Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam

Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam
03. Bertengkar


__ADS_3

"Love?"


El menoleh kearah pintu kamarnya. Meski dia bisa melihat calon suaminya yang sedang bersandar pada pintu kamarnya melalui cermin besar ada di depannya. Tapi dia merasa bahwa itu tidak sopan. Dia merasa sopan jika dia menghadap pada pria bermanik abu-abu itu.


El mendekati Xavion dengan rambut yang masih basah. Tadi, dia sedang mengerikan rambutnya dengan hair dryer sebelum Xavion datang. Dia melihat dasi Xavion yang belum terikat dengan cekatan dia mengikat dasi Xavion.


"Kerja."


El hanya mengangguk saja tanpa menatap Xavion, karena matanya hanya fokus pada dasi milik Xavion. Dia belum berani untuk menatap mata Xavion atau hanya sekedar melihat wajah Xavion.


"Diam," kata Xavion. El sekali lagi hanya mengangguk menandakan bahwa dia setuju dengan apq yang Xavion katakan. Xavion pergi bekerja dan El tidak diijinkan bekerja ataupun memasak.


"Boleh El membaca di perpus?"


"Hm..." Deheman Xavion El artikan sebagai tanda 'boleh'. El mengekori Xavion menuju depan untuk mengantarkan kepergian Xavion. Sebelum Xavion pergi El mengecup pipi Xavion.


Sementara Xavion hanya tersenyum tipis melihat apa yang kelinci kecilnya lakukan. Dia mengusap kepala El dengan kelembutan dan penuh cinta. Seperti apa yang semua yang diucapkan mommynya dilakukan oleh El tanpa terlewat satupun. Xavion suka hal itu, pilihan mommynya sesuai dengan kreterianya.


Xavion pergi menggunakan Lamborghini aventador andalannya. El pergi ke kamarnya untuk melanjutkan untuk mengeringkan rambutnya yang setengah basah itu. Lalu setelah itu menghabiskan waktu di perpustakaan milik Xavion.


"Hei!"


Seorang pelayan menghentikan langkahnya. El menatap pelayan yang seumuran atau sedikit lebih tua darinya dengan tatapan heran. Dia baru melihat sikap seorang yang tidak sopan padanya.


Bukannya El menginginkan untuk dihormati atau apapun itu. Selama dua hari di mansion ini, dia tidak pernah ada seorangpun yang bersikap tidak sopan padanya. Kebanyanyakan para pelayan akan menunduk padanya.


"Kau enak banget dilayani seperti seorang ratu. Ini sapu! Lakukan tugasku."


"Kamu siapa?" Tanya El. Karena dia tidak pernah melihat pelayan ini selama dua hari ini.


"Aku? Calon istri Tuan Xavion. Kau akan di buang seperti sampah yang tidak berguna dan dijadikan seorang seperti yang lainnya!"


El mengerjapkan matanya. 'Calon istri? Apa Xavion memiliki calon istri sebelumnya? Tapi kenapa Xavion tidak memberitahunya sama sekali? Mommy Xavion juga tidak mengatakan apapun mengenai mantan calon istri Xavion.'


"Sekarang bersihkan teras yang ada di mansion ini sampai bersih!" Perintah pelayan itu. El mematung karena kaget dengan kelakuan yang ada didepannya itu.


"Clarissa! Apa yang kamu lakukan? Berani sekali kamu memerintah Nyonya!" Sentak Bella.


"Kamu lupa? Aku yang akan menjadi Nyonya di mansion ini! Cuma aku satu-satunya pelayan yang pernah masuk ke kamar Tuan Xavion. Kenapa? Karena Tuan tertarik denganku!"


El semakin bingung karena Xavion tidak pernah mengatakan apapun tentang pelayan yang bernama Clarissa ini. El akan melakukan perintah dari pelayan itu, jika dia tidak mengingat apa yang Xavion katakan. Dia tidak diperboleh melakukan pekerjaan apapun.


Selain itu, Xavion juga mengatakan akan menghukum jika dia menunduk pada orang lain selain Xavion. El tidak ingin membuat Xavion marah padanya. El menghempaskan sapu itu ke lantai.


"Kamu itu hanyalah seorang pelayan. Tidak boleh menyuruhku yang adalah seorang Nyonya dari mansion ini." Kata El dengan lembut. Dia tidak terbiasa berbicara dengan keras kepada orang lain. Meskipun begitu, dia berusaha keras supaya terlihat sedang marah.


"KAU! BERANI SEKALI MELAWANKU?!"


"Aku adalah Nyonyamu. Berlutut kau pelayan." Karena ucapan El, semua pelayan yang ada di situ semuanya langsung berlutut sesuai dengan perintah Nyonya mereka. El kaget melihat semua pelayan itu berlutut karena ucapannya kecuali pelayan yang bernama Clarissa.

__ADS_1


Padahal yang ingin untuk berlutut adalah Clarissa bukan pelayan yang lain.


"Kalau kamu Nyonya di mansion ini. Kenapa kamu memakai seragam pelayan? Nyonya di mansion ini adalah aku, karena aku tidak memakai seragam pelayan sepertimu!"


"Tunggu sebentar lagi, kau akan memakai seragam pelayan sepertiku. Tuan sudah sering melakukan hal ini, bermain sampai puas setelah itu dijadikan sebagai pelayannya."


"Jangan berbohong kamu!" Sentak El lembut. Dia sama sekali tidak percaya apa yang dikatakan oleh Clarissa. Mommy mertuanya pernah bilang kalau calon suaminya tidak pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain sebulum dirinya hadir, meskipun banyak wanita-wanita yang tertarik padanya. Xavion terlalu membenci para wanita murahan itu.


"Berlutut kau pelayan!"


Mendengar suara tegas itu, membuat Clarissa secara cepat untuk berlutut sambil menunduk takut. Xavion menghampiri El lalu mengelus lembut kepala calon istrinya itu seakan-akan mengatakan bahwa 'dia bangga dengan apa yang El lakukan'.


Xavion meraih pinggang calon istrinya itu dan membawanya pergi dari sana. "Tetap berlutut sampai saya kembali."


Jantung El berdetak sangat kecang seperti habis lari maraton saat kepalanya diusap oleh Xavion secara tiba-tiba. Belum lagi pinggangnya dipeluk dengan erat membuat El semakin gugup. Dia tidak menyangka Xavion akan kembali secepat ini.


Xavion selalu memantau semua yang El lakukan melalui CCTV di mansion yang dia pasang tanpa sepengetahuan El. Melihat apa yang Clarissa lakukan, Xavion meminta supirnya untuk kembali lagi ke mansion.


Xavion sangat mengenali siapa pelayan itu. Dia adalah pelayan satu-satunya yang bersikap seakan dia adalah Nyonya mansion ini. Xavion memanggil Clarissa ke kamarnya untuk membersihkan darah yang ada di lantai kamarnya. Dia tau jika Clarissa sering sekali menindas para pelayan yang lain. Tapi dia tidak menyangka bahwa Clarissa berani menindas calon istrinya.


"Good girl."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Xavion, El menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah merah seperti kepiting direbus. Xavion sekali lagi mengusap kepala El dengan lembut. Dia senang El bisa melakukan apa yang dia katakan.


"El tidak mau di hukum."


"Pertahankan," kata Xavion. Dia terkekeh menatap El yang masih menunduk.


"Iya." El masuk ke dalam pelukan Xavion saat Xavion menarik ke pelekukannya dengan lembut. "Sekarang, masuk ke kamar. Tunggu aku kembali."


Xavion melangkah ke tempat para pelayan yang masih berlutut tadi. Wajahnya terlihat datar dan mengerikan. Dia akan melakukan apapun yang El minta padanya.


"Bangun!"


Semua pelayan serentak bangun sambil menundukkan kepala mereka, karena mereka takut melihat wajah Tuan mereka yang mengerikan itu. Atmosfer seluruh ruang tamu terasa mencekam sekali hingga para pelayan yang ada di sana merasa sulit untuk bernafas.


"Kalian semua hanyalah pelayan di mansion ini. Jangan banyak bertingkah!" Kata Xavion dengan tegas. Sebenarnya, dia senang saat salah satu pelayan melakukan hal itu. Dia ingin melihat apakah El akan melakukan apa yang dia katakan. Tapi, hal tadi sudah melewati batas karena dia melihat Clarissa berniat menampar El. Tidak ada seorangpu yang bisa menyentuh miliknya, apalagi menyakitinya.


"Ares, seret pelayan itu ke ruang bawah tanah!"


"Baik Tuan." Kata seorang pengawal berbadan besar . Sebelum menyeret Clarissa, dia menunduk kepada Xavion. Clarissa meronta-ronta, memohon supaya dimaafkan. Tapi Xavion bukan pria yang baik hati, dia adalah jelmaan dewa Hades. Dia akan membunuh siapapun yang mengusiknya.


"Buat teh hangat untuk El."


"Baik Tuan besar." Jawab Bella. Dia pergi membuat teh seperti yang di minta oleh Tuannya. Mereka semua bernafas lega karena hanya Clarissa saja yang di hukum, biasanya Tuan besar mereka akan menghukum siapapun yang dekat dengan kejadian itu.


Di kamarnya, El duduk sambil menundukkan kepalanya. Dia sedikit kaget karena kejadian itu. Meskipun, dulu saat bekerja di cafe dia menemui berbagai sifat orang. Tapi, dia tidak pernah sekalipun menemukan pelanggan yang memarahinya.


Kejadian tadi adalah yang pertama bagi El untuk melawan seseorang dengan sedikit rasa percaya diri. Dan El berpikir bahwa 'dia mungkin tidak akan bisa melakukan itu untuk yang kedua kalinya'.

__ADS_1


"Love?"


El menghampiri Xavion yang masuk ke kamarnya membawa teh hangat untuknya.


"Kaget?"


"Iya. El baru kali pertama bertemu dan melawan orang yang sedang marah-marah. El tidak mau lagi melakukan hal seperti itu tadi. El takut."


"Hmm..." Xavion mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi, dia tidak bisa menjamin hal itu ketika diluar mansionnya. Di mansionnya, dia bisa memastikan hal itu tidak akan terjadi lagi. Sementara diluar sana, dia memiliki banyak musuh, belum lagi para wanita gila yang tertarik padanya.


....


El mengerjabkan matanya perlahan-lahan untuk menyesuaikan dengan sinar matahari yang masuk melalui celah-celah gorden. Dia menoleh ke samping dimana Xavion yang masih tertidur di sampingnya.


El menyentuh pipi Xavion untuk pertama kalinya. Dia berani menyentuh Xavion seperti itu, dikarenakan Xavion masih tidur. Calon suaminya itu benar-benar sangat tampan dan El tidak bisa menyangkalnya.


Hidung mancung, rahang tegas, alis tebal, dan bibir tipisnya. Bagi El, Xavion adalah seorang malaikat tampan yang telah menyelamatkan hidupnya. El tersadar apa yang tengah dia lakukan, dia bergegas kabur ke kamar mandi dengan wajah semerah tomat.


'Apa yang sudah sedang dia lakukan?'


Mendengar pintu kamar mandi ditutup, Xavion membuka matanya. Senyuman tipis terbit dibibirnya saat tau bahwa calon istrinya berani menyentuh pipinya.


Xavion melihat El seperti seekor kelinci kecil penakut. Dia terhibur dengan sifat penakut yang dimiliki El. Tidak salah dia memberi tahu kreteria pada mommy.


Setelah beberapa menit kemudian, El selesai mandi. Saat El keluar dari kamar mandi, Xavion fokus dengan smartphonenya. Mendengar pintu kamar mandi terbuka, Xavion menoleh ke sana. El membeku di depan pintu kamar mandi dengan wajah merah merona karena Xavion melihatnya hanya memakai bathrobe.


Setelah sadar, El berlari ke walk in closet untuk mengganti bathrobenya itu. Dia takut jika Xavion menganggapnya wanita murahan yang ingin menggoda Xavion.


Setelah selesai berganti pakaian, El mendekati Xavion yang duduk di ranjang queen sizenya. Dia gugup dan takut kalau Xavion salah padanya kerena kejadian tadi.


"Kak," panggil El. Dia menunduk tidak berani menatap Xavion. "Maaf, El tidak bermaksud menggoda Kakak. Tadi El tidak tau kalau Kakak sudah bangun."


"Hmm..." Jawab Xavion membuat jatung El berdetak kencang mendengar deheman itu. 'Apa Xavion benar-benar kecewa dengannya? Bagaimana membujuk dan menjelaskannya jika aku tidak sengaja?'


Selama tiga bulan ini, El selalu bergantung pada Xavion, bukan hanya materi tapi seluruh hidupnya. Karena Xavion, dia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dari mommy mertuanya. Dulu, dia hanya memiliki ibu tiri karena mommy kandungnya meninggal saat melahirkannya. Ibu tirinya adalah orang yang bermuka dua, dia akan baik hanya kalau ada daddynya saja. Jika daddynya tidak ada, ibu tirinya memperlakukannya layak seorang budak.


Sedari kecil, El sudah terbiasa diam saat diperlakukan dengan buruk. Karena perlakuan itu, sikap penakut dan lemahnya terbentuk.


Karena perlakuan buruk dari ibu tirinya itu, El akan mudah tersentuh pada mereka yang memberikannya perhatian. Contohnya seperti Nyonya Lyn, El akan menuruti apa yang Nyonya Lyn ucapkan tanpa membantah sedikitpun.


Sekarang El sangat bergantung pada Xavion. Karena Xavion memberikannya perhatian dan kasih sayang. Bahkan Xavion akan siap siaga kapanpun El membutuhkannya. Xavion tidak pernah mempermasalahkan saat El bersikap lemah dan penakut di depannya.


Calon suaminya itu juga tidak banyak menuntut padanya. Dia diperlakukan seperti seorang ratu oleh Xavion. Dia cemas jika kejadian itu membuat Xavion kecewa padanya.


"Kak!"


El tidak sengaja memekik pelan ketika tubuhnya ditarik ke atas pangkuan Xavion. El menunduk tidak beranik mendongak untuk menatap Xavion.


Dia merasa sebuah benda kenyal mendarat di bibir merahnya dan bergerak dengan lembut. El meremas baju Xavion saat Xavion menciumnya.

__ADS_1


"Aku akan lebih senang jika kau tidak memakai pakaian sama sekali."


__ADS_2