
"Kamu berhutang dua ciuman terima kasih padaku." Tagih Xavion. Pria itu memandangi istri cantiknya yang terlihat imut dan menggemaskan dengan wajah kagetnya. Bibir pria itu berkedut menahan senyuman ketika istrinya mendekat padanya. Dia sedikit merendahkan tubuhnya supaya memudah istrinya mencium pipinya.
"Kita baru bisa pulang ke mansion saat siang. Kondisi jalan ke mansion belum aman."
"Baiklah."
"Tidak ingin bertanya?"
"Nanti Kak. Kak Xavion bilang lapar jadi ayo makan dulu. Setelah makan El akan bertanya pada Kak Xavion apa yang terjadi." Jelas El. Bibirnya menyunggingkan senyuman hangat pada suaminya yang sedang menatapnya dengan wajah khas milik suaminya itu, datar.
Xavion salut pada istrinya itu. Dia tidak bertanya lebih jauh hanya karena dirinya mengatakan lapar tadi. Istri kecil kesayangannya itu lebih mementingkan dia daripada rasa penasarannya.
Well, itu memang sifat istrinya tapi Xavion belum terbiasa akan hal itu. Tidak masalah, bagaimanapun gadis kecil itu dia akan tetap mencintainya selama menurut padanya.
....
"Bee? Sakit?"
Xavion baru saja masuk ke kamar, mendapati istrinya berbaring di atas ranjang dengan wajah pucat. Pria itu baru dari lantai bawah setelah membeli telur gulung yang ada di pinggir jalan dekat hotel mereka tempati. Saat mereka duduk di balkon, Kelinci kecil kesayangannya itu melihat gerobak penjual telur gulung itu berhenti di depan hotel. Xavion melihat istrinya terus memperhatikan gerobak itu lalu menawarkan untuk membeli makanan itu pada istri kesayangannya itu.
Telur gulung diletakan di atas meja samping ranjang. Xavion duduk di samping istrinya untuk memeriksa kondisi kelinci kecilnya itu. Seingatnya saat dia keluar tadi, istrinya itu masih baik-baik saja tapi sekarang wajah istrinya itu pucat seperti mayat.
__ADS_1
El membuka matanya saat mendengar suara suaminya. Matanya bertemu dengan mata abu-abu milik suaminya yang menatapnya khawatir. Bibirnya yang pucat mengulas senyuman kecil karena suaminya itu terlihat begitu khawatir.
"El hanya sedikit pusing, Kak." Ucap El sambil mengusap lembut lengan suaminya untuk menenangkan pria kesayangannya itu. Dia juga tidak tau, tapi kepalanya tiba-tiba merasakan pusing saat baru masuk ke dalam kamar setelah dari balkon bersama suaminya. Jadi gadis itu memutuskan berbaring di atas ranjang seraya menunggu suaminya kembali dari membeli camilan yang ada di bawah sana.
"Aku sudah menelpon dokter, Bee. Sepertinya kamu kelelahan."
"Aku baik-baik saja, Kak. Tidak perlu dokter." Xavion tidak menjawab ucapan kelinci kecilnya itu. Pria tampan itu mengusap kepala istrinya dengan penuh cinta. Tangan besarnya sesekali memijat kepala istrinya. Dia berharap bisa mengurangi sakit kepala istri kesayangannya itu.
Pria itu merutuki dirinya sendiri karena tidak peka dengan keadaan istrinya itu. Seharusnya, dia bisa mengetahui jika kelinci kecilnya sakit lebih cepat dan dengan segera memanggil dokter bukan malah meninggalkannya sendirian di kamar. Meskipun itu untuk membelikan keinginan istri tercintanya. Rasa sesalnya menyeruak dari relung hati Xavion karena dirinya kurang peka sebagai suami.
Padahal dulu sebelum menikah, hanya dengan sekali lihat saja Xavion bisa mengetahui apa yang terjadi pada istrinya itu, tapi sekarang dia malah tidak bisa mengetahui apapun padahal mereka bersama.
Ting... Tong...
"Anda Tuan Verelle? Saya datang atas permintaan Anda untuk memeriksa ibu Anda."
Xavion mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan dokter pria itu. Sepertinya, dokter ini salah menekan nomor lift karena di lantai ini hanya dikhususkan untuknya. Mesti begitu, pria bermata abu-abu itu bernafas lega karena bukan dokter pria ini yang akan memeriksa istri kecilnya itu.
Walaupun dokter ini sudah terlihat cukup berumur namun Xavion tetap tidak rela tubuh istrinya disentuh oleh pria lain. Mau anak kecil, remaja, orang tua, bahkan mereka yang sudah sangat-sangat tua sekalipun, Xavion tetap tidak rela. Maurelle Alexander hanya miliknya dan hanya dia saja yang boleh menyentuh tubuh gadis itu.
"Sepertinya Anda salah lantai."
__ADS_1
"Oh benarkah? Tuan Verelle bilang dia berada di kamar VIP, saya kira kamar itu di bagian paling atas. Maafkan kecerobohan orang tua ini karena telah mengganggu Anda."
"Tidak masalah. Biar anak buah saya yang mengantar Anda." Ucap Xavion. Dia melirik seorang pengawal yang berjaga di samping pintu kamarnya. Pengawal itu mengangguk saat melihat kode yang diberikan sang tuan.
"Anda pria yang baik. Semoga kehidupan Anda selalu bahagia bersama keluarga Anda. Terima kasih." Xavion mengangguk pelan. Mata abu-abunya memperhatikan sang dokter berjalan ke lift. Disaat yang sama, seorang dokter wanita keluar dari lift.
"Selamat pagi Tuan Xavion. Saya dokter Zee dari rumah sakit pe..."
"Terlalu lama, cepat periksa istriku!" Potong Xavion. Dokter itu terlalu jelas menunjukkan rasa tertatik pada dirinya. Lihat saja mata berbinar dan gerak-gerik menggoda saat menyelipkan rambut ke belakang telinganya. Rasanya Xavion ingin meledakkan kepala dokter sialan ini, andai saja istrinya tidak sedang kesakitan di dalam sana.
"Oo... Anda sudah menikah?" Tanya sang dokter dengan senyuman genit. Namun senyumannya disambut dengan tatapan penuh permusuhan dari pria bermata abu-abu di hadapannya. Sepertinya, dia salah menggoda pria, seharusnya dia mempercayai rekan kerjanya yang mengatakan untuk berhati-hati dengan Xavion.
Well, berhati-hati untuk tidak jatuh cinta kan maksudnya? Siapa memang wanita yang tidak akan jatuh cinta pada wajah tampan sempurna milik pria dihadapannya ini. Belum lagi dirinya pasti sangat kaya karena bisa menempati kamar president suit di hotel ini. Katanya kamar ini berharga jutaan dollar.
Pasti istrinya sangat beruntung. Namun keberuntungan itu akan segera berakhir karena mungkin saja dirinya akan menggantikan posisi istri pria menggoda ini kan?
"****!" Umpat dokter Zee. Mata dokter itu menatap sosok gadis yang sedang bersandar di atas ranjang dengan pandangan terpesona. Bagaimana bisa ada seorang perempuan dengan paras yang begitu cantik seperti ini? Gadis itu tidak hanya cantik, namun dalam sekali lihat dia sudah bisa menebak karakter lembut gadis yang ada di hadapannya itu.
Bisakah Zee tarik kembali ucapannya? Dia bisa bersaing dengan gadis manapun untuk mendapatkan Xavion yang tampan dan menggoda di matanya. Tapi dia tidak bisa bersaing dengan malaikat cantik ini. Lihat saja, meski sedikit pucat gadis itu masih sangat cantik.
Xavion melirik sang dokter yang berjalan di belakangnya saat mendengar wanita itu mengumpat. Pandangan pria itu begitu datar dan dingin saat menatap sang dokter yang malah terpesona melihat sang istri.
__ADS_1
Xavion tidak terkejut sebenarnya jika dokter ini terpesona pada kelinci kecil kesayangannya itu. Mengingat istri kesayangannya itu terlihat begitu cantik meski tanpa makeup dan wajah pucatnya. Tidak aneh karena istrinya memang secantik bidadari.