Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam

Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam
04. Alergi Keju


__ADS_3

"Love?"


El sedang fokus membaca novel yang dibelikan oleh Xavion. Mendengar ada yang memanggilnya, dia mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara itu. Tanpa sengaja mata mereka bertemu beberapa detik, El memutuskan kontak mata mereka karena dia malu menatap Xavion dan langsung menundukkan kepalanya.


Jatung El berdetak kencang saat mendengar langkah kaki Xavion yang kian mendekat.


"Love?"


"Iya?" Jawab El yang masih setia melihat ke bawah sambil meremas pelan novel yang ada di tangannya.


"Makan."


"Kak," panggil El. Dia memberanikan diri untuk meraih tangan calon suaminya untuk menghentikannya. "Boleh aku makan di kamar saja?"


El masih sedikit takut bertemu para pelayan yang ada di mansion calon suaminya, Xavion. Setelah kejadian dengan pelayan bernama Clarissa itu, El tidak mau bertengkar lagi.


"Oke," jawab Xavion. Dia mengusap rambut calon istrinya dengan lembut. Dia keluar dari kamar sementara yang di tempati calon istrinya, El.


Sebenarnya, Xavion bisa saja memaksa El supaya sekamar dengannya. Tapi, dia ingin kelinci kecil penakutnya menghabiskan waktu sendirian sebelum mereka mengikat janji suci.


'Kelinci kecilnya masih perlu mempersiapkan dirikan?'


Para pelayan dan para koki yang melihat Tuan besar mereka di dapur langsung menundukhormat pada Xavion.


"Makanan ke kamar."


Xavion meninggalkan dapur setelah mengatakan keperluannya. Dia bahkan tidak mau menjelaskan maksud ucapannya tadi. Mereka yang bekerja di bawah kepemimpinannya harus mengerti segalanya dengan cepat tanpa banyak bertanya.


Tok... Tok... Tok...

__ADS_1


El mendengar ada yang mengetok pintu kamarnya, dengan segera dia membuka pintu mendahului Xavion yang hendak bangun. Dia tidak mungkin membiarkan calon suaminya yang membuka pintu.


Mata El berkedip-kedip dengan kaget ketika melihat beberapa pelayan yang mendorong troli berisi makanan. Dia memberi jalan untuk para pelayan bisa masuk dan menata makanan di meja yang ada di kamarnya.


"Kami permisi Tuan besar."


Xavion sedari tadi memeperhatikan setiap gerak-gerik kelinci kecil kesayangannya itu. Mulai dari El membuka pintu, saat kelinci kecilnya berdiri dengan wajah kaget melihat para pelayan membawa makanan, hingga saat dia menutup pintu.


El melangkah ke arah Xavion dengan kepala yang terus menunduk. Semakin diperhatikan, semakin menyenangkan sekali memiliki kelinci kecil di hidupnya ini. El yang terlalu polos, pemalu, dan penurut benar-benar membuat sisi dominan Xavion bangkit dengan sempurna.


Adrenalin Xavion terpacu karena keinginannya untuk memiliki dan berkuasa atas kelinci kecilnya itu. Rasanya dia ingin mematahkan kaki kelinci kecilnya supaya dia tidak bisa pergi kemanapun.


"Kak, ayo makan."


Xavion mengangguk dan menghampiri El ke sofa di kamar itu. Nasi goreng, nugget, udang saos pedas manis, dan beberapa potong kue yang beraneka warna dan rasa. Para pelayan tidak lupa menyiapkan air putih, susu, dan jus melon.


El mengisi piring calon suaminya dengan nasi dan udang saos pedas manis sesuai permintaan Xavion. Dia hanya mengambil nesi goreng saja, menurutnya itu sudah cukup tidak perlu menambah lauk lagi.


"Ini kue rasa apa, Kak?" Tanya El. Dia mengambil sepotong kue berwarna merah pastel dengan irisan buah strawberry di atasnya. Sedari tadi, El menatap kue itu penuh minat dan ingin memakannya.


"Tidak tau, Strawberry mungkin." Jawab Xavion acuh tak acuh. Bukan berarti dia tidak perduli dengan El tapi karena dia tidak tau rasanya. Melihat warnanya yang merah dan ada irisan strawberry di atasnya jadi dia menjawab dengan asal saja.


"Boleh aku makan yang ini?" Tanya El. Biar bagaimanapun inginnya, dia harus meminta ijin terlebih dahulu dari Xavion.


"Makan saja." Senyum El merekah bagaikan sinar matahari saat Xavion mengijinkannya makan kue itu. Dia menggigit kue itu dengan gigitan kecil sambil bergumam pelan. "Emm... Rasanya enak sekali."


Xavion menatap calon istrinya yang sibuk memakan kue itu sambil sesekali bergumam. Dia hanya fokus pada calon istrinya yang sangat menggemaskan. 'Bolehkah aku menggigit pipinya yang mengembung sedikit karena mengunyah?'


El yang sibuk dengan kue yang ada di tangannya, tanpa sedikitpun menyadari jika Xavion sedang memperhatikannya sedari tadi. Dia terkejut ketika merasakan rasa keju di dalam mulutnya. Matanya melotot melihat keju yang lumer di tengah kue itu.

__ADS_1


Dia meraih tisu dan segera membuang kue yang ada di mulutnya ke tisu yang dia ambil. Secara refleks dia membuang kue itu di piring kotor. Calon istrinya Xavion Kenzie Alexander itu menggigit bibir bawahnya dengan wajah panik.


El mempunyai alergi terhadap keju dan tadi dia tanpa sengaja menelan sedikit kue yang ada kejunya. 'Semoga alergiku tidak kambuh karena itu.'


Dia menyalahkan dirinya karena tidak memperhatikan kue itu sebelum memakannya. Tidak ada masalah jika alerginya kambuh, tapi dia tidak ingin merepotkan siapapun.


Saat alerginya kambuh membuat demam tinggi, area leher dan wajah akan muncul ruam merah yang gatal.


"Kenapa?"


"Tidak ada, Kak. El baik-baik saja. Jangan khawatir." Mata El membuat saat Xavion mengangkat wajahnya supaya menatap kearahnya. "Alergi keju, Kak!"


El menutup matanya sambil mengatakan hal itu. Dia sangat gugup ketika harus bertatapan dengan calon suaminya itu.


"Seberapa parah?"


"Demam dan muncul ruam merah yang gatal, Kak. Tapi tidak masalah Kak, ini tidak membahayakanku. El janji tidak akan merepotkan Kak Xavion."


"Tidur di kamarku." Tanpa banyak bicara, Xavion menggendong El ala bridal menuju kamarnya. Dia tidak mungkin membiarkan kelinci kecilnya kesakitan sendirian.


Xavion sendiri juga mempunyai alergi terhadap coklat. Meski reaksinya hanya sebatas gatal-gatal saja. Dia akan sembuh selama dua hari setelah mengoleskan salep, tapi hal itu benar-benar menyiksa sekali. Dia tidak ingin kelinci kecil kesayangannya tersiksa apalagi reaksi alerginya lebih parah darinya.


"Pelayan, Dokter Ann!" Perintah Xavion pada seorang pelayan yang kebetulan melewatinya. Pelayan itu mengangguk dan bergegas melaksanakan tugas dari Tuan besarnya.


Xavion mendekatkan wajahnya pada sensor mata supaya bisa masuk ke dalam kamar pribadinya. Dengan hati-hati, dia membaringkan tubuh El yang sedikit bergetar di ranjang king size miliknya. Dia akan menjaga El sendiri malam ini.


Xavion akan menghukum semua orang yang terlibat dengan hal ini. Tidak perduli, itu isengaja atau tidak, mereka harus tetap dihukum!


"Tuan Besar."

__ADS_1


Xavion duduk di kursi kebesaran miliknya itu. Mata abu-abunya menatap tajam beberapa orang yang sedang berlutut dihadapannya. Semua orang menunduk tanpa ada yang berani mengangkat kepala mereka untuk menatap sang majikan.


Jari jemari Xavion Kenzie Alexander mengetuk meja perlahan namun menciptakan suasana yang mencekam dan mengerikan di dalam ruangan itu. Pria kejam itu mengingat ucapan dokter tentang kelinci kecilnya. El akan sedikit tersiksa karena demam yang di alaminya sebab itu adalah reaksi dari alerginya.


__ADS_2