
"Cantik."
Manik abu-abu milik Xavion menatap penuh minat pada wajah calon istrinya yang sedang tidur nyenyak. Suhu tubuh El sudah turun, tapi beberapa ruam merah juga muncul samar di area leher dan dagu.
Meskipun begitu, calon istrinya tetap terlihat sangat cantik di matanya. Maurelle Anderson sebentar lagi akan berubah menjadi Maurelle Alexander, dia benar-benar memenuhi segala kreterianya. Cantik, penurut, lembut, dan yang paling penting selalu mengandalkannya. Benar-benar definisi sempurna bagi Xavion.
Tangan besarnya meraih salep yang sudah di rekomendasikan oleh dokter Ann padanya. Dengan telaten dia mengoleskan salep itu ke ruam merah di sekitar leher dan dagu kelinci kecilnya. Jangan sampai kelinci kecilnya itu merasakan gatal berlebihan.
"Emm... Kak?"
"Hmm.." Xavion fokus melakukan kegiatan mengoleskan salep untuk mengurangi gatal pada leher kelinci kecilnya. Dia mengabaikan El yang menegang karena jarak mereka yang sangat dekat.
"Gatal?"
"Ti-tidak terlalu, hanya sedikit." Jawab El gugup. El bahkan memejamkan matanya karena takut akan jarak mereka yang teramat sangat dekat. Jantungnya berdetak kencang dan dia berharap semoga calon suaminya tidak mendengar suara detak jantungnya, takut Xavion kira dia penyakit jantung.
"Ada bagian yang lain?"
"Hah? Oh ada."
"Dimana?" El bungkam tidak menjawab pertanyaan calon suaminya itu. Dia tidak mungkin menyebutkan jika area yang gatal itu di area dadanya. Dia akan merasa malu sekali jika memang harus mengatakan dan menjelaskan pada Xavion.
"El?" Desis Xavion tajam. Manik abu-abu pria itu menatap dalam calon istrinya yang masih setia menutup matanya dan tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Di dada, Kak." Kata El dengan suara pelan. Dia merasa wajahnya memanas setelah mengatakan hal itu.
Sementara Xavion hanya tersenyum tipis mendengar perkataan kelinci kecilnya itu. Wajah calon istrinya bahkan seperti kepiting rebus.
'Malu? Apa yang harus membuatnya malu, itu bukanlah hal yang memalukan?' Batin Xavion yang melihat kelakuan calon istrinya itu.
__ADS_1
"Buka!"
El refleks membuka matanya karena terkejut saat mendengar perkataan calon suaminya itu. Maksudnya meminta supaya El membuka baju yang dia kenakan. El tidak mau membuka bajunya di depan calon suaminya itu. Dia merasa itu hal yang memalukan.
Xavion masih menunggu kelinci kecil kesayangannya melakukan perintahnya. Itu bukan hal yang sangat sulit. Apa susahnya membuka baju supaya dia lebih mudah mengoleskan salep pada dada El. Mereka akan segera menikah jadi tidak masalah jika Xavion melihat sedikit asset milik calon istrinya.
"Boleh El oles sendiri, Kak?" Tanya El dengan keberanian setipis tisu untuk menatap manik abu-abu milik calon suaminya itu. Dia hanya bisa bertahan lima detik saja menatap manik abu-abu Xavion lalu memalingkan wajahnya. Rasa sungkan jika harus menatap wajah calon suaminya walaupun rasa takut lebih mendominasi.
"Oke. Sekarang."
"Bisa keluar dulu, Kak?"
"Kenapa?" Tanya Xavion heran. Sebelah alisnya terangkat melihat pada kelinci kecilnya itu.
"El malu Kak," cicit El. Dia berharap semoga calon suaminya itu bisa mengerti keadaannya. Selama ini, dia tidak pernah menunjukkan bagian tubuhnya pada orang lain. Rasanya aneh apalagi sekarang calon suaminya menatapnya dalam seperti ini. El tidak bisa.
"Lima menit."
El juga memastikan apakah ada bagian lain yang timbul ruam dan harus dia olesi salep. Sudah lama sejak, alerginya tidak kambuh jadi dia sedikit lupa dimana saja ruam biasanya muncul.
Selama ini El sangat berhati-hati supaya alerginya tidak kambuh. Dia tidak ingin merepotkan Nyonya Lyn atau boss cafe tempatnya bekerja dulu. Selain itu, dia harus menghemat uangnya untuk biaya sekolah dan biaya kehidupannya sehari-hari. Baginya obat untuk alerginya terlalu mahal.
Tidak ada kata lagi yang bisa diucapkan selain kata syukur karena dipertemukan oleh mommy calon mertuanya dan Xavion calon suaminya. Sekarang kebutuhan hidupnya sangat terjamin dan tercukupi. Calon suaminya itu sangat royal, tidak tanggung-tanggung menghabiskan uang untuknya.
Dia akan menebus semua itu dengan menjadi istri terbaik bagi Xavion.
"Sudah? Ayo keluar, makan."
El melangkah mendekati Xavion yang menunggunya sambil bersandar pada pintu. Dia menyunggingkan senyuman hangat lalu mengecup pipi Xavion.
__ADS_1
"Terima kasih Kak. Maaf jika El merepotkan."
"Hmm," gumam Xavion. Tangan Xavion merangkul pinggang El dengan erat dan membawanya keluar dari kamar untuk menikmati pemandangan malam dari rooftop.
Sebuah meja berisi beberapa makanan dan minuman, semuanya tanpa bahan dasar keju tentunya. Dua kursi ditata sejajar menghadap dinding kaca yang menampilkan pemandangan malam yang indah sekali.
"Ini indah sekali Kak."
"Suka?" El mengangguk sebagai jawaban. Dia duduk di sebelah calon suaminya itu. Dia dengan sigap mengisi makanan ke dalam piring calon suaminya itu. Setelah itu, dia mengisi piringnya.
Kedua makhluk berbeda jenis kelamin itu makan dengan tenang sambil menikmati pemandangan malam. Langit yang gelap jadi sangat cantik karena bertaburan bintang yang bersinar. Bulan pada malam ini juga memancarkan sinar dengan terang tanpa menyembunyikan sedikitpun cahayanya pada sang awan.
Pemandangan hutan yang gelap itu bahkan tidak membuat El takut. Dia takjub karena kegelapan itu seakan begitu menghipnotisnya. Dan juga hutan yang ada di sekeling mansion Xavion terlihat begitu indah karena banyak kunang-kunang yang terbang pada malam hari. Apalagi, dia sedang bersama orang yang mencintai dan menyayanginya yaitu Xavion calon suaminya.
El juga beberapa kali mendengar suara hewan malam. Rasanya tinggal di tengah hutan seperti ini, tidak terlalu buruk juga walaupun dia tidak tau alasan kenapa calon suaminya memilih membangun mansion mewah di dalam hutan.
"Besok mommy minta kita fitting baju pengantin."
"Hah? Tadi mommy juga sudah mengatakannya pada El untuk mengajak Kakak fitting baju pengantin sekalian ambil cincin. Kakak bisa meluangkan waktu pukul berapa?" Tanya El. Mommy dari calon suaminya itu mengatakan untuk bertanya pada Xavion. Kapan Xavion memiliki waktu luang besok. Butik dan toko perhiasan akan menyesuaikan dengan jadwal calon suaminya itu.
"Datang ke kantor pukul sebelas. Kita pergi setelah makan siang."
"Oke siap Kak, nanti biar aku bilang ke mommy. Karena mommy bilang harus memberitahukannya kapan Kak Xavion bisa."
Setelah selesai makan, El dengan sigap merapikan meja dan menyusun piring kotor mereka menjadi satu tumpukan supaya para pelayan bisa mengambilnya dengan cepat.
"Ayo," ajak Xavion. Pria pemilik manik abu-abu itu menarik tangan calon istrinya dengan lembut menuju sebuah ayunan kayu yang ada di rooftop itu. Di depan ayunan itu ada meja yang di atasnya ada hiasan lampu berbentuk tabung yang mengeluarkan cahaya dengan bentuk kupu-kupu.
El berdecak pelan karena kagum. Dia baru sadar ada tempat ini, padahal jaraknya dekat dari tempat mereka makan tadi. Dia duduk saat calon suaminya menariknya untuk duduk di ayunan itu.
__ADS_1
Keduanya berayun pelan sambil berpelukan atau lebih tepatnya Xavion yang memeluk El dengan erat, sedangkan El menyandarkan kepalanya pada dada bidang calon suaminya itu. Mereka berdua tersenyum kecil sambil menikmati momen indah itu.