Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam

Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam
13. Hampir Terluka


__ADS_3

"Cantik," bisik pria aneh itu. El hendak lari, tapi ditarik dan dilemparkan terlentang ke atas ranjang king size. Gadis itu menangis saat tubuh pria asing itu menindihnya. Tangan pria itu membelai pipi El yang basah karena airmata.


"Kau membangkitkan ga*irahku dengan wangi tubuhmu, Honey. Kau bisa merasakan juniorku, kan?"


"Pergi!" Jerit El panik. Pria itu menggesekkan bagian menonjol miliknya di bawah sana dengan milik El. Tangisan El kian kencang saat merasakan gesekkan itu sesekali dihentakkan pelan menabrak miliknya di bawah sana.


"Tenang, Honey. Aku akan membuatmu merasakan nikmat surga dunia. Tenang, jangan takut, aku pastikan melakukannya dengan perlahan." Bisik pria itu. Tangannya membelai lembut bahu dan lengan El dengan perlahan. Mata pria itu diliputi oleh ga*rah saat menatap gadis cantik yang berada di bawah kukungannya itu.


'Wangi tubuh gadis ini membuatku terhipnotis. Aku memang tidak salah memilih target.'


"Kak Xavion," panggil El lirih. Dia sangat ketakutan sekarang, dia ingin Xavion datang.


"Pria itu tidak akan datang, Honey. Dia sibuk mengurus bawahanku yang hebat. Fokus saja padaku. Sekarang, aku ingin melihat apa yang tersembunyi di balik pakaian ini."


El meberontak saat mendengar ucapan pria sinting itu. Tangisan El semakin keras dan tubuhnya bergetar berusaha melepaskan diri dari kukungan pria sinting itu. Tindakan itu hanya sia-sia saja karena tenaga dari tubuh kecilnya tidak sebanding dengan tenaga pria asing itu.


"JANGAN!" Seru El panik. Dia berusaha mencegah tangan pria itu yang hendak merobek pakaiannya. Dia semakin panik saat bajunya sudah robek, apalagi melihat senyum mengerikan pria itu.


"it's so beautiful. Kau sangat cantik hanya dengan memakai penutup dada berwarna hitam ini."


Kedua tangan El menahan tangan pria itu yang hendak menyentuh dadanya yang hanya memakai pakaian dalam berwarna hitam. Atasannya sudah dirobek hingga hanya menyisakan bra yang melindungi dadanya dari pandangan mesum pria itu.

__ADS_1


Pria itu merasa kesal karena tangan kanannya di tahan oleh El. Dia menampar El dengan sangat keras hingga kepalanya menoleh kesamping. Matanya menatap marah pada gadis yang menangis sambil memegang pipinya yang sakit karena ulahnya. Tangannya yang sudah terlepas terulur membelai leher mulus El.


Bibir pria itu menyunggingkan senyum lebar nan menjijikan itu saat tangannya menyentuh leher putih mulus milik El. Kulitnya begitu lembut malah membuatnya semakin bergairah. Miliknya yang ada di bawah sana semakin mengeras hanya dengan menyentuh leher gadis itu.


'Sialan! Xavion sangat beruntung memiliki gadis ini.'


El kembali menahan tangan pria itu saat merasakan tangan menjijikan pria itu membelai bahunya. Dia tidak mau disentuh oleh tangan menjijikan pria itu, tidak akan pernah membiarkan pria ini menguasainya.


Sekali lagi pipi El yang lainnya di tampar lebih keras lagi oleh pria gila itu. Sudut bibir calon istri Xavion itu robek hingga mengeluarkan darah. Mata gadis itu menatap pada pria yang menatapnya marah. Dia mengabaikan rasa sakit pada pipinya.


Pria diatas tubuhnya bangun dan mengunci bagian bawah perutnya. El mempunyai kesempatan bagus untuk menendang masa depan pria itu. Hampir saja dia berhasil menendangnya, pria itu sudah terlempar ke samping hingga jatuh di lantai.


Tangis El semakin keras saat melihat calon suaminya datang dan sedang menatap marah pada pria yang meringis kesakitan itu. El sangat takut. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya bila calon suaminya datang lebih lama.


Xavion mendekat pada pria asing yang menatap panik kearahnya. Dia mendesis marah pada orang yang lancang dan berani menyentuh miliknya dengan seenaknya. Tubuh pria itu di tendang dengan sangat keras hingga membentur lemari yang ada di ruangan itu. Xavion mendekat pada pria yang berani mengusik dan melecehkan kesayangannya itu.


Xavion mencengkram lehernya dengan kuat lalu mengangkat ke atas. Dia mengabaikan pukulan yang diberikan pria itu pada tangannya. Semakin meronta maka cengkraman di leher pria itu akan semakin kuat.


Pria itu terbatuk-batuk kala merasakan dadanya sesak karena kekurangan oksigen. Cengkraman Xavion tidak main-main, dia merasakan lehernya akan patah.


Saat pria itu hampir kehabisan nafas, Xavion melepaskan cengkramannya hingga membuat pria itu terduduk di lantai dan batuk dengan keras. Tidak cukup sampai disitu, Xavion menendang kuat masa depan pria itu hingga terdengar jeritan memilukan dari bibir pria asing itu.

__ADS_1


Xavion mendekati Kelinci kecilnya yang menangis sambil menunduk. Dia mengambil selimut dan membungkus tubuh calon istrinya yang setengah telanjang itu. Dengan lembut dia menggendong tubuh mungil yang masih gemetaran.


"Maafkan aku karena terlambat, Love." Ujar Xavion sambil menci*m kening kelinci kecil kesayangannya dengan lembut lalu meninggalkan ruangan itu.


"Aku ingin semua yang terlibat ada di ruangan eksekusi."


"Baik, Tuan."


Beberapa pria berbaju hitam mengangguk serentak saat mendengar perkataan Tuan mereka. Dua bawahan Xavion masuk untuk menyeret keluar pria brengs*k yang telah melukai Nyonya mereka dengan bengis. Mereka mengabaikan jeritan kesakitan pria itu karena ditarik dalam posisi terlungkup.


Xavion menidurkan kelinci kecil kesayangannya dengan lembut di atas kasur. Dia marah pada dirinya sendiri yang tidak becus menjaga calon istrinya itu. Karena El mengalami kejadian yang mengerikan seperti ini. Lebih parahnya hal itu terjadi di mansionnya, di ruangan rahasia yang paling aman miliknya. Xavion benar-benar merasa bersalah.


Saat ponselnya menerima sinyal bahaya dari alarm yang dinyalakan di mansion, pria itu langsung memutar balik mobilnya dengan panik. Dia tidak akan sepanik itu jika kelinci kecilnya tidak ada dilingkungan berbahaya itu. Pria tampan itu tidak akan perduli jika mansion mewahnya hancur lebur.


Flashback


Dia menatap tajam orang yang mecegatnya di gerbang mansion. Bibirnya menyunggingkan senyuman mengerikan lalu mobilnya menaikan kecepatan mobilnya. Dia akan menabrak siapapun yang menghalanginya. Pikirannya kacau, dia tidak bisa memikirkan apapun karena khawatir akan kondisi kelinci kecilnya itu.


Beberapa pelayan dan pengawal mengetahui ruangan rahasia itu untuk menyembunyikan calon istrinya jika terjadi hal darurat tapi tetap saja dia tidak tenang. Pria tampan itu melangkah menuju ke dalam mansion, dia melihat banyak pria tergeletak bersimbah darah di halaman mansion.


Pria itu masuk ke dalam dan menemukan hal yang serupa. Dia tidak perduli siapa saja yang mati. Dia melangkah menuju ke kamar El untuk memastikan keselamatan kelinci kecilnya. Namun, pria itu tidak menemukan calon istrinya di setiap sudut ruangan itu.

__ADS_1


Seorang pelayan memeberitahu jika El dibawa oleh seorang pelayan untuk bersembunyi di ruang rahasia. Dia dengan cepat melangkah ke ruang rahasia yang berada di lantai dasar. Dia terlambat datang untuk calon istrinya itu.


Flashback off


__ADS_2