brengs*k itu pada kesayanganku ini?" Tanya Xavion dengan lembut. Pria tampan itu duduk di samping istrinya yang tengah duduk di atas kasur, setelah dia melihat bahwa calon istrinya tidak histeris lagi. Dia tersenyum hangat pada kesayangannya itu.


"Kak Xavion tidak jijik sama El?"


"Tidak sama sekali. Kamu mau aku hilangkan bekas sentuhan pria brengs*k itu?" El mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan calon suaminya itu. Matanya menatap penuh harap pada Xavion yang duduk disampinya itu.


"Beritahu aku dimana saja pria brengs*k itu menyentuhmu?"


El menatap Xavion dalam. Dia membuka selimut yang menutupi tubuh bagian atasnya yang sudah setengah telanj*ng. Dia mendekat pada calon suaminya yang masih terdiam menatapnya.

__ADS_1


"Lepas," ujar El. Dia berusaha melepaskan kemeja dari tubuh atletis calon suaminya itu.


Xavion membiarkan kelinci kecil kesayangannya melakukan apapun yang dia mau. Dia sangat mengerti jika El tidak sadar dengan apa yang dia lakukan sekarang. Calon istrinya itu sedang melampiaskan semua rasa takutnya itu.


Kemeja hitam Xavion terlepas dari tubuh Xavion hingga menampilkan perut kotak-kotak dan dada bidangnya. Tapi, El tidak tertarik pada tubuhnya karena dia tidak sadar apa yang dilakukannya itu.


Tubuh besar milik Xavion ditarik oleh El supaya menindih tubuhnya. Dia menatap calon suaminya yang meyakinkannya dengan senyuman lembut bahwa dia tidak masalah dengan yang El lakukan. El ingin mengulangi kejadian mengerikan tadi bersama calon suaminya untuk menggantikan kenangan buruk itu menjadi kenangan indah.


"Dia menapar El. Kak Xavion tampar El juga."


"Berapa kali?" Tanya Xavion. Dia sedikit terkejut karena El menariknya ke atas tubuh kelinci kecilnya itu. Calon istrinya mau memberitahu semua kejadian yang telah dia alami.


"Dua kali di kedua pipi El."


Xavion melihat calon istrinya memejamkan mata, menunggunya melakukan hal serupa seperti yang dia katakan tadi. Dia masih belum segila itu untuk menampar kelinci kecil kesayangannya itu.


"Awalnya pipi El dielus lalu ditampar. Dia juga menggesekkan miliknya pada milik El dan beberapa kali menghentakkannya. Setelah itu, baju El dirobek. Tangannya menyentuh lengan, leher, dan tali bra El." Jelas El. Dia menatap calon suaminya yang sedang geram.


"Kak Xavion jijik pada El yang telah di sentuh orang lain? Seharusnya tubuh El hanya boleh di sentuh oleh Kak Xavion seorang. Tapi, El tidak bisa menjaga tubuh El sendiri." Adu El pelan. Mata El mengembun saat mengatakan kejadian itu.


Xavion menci*m kedua pipi kesayangannya berulang kali. Dia juga menggesekkan miliknya pada milik kelinci kecilnya dengan lembut sesuai dengan yang di ucapkan kelinci kecilnya itu. Matanya menatap kelinci kecilnya yang terkejut namun tidak menghentikan aktivitasnya.


Tangan Xavion mengusap lengan calon istrinya dengan lembut. Dia berhenti menci*m kedua pipi calon istrinya itu. Dia fokus menatap calon istrinya yang tengah menutup mata sambil menggigit bibirnya.

__ADS_1


El membeku ketika lengannya dielus dengan lembut oleh Xavion. Dia menutup matanya seraya menggigit bibir bawahnya saat merasakan sentuhan calon suaminya. Rasanya berbeda dengan pria asing tadi, calon suaminya tidak membuatnya merasa takut sedikitpun.


Jantung El berdetak dengan sangat kencang saat Xavion menyentuh lehernya. Dia tidak berani membuka matanya untuk menatap calon suaminya. Kesadaran El kembali saat mengingat kelakuannya yang seperti wanita murahan yang ingin di belai. Dia merasa sangat malu hingga ingin menenggelamkan dirinya.


"Perlu aku membuka benda ini?


Mata El terbuka setelah mendengar bisikan calon suaminya itu. Mata El bertatapan dengan netra abu-abu indah milik Xavion. Tangan Xavion menurunkan tali bra hitam milik El ke lengannya.


" Love can I?" Tanya Xavion. Mata Xavion di penuhi gairah saat tangannya menyentuh bahu mulus calon istrinya itu. Belum lagi tubuh bagian atasnya tanpa memakai pakaian bersentuhan dengan kulit calon istrinya yang terasa sangat lembut di kulitnya.


"Kak," panggilan lembut dari bibir ranum milik kelinci kecilnya yang menyadarkannya. Pria tampan itu mengumpat dalam hatinya karena terbawa suasana hingga membangkitkan gairahnya. Tidak seharusnya dia tergoda, apalagi calon istrinya hampir mengalami pelecehan. Tidak ada bedanya dia dan pria sialan itu jika sampai dia melakukan hal itu.


"Maaf, Love. Tidurlah. Aku akan mengambil pakaian untukmu, Love."


"Kak," panggil El seraya menahan tangan calon suaminya itu. Dia menundukkan kepalanya saat Xavion menatapnya.


"Terima kasih karena tidak jijik pada El."


"Kamu tidak mennjijikkan, Love. Dimataku, kamu tidak terlihat menjijikan." Jawab Xavion lembut. Dia menc*um kening calon istrinya sebentar lalu pergi ke walk in closet untuk mengambil piyama kelinci kecil kesayangannya itu.


Dalam hatinya, dia bersyukur karena masih bisa mengendalikan diri supaya tidak menyentuh calon istrinya lebih jauh. Dia hanya berniat untuk mengembalikan rasa kepercayaan diri kelinci kecil kesayangannya itu supaya tidak merasa tubuhnya kotor. Dia juga tidak ingin calon istrinya merasa rendah diri lalu pergi meninggalkannya karena merasa tidak layak.


"Kau terlalu bodoh Xavion!" Umpat Xavion pada dirinya sendiri. Padahal besok mereka akan menikah, bisa-bisanya dia hampir menyentuh calon istrinya sebelum mereka menikah. Jika saja El tidak memanggilnya, sudah bisa di pastikan sekarang mereka berbagi keringat di atas kasur.

__ADS_1


'Bodoh!' Maki Xavion lagi. Dia tidak habis pikir kenapa dia tidak bisa menahan diri saat melihat tubuh calon istrinya itu. Padahal banyak para perempuan yang menggodanya dengan cara bertel*nj*ng, tapi hal itu tidak meruntuhkan pertahana dirinya. Mungkin karena dia terlalu mencintai kelinci kecilnya itu hingga membuat pertahanan dirinya runtuh.


'Mantra apa yang kau gunakan, Love?'


__ADS_2