
"Sakit?"
El memejamkan matanya, enggan menjawab pertanyaan dari calon suaminya itu. Tubuhnya masih sedikit gemetaran karena rasa takut yang dirasakannya. Bahkan rasa perih karena cairan alkohol yang menyentuh lukanya tidak sebanding dengan rasa takutnya.
Xavion sedari tadi sibuk berlutut di depan calon istrinya sambil mengobati luka di lutut dan telapak tangan kelinci kecilnya itu, menggeram pelan. Kelinci kecil kesayangan yang dia jaga mati-matian, kini malah ketakutan karena karyawan sialan itu.
Hal ini juga terjadi karena salahnya yang membiarkan kelinci kecilnya masuk sendirian. Harusnya dia memerintah supir kelinci kecilnya itu untuk mengantarkannya masuk sampai di ruangannya atau dia bisa meminta sekertarisnya menjemput kelinci kecilnya itu.
'Sial!' Xavion benar-benar mengakui kecerobohannya.
"Love?"
"Mau pulang. El tidak mau disini, El takut!" Seru El. Dia senantiasa menutup matanya, enggan menatap kearah wajah calon suaminya. Dia takut dan juga malu karena penampilannya yang acak-acakkan.
"Baiklah. Aku akan menghubungi Mommy dulu." Xavion berhenti melangkah menuju ke meja kerjanya saat sebuah tangan menggenggam jari kelingkingnya. Dia menoleh dan menatap kelinci kecilnya yang menggelengkan kepalanya.
"Jangan... Kasihan Mommy sudah menunggu. Kita tetap pergi saja, El takut disini."
Xavion menghembuskan nafas kasar mendengar ucapan kelinci kecilnya.
'Sialan! Saat diteror dengan tikus mati beberapa waktu lalu kelinci kecilnya tidak setakut ini, tapi karena hal tadi kelinci kecil kesayangannya jadi setakut ini. Aku akan membalas semuanya.'
Xavion melirik El dengan ujung matanya, dia melihat kelinci kecilnya masih gemetaran dalam gendongannya. Airmata kelinci kecil kesayangannya terus saja mengalir bak air terjun.
'Sial! Aku kecolongan dalam wilayah kekuasaanku sendiri.'
Dia keluar dari lift, menampakkan wajahnya yang begitu datar hingga tidak ada karyawannya yang berani menatap atau melirik kearahnya. Dia hanya fokus pada kelinci kecilnya yang menutup mata dalam pelukannya. Pikirannya dipenuhi rencana untuk membalas setiap rasa sakit yang dirasakan oleh kelinci kecil kesayangannya.
Namun yang membuatnya heran, seharusnya kelinci kecilnya tidak setakut ini. Tidak jarang, dia mendapat terror hewan-hewan mati yang berlumuran darah tapi itu tidak membuatnya sampai seperti ini.
'Apa mungkin karena kejadiannya ini melibatkan fisiknya? Atau apa?' Batin Xavion
El didudukkan pada kursi penumpang di samping kursi kemudi. Xavion berjalan memutar untuk masuk ke dalam mobil bagian pengemudi. Bibirnya terangkat menampilkan senyum kecil saat melihat kelinci kecilnya sudah tudur dengan nyenyak.
__ADS_1
...
Mobil Xavion berhenti di depan sebuah butik mewah sesuai apa yang sang mommy katakan. Namun, mereka masih diam di dalam mobil tanpa ada pergerakan untuk turun dari mobil. Xavion yang masih tetap diam di dalam mobil karena menunggu kelinci kecil kesayangannya yang masih tidur dengan nyenyak. Dia akan menunggu sampai El bangun dengan sendiri tanpa dia yang membangunkannya.
Ponsel Xavion berdering dengan keras membuatnya mendengus kesal. Dia mengangkat dengan cepat panggilan telepon dari sang mommy, karena takut tidur El terganggu.
"Kamu dimana? Apa kamu datang terlambat? Jangan bilang kamu masih berkencan dengan kertas-kertas di perusahaanmu itu?"
"Di luar. El masih tidur."
"Tidur? Baiklah, nanti saja kamu masuk ke dalam kalau menantu kesayangan mommy sudah bangun. Kasihan dia pasti lelah sekali hidup dengan manusia es sepertimu."
"Hmm..."
Panggilan itu dimatikan oleh sang mommy membuat Xavion berdecak kesal. Tingkah mommynya selalu aneh dan tidak terbaca olehnya. Tapi jika mommynya tidak begitu, dia tidak akan bertemu dengan kelinci kecil kesayangannya itu. Setidaknya Xavion sedikit bersyukur karena sifat mommynya itu.
"Eugh..." Xavion menoleh ke samping saat mendengar suara lenguhan kelinci kecilnya itu. Manik abu-abu miliknya menatap tajam kelinci kecilnya yang mulai membuka matanya, tidak sedikitpun dia mengalihkan perhatiannya dari gerak-gerik yang dilakukan oleh kelinci kecilnya itu.
"Kak? sudah sampai?" Tanya El. Dia mengucek-ngucek matanya sama mengantuk, lalu memperhatikan sekitar dan melihat butik mewah yang diberitahu oleh calon mommy mertunya.
"Ahh maaf Kak, karena aku tidur jadi kita terlambat. Mommy pasti marah? Seharusnya Kakak membangunkanku saja."
"Cium aku."
"HAH?" Pekik El terkejut. Dia tidak sadar jika suaranya naik beberapa oktaf karena terkejut atas ucapan calon suaminya yang begitu gamblang tanpa disaring.
'Apa aku salah dengar? Tidak mungkin Xavion mengatakan hal seperti itu?' Batin El.
Xavion tersenyum kecil melihat kelinci kecilnya menutup mata dengan tubuh yang sedikit bergetar. Reaksi alami yang selalu ditunjukkan oleh El saat mereka berdua berdekatan terlihat sangat jelas. Apalagi dengan ucapannya tadi, kelinci kecilnya pasti akan semakin panik dan gugup. Dia mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan kelinci kecilnya. Dia hanya dia dan menunggu kelinci kecilnya itu membuka matanya.
Mata El perlahan terbuka dan bibir Xavion langsung mencium bibir kelinci kecilnya yang kaget karena melihat wajah Xavion yang begitu dekat dengan wajahnya. Xavion ******* bibir merah El dengan sangat lembut dan penuh nafsu. Dia sengaja menunggu kelinci kecil kesayangannya membuka mata lalu menciumnya. Dia ingin menatap mata calon istrinya itu.
El menatap manik abu-abu calon suaminya dengan jantung yang berdetak kencang seperti lari dikejar hantu. Bibirnya dicium dengan lembut dan hawa nafsu oleh Xavion. El tidak bisa mengimbanginya, karena itu adalah pengalaman pertama kali untuknya.
__ADS_1
Manik abu-abu milik Xavion seakan-akan menghipnotisnya. Manik mata yang sangat indah seperti menariknya masuk lebih dalam ke dalam diri Xavion. Ternyata mata calon suaminya seindah ini dan dia baru menyadari hal itu.
"Manis."
Rasa panas menjalar ke seluruh wajah El membuat wajahnya merah merona seperti kepiting rebus saat Xavion melepaskan ciumannya. Matanya mengerjab saat mengingat dia begiru berani menatap mata calon suaminya dengan sangat lama.
'Bagaimana ini? El sangat malu.' Batin El dengan wajah yang masih sangat memerah.
"Ayo turun," ajak Xavion. Dia memahami jika kelinci kecilnya itu sedang malu saat ini. Dia tau jika kelinci kecilnya itu pasti akan panik seperti yang biasanya saat menatap matanya.
Xavion merangkul pinggang kelinci kecilnya dengan erat dan membawanya memasuki butik mewah yang hanya dikunjungi oleh orang kaya atau para bangsawan atau para pejabat. Dia menatap datar ke depan tidak melirik sedikitpun pada para karyawan wanita yang terpesona padanya.
'Mewah sekali. Pantas saja mahal.' El tidak perduli dengan para karyawan wanita itu, dia hanya mengagumi desain butik dalam hatinya. Butik itu sangat mewah dan elegan dengan warna putih dan gold yang menjadi warna didingnya. Gaun-gaunnya cantik dan mahal, sebagian yang di pasang pada manekin dan sebagiannya di gantung berjejer dengan berbagai warna dan style. Lantai butik itu di lapisi dengan karpet tebal yang lembut.
"El!" El melihat ke arah sumber suara yang memanggilnya. Calon mommy mertuanya melambai padanya dengan senyuman bahagia. El dan Xavion mendekat ke arah sang mommy.
"Bagaimana tidurnya, Sayang? Masih mengantuk?"
"Tidak, Mom. Maafkan El karena ketiduran dan membuat kami terlambat masuk."
"Tidak masalah. Ayo masuk ke ruang gati dulu, coba gaun pengantin yang dipilih Xavion." El menatap Xavion yang mengangguk dan memberikan isyarat untuk mengikuti karyawan wanita butik itu. Xavion sudah memilih gaun pengantin untuk calon istrinya terlebih dahulu.
El melangkah dengan patuh ke ruangan ganti baju bersama lima karyawan wanita. Dia menatap dengan kagum gaun pengantin pilihan Xavion yang sangat cantik dan mewah.
"Anda sangat cantik, Nona. Tuan Xavion pasti akan terpesona pada Anda." Puji salah seorang karyawan butik itu saat El mengenakan gaun indah itu. Kelima orang itu memekik takjub pada tubuh ideal El yang sangat cocok mengenakan gaun itu.
El tersenyum kecil, dia tidak terbiasa dipuji seperti itu. Gaun yang dia kira berat karena bentuknya yang mengembang ternyata tidak seberat yang dia pikirkan. Gaun itu tidak terlalu berat dan memudahnya bergerak. Gaun yang dia kenakan sangatlah lembut dan nyaman.
"Sudah jangan ribut. Buka tirainya, biarkan Tuan Xavion melihat calon istrinya." Kata sang pemilik butik itu. Dua orang membuka tirai yang menampilkan El yang sudah mengenakan gaun pengantin pilihan Xavion.
Xavion menatap pada calon istrinya yang sangat cantik dengan balutan gaun pengantin pilihannya. Manik abu-abunya menatap setiap inci pada tubuh kelinci kecilnya, memastikan bahwa gaun itu sangat cocok dan tidak terlalu terbuka. Sebenarnya, dia tidak rela jika kecantikan kelinci kecilnya di lihat oleh orang lain.
__ADS_1
'Perfect.'
Xavion tidak sabar untuk menikahinya.