
Xavion mengusap kepala kelinci kecilnya itu dengan lembut dan tersenyum hangat pada sang istri. Dia merasa bahwa dia sangat, sangat beruntung memiliki istri seperti El. Xavion akan terus mengingat hal ini untuk selamanya.
"Mandi. Aku tunggu."
"Iya, maaf karena bangun kesiangan, dan terima kasih karena sudah memaklumiku." Jawab El. Dia mencium pipi Xavion sekilas lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Xavion tersenyum kecil menatap punggung kelinci kecilnya itu yang menghilang di balik pintu kamar mandi. Pria tampan itu berjalan menuju sofa yang ada di kamar mereka, dia mengambil tab miliknya untuk memeriksa pekerjaan yang masuk ke emailnya. Dia mengambil cuti setelah pernikahannya, padahal pekerjaannya masih banyak tapi dia tidak ingin waktu cutinya terganggu.
Sebenarnya Xavion ingin mengajak kelinci kecilnya liburan ke luar negeri atau kemanapun istrinya itu mau dengan alasan honeymoon. Tapi dia mengurungkan niatnya karena pekerjaannya sedang banyak. Dia tidak ingin di tengah liburannya, dia harus pergi ke kantor dan mengacaukan liburan mereka.
Lagipula mereka akan berlibur bersama kedua sahabatnya. Meskipun tidak terlalu jauh, yang penting bisa membawa istrinya liburan. Setelah semua masalah kantor selesai, dia akan membawa El liburan dan sekaligus honeymoon dengan tenang tanpa ada gangguan pekerjaan.
Tok... Tok... Tok...
Pintu kamar diketuk pelan dan mengalihkan perhatian Xavion dari tabnya. Dia kesal karena ada yang mengganggunya sepagi ini.
'Awas saja jika tidak ada yang penting.'
"Selamat pagi, Imperatore. Maaf mengganggu Anda sepagi ini. Saya ingin memberitahu jika transaksi senjata kita tadi malam gagal, Imperatore. Salah satu nahkoda kapal yang kita sewa ternyata penghianat, dia menelpon polisi sehingga pelabuhan di kepung dan--"
"Kak Xavion!" Ucapan James terpotong karena El memanggil Xavion. Yah, James adalah pelaku yang mengganggu Xavion sepagi ini. James secara spontan menunduk saat tuannya menatap tajam kearahnya saat dia ingin melihat ke dalam kamar sang Tuan. Dia secara tidak sadar ingin melihat saat mendengar suara sang ratu.
Kita bicara nanti. Kau ikut aku ke kantor," ujar Xavion. Dia masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu. Dia melangkah kearah pintu kamar mandi untuk bertanya kenapa kelinci kecil memanggilnya.
__ADS_1
"Ada apa, Bee?"
"Kak," panggil El. Kepala gadis cantik itu muncul dari balik pintu dengan wajah panik.
"El lupa bawa handuk Kak, minta tolong ambilkan handuk."
"Untuk apa? Kamu bisa keluar tanpa menggunakan handuk, kan? Kamu lupa kita sudah menikah, Bee? Ujar Xavion tenang. Meskipun begitu, dia tetap mengambilkan bathrobe untuk kelinci kecilnya itu.
"Tadinya mau seperti itu, tapi pintu kamarnya sedikit terbuka dan El dengar Kak Xavion sedang berbicara dengan seseorang. Jadi El tidak jadi melakukannya," jelas El. Gadis itu memang akan keluar dari kamar mandi tanpa memakai apapun. Dia berpikir bahwa suaminya sudah pernah melihat saat mereka mandi bersama pada saat itu.
Saat mendengar penjelasan El, Xavion terkejut sekali. Untung saja kelinci kecilnya melihat keadaan terlebih dahulu sebelum keluar kamar mandi dalam keadaan tel*nj*ng. Andai saja gadis cantik itu tidak sadar dan tetap keluar, besar kemungkinan James melihat tubuh polos kelinci kecilnya itu. Xavion sangat, sangat tidak rela jika ada orang yang melihat tubuh istrinya itu.
Xavion melihat kelinci kecilnya keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe pink terlihat sangat menggemaskan. Mata pria itu di penuhi amarah saat membayangkan tubuh kelinci kecilnya dilihat oleh pria lain, selain dirinya. Dia menggendong El dan melempar tubuh mungilnya ke atas ranjang dengan sedikit kasar.
El menelan saliva kasar saat melihat mata suaminya yang penuh gairah juga sedikit kilatan amarah disana.
'Kenapa? Kenapa Kak Xavion terlihat sedang marah? Apa El membuat kesalahan?'
"Milikku! Tidak ada yang boleh melihat milikku!" Xavion menindih tubuh mungil kelinci kecilnya, mengendus leher istrinya yang beraroma Vanilla itu. Kelinci kecilnya itu mengganti aroma yang dia gunakan saat mandi karena kejadian di ruang rahasia itu.
"Kak-- Emphh!" Ucapan El terpotong karena bibirnya dibungkam oleh bibir suaminya itu. Xavion menc*um bibir El dengan agresif dan sedikit menuntut. Sepertinya suaminya itu sedang melampiaskan amarahnya dan rasa kesal melalui ci*man itu.
El hanya membalas ci*man suaminya dengan sebisanya, namun tetap saja dia kewalahan menghadapi ci*man suaminya yang terlalu agresif itu. Dia baru bernafas lega saat suaminya melepas ci*mannya. Namun sedetik kemudian El menahan nafasnya kembali, karena Xavion mencium leher jenjangnya dengan lembut lalu menghisapnya sedikit kuat. El yakin pasti hal itu akan meninggalkan jejak merah keunguan nantinya.
__ADS_1
"Tubuh ini milikku! Tidak ada yang boleh melihatnya!"
....
"Jelaskan!"
Xavion sekarang sedang duduk di kursi kebesarannya yang ada di kantor. Mata abu-abu pria itu menatap tajam ke arah sang tangan kanannya itu. James hanya menunduk karena takut dengan tatapan sang tuannya itu. Xavion masih sangat kesal karena memikirkan kejadian tadi pagi. Dia ingin mencabik-cabik tubuh James karena kesal.
Hampir saja tubuh kelinci kecilnya di lihat oleh tangan kanannya itu. Andai saja istrinya tidak melihat keadaan sekitar terlebih dahulu, bukankah pria sialan ini melihat tubuh polos kelinci kecilnya itu. Melihat James membuatnya emosi, tapi dia harus mendengarkan laporannya tentang kegagalan transaksi semalam. Dia harus menahan kesalnya terlebih dahulu.
James sendiri masih setia menatap kakinya, karena tidak berani menatap sang tuan yang terlihat marah padanya. Dia mengingat apa kesalahannya sehingga membuat pria kejam ini menatapnya dengan tajam. Kalau mata Xavion memiliki pisau mungkin saja James sudah mati sekarang.
'Apa karena transaksi gagal? Tapi itu bukan dia yang melakukan dan mengawasi transaksi tersebut. Lagipula tuannya ini bukan orang yang akan menghukum orang lain yang tidak melakukan kesalahan.' Batin James bingung dengan kelakuan tuannya itu.
"Kau kehilangan fungsi mulutmu, James? Hancurkan saja jika sudah tidak berguna!" Kata Xavion tajam. Dia benar-benar tidak bisa menahan amarahnya saat melihat James saat ini. Rasanya dia ingin mengeluarkan mata James dari tempatnya karena hampir saja melihat tubuh polos istrinya.
"Arghhhh! Keluar!"
"Sorry, Imperatore? Anda meminta saya keluar? Tapi saya belum selesai mela--"
"Keluar sebelum aku menghabisimu!" Desis Xavion tajam. Pria itu meraih glock kesayangannya dari laci mejanya dan mengarahkannya ke arah sang tangan kanan itu. Dia tidak dalam mood yang baik sekarang dan dia malas milihat James saat ini.
"Saya permisi, Imperatore." James akhirnya pamit keluar ruangan Xavion karena takut nyawanya melayang di tangan sang tuan yang sedang bad mood itu.
__ADS_1
'Menyeramkan sekali!' Batin James.