Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam

Gadis Kecil Tuan Mafia Kejam
24. Ketakutan


__ADS_3

"Apa Anda membutuhkan sesuatu, Imperatrice?"


El kaget karena seseorang dengan tiba-tiba menyapanya dari arah belakangnya. Saat dia baru bangun tidur, dia tidak menemukan suaminya di dalam kamar mereka. Dia mencari Xavion setelah mencuci mukanya.


El berbalik menatap seorang pria asing berbaju hitam dan wajahnya di tutup menunduk kearahnya. Dia secara spontan mundur beberapa langkah saat melihat pria asing itu. Bukankah di lantai ini tidak ada penjaga? Bukankah para bawahan Xavion seharusnya tidak masuk ke dalam mansion? Apa pria ini orang yang sedang menyamar?


"Siapa aku?" Tanya El saat mengingat perkataan Xavion jika dia harus menanyakan siapa dirinya pada penjaga ini.


"Ciao Regina. Maaf membuat Anda terkejut, saya James Smith." Pria asing itu membuka maskernya dan menunjukkan wajahnya. Dia menunduk hormat melihat sang ratu ketakutan bahkan menanyakan pertanyaan tersembunyi padanya. Dia merasa bersalah karena mengejutkan sang ratu.


"Kau yang menghentikan kami tadi saat akan memasuki jalan menuju mansion? Ketua tim Demonio?"


"Benar, Imperatrice. Saya ketua tim Demonio milik Imperatore. Saya baru saja dari ruang kerja Imperatore untuk meletakan berkas penting di ruang kerjanya. Anda mencari sesuatu? Saya lihat Anda kebingungan, Imperatrice." Jelas James. Dia memang diminta Xavion untuk meletakkan berkas penting itu di ruang kerja sang tuan yang berada di lantai tiga.


Setelah beristirahat sebentar, James memeriksa berkas yang di berikan tuannya kemarin malam. Setelah selesai memeriksa berkas itu, dia mencetak dan meletakkannya di ruang kerja tuannya yang ada di lantai tiga. Saat keluar dari ruangan sang tuan, dia melihat sang nyonya celingak-celinguk mencari sesuatu. Maka dari itu, dia menghampiri sang nyonya untuk membantunya.


"Dimana Kak Xavion?"


"Setahu saya Imperatore ada di ruang pertemuan di lantai satu, Imperatrice. Sepertinya dia masih ada disana sekarang."


"Bisa antar aku kesana?" Tanya El. James mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan sang nyonya. Pria itu meminta nyonya mudanya untuk mengikutinya ke ruang pertemuan.


El berjalan di belakang James dengan perasaan ragu. Karena kejadian itu, dia waspada kepada orang dan tidak dengan mudah percaya dengan mereka. Gadis cantik itu sedikit percaya karena pria itu menjawab sesuai dengan apa yang telah suaminya katakan.

__ADS_1


Gadis itu tiba-tiba berhenti berjalan ketika James membuka sebuah pintu itu, di dalam ruangan itu sangat gelap. Dia ketakutan melihat ruang gelap itu, ingatannya kembali ke kejadian mengerikan itu sehingga membuatnya gemetaran.


El sangat takut, dia spontan melangkah mundur saat bayangan kejadian mengerikan itu memasuki pikirannya. Dia ketakutan melihat lorong gelap yang ada di depannya itu. Air matanya mengalir deras di wajahnya saat kejadian menakutkan diputar seperti kaset rusak di kepalanya.


"Imperatrice? Are you okay?" Tanya James khawatir.


'Kenapa Imperatrice terlihat ketakutan?' Batin James. Sungguh dia takut juga panik kalau tuannya akan menghukumnya yang membuat istri pria kejam itu menangis.


"Jangan! Pergi! Jangan mendekat!!" Jerit El histeris. Gadis itu jatuh terduduk sambil menangis, lalu tangannya memukul-mukul kepalanya untuk menghilangkan bayangan mengerikan yang ada di kepalanya. El menjerit semakin keras ketika James mendekat kearahnya.


"Jaga Nyonya Muda. Aku akan memanggil tuan!" Perintah James kepada seorang pelayan. Pria itu bergegas mencari tuannya untuk memberitahu keadaan sang ratu. Kenapa James tidak menelponnya? Jujur saja, pria tidak berani memberitahu tuannya lewat telpon. Lagipula sang ratu ketakutan saat dia mendekat, jadi dia memilih memanggil tuannya secara langsung. Selain membuat istri kecil tuannya histeris, pria itu juga meminimalisir hukuman yang akan dia terima nanti.


"Imperatore?"


"Hmm..." Xavion membuka mata saat mendengar seseorang memanggilnya. Pria itu menatapnya dengan tatapan dingin karena sudah mengganggu ketenangannya. "Katakan!"


"BODOH!" Xavion bangun dari tempat duduknya saat mendengar perkataan sang asistennya itu. Setelah dia memberikan bogeman di wajah James, Xavion bergegas melangkah pergi. Sebenarnya bukan sepenuhnya salah James, karena dia lupa memberitahu pada James untuk menghubunginya saat istri kecil mencarinya.


Dia sudah tau jika Istrinya itu akan ketakutan saat dibawa ke lorong yang gelap karena kejadian beberapa hari yang lalu.


'Sial!' Saat mengingat kejadian itu membuat amarahnya memuncak. Dia berlari secepat mungkin supaya bisa menemui istrinya yang tengah ketakutan.


Dia kesal karena dia belum sampai di ujung lorong itu. Pria itu menyesal karena membuat jalan sepanjang ini, padahal sebelum dia sangat menyukainya. Xavion berulang kali mengumpat karena tidak kunjung sampai tempat kelinci kecilnya itu.

__ADS_1


"Bee? Tenanglah," ujar Xavion. Ketika dia sampai tempat kelinci kecilnya itu, dia menarik tubuhnya ke dalam pelukannya dan mengusap punggung kelinci kecilnya dengan lembut. Dia berulang kali membisikkan kata-kata menenangkan supaya kelinci kecilnya bisa tenang.


Tubuh istri kesayangannya itu bergetar dengan begitu hebat dan air matanya masih mengalir deras seperti air terjun. Matanya menatap dengan takut ke sekelilingnya. Melihat keadaan kelinci kecilnya tidak begitu baik sekarang membuat hatinya sakit. Dia tidak mau istrinya ketakutan seperti ini, pria itu hanya ingin melihat istrinya bahagia selalu.


"PERGI! JANGAN SENTUH EL, PERGIII!!" El berusaha memberontak dalam pelukan Xavion. Tubuhnya bergetar saat mengingat dirinya sudah disentuh pria lain. Tangannya memukul dada suaminya untuk melepaskan dirinya secara tidak sadar.


"Bee, ini aku suamimu."


"Suami? Kak Xavion?" Tanya El. Dia menghentikan tangannya saat mendengar ucapan suaminya itu. Dia mendongakkan kepalanya untuk bisa menatap suaminya yang tengah khawatir kearahnya. Mata El mengerjap pelan untuk memastikan siapa pria yang memeluknya. Ketika melihat bahwa itu benar suaminya, dia menjulurkan tangannya untuk mengusap pipi suaminya dengan lembut. "Ini suami El? Bukan pria jahat itu?"


"Bukan. Ini suamimu yang paling tampan." Jawab Xavion. Pria itu menatap istrinya dengan tatapan dalam, namun sudut bibirnya terangkat menampilkan senyim tipis. Pria itu menghela nafas lega saat istrinya memeluknya dengan erat sambil menangis kencang. Dia tidak mempermasalahkannya, dia hanya membiarkan istrinya menangis untuk melampiaskan segala rasa takutnya itu.


Xavion menggendong istrinya ala bridal yang masih terisak itu dan membawanya ke kamar mereka. El melingkarkan tangannya dengan erat di leher Xavion lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Xavion.


Pria itu berbalik dan menatap tajam ke arah sang asisten yang menundukkan kepalanya. Andai saja James tidak membawa kelinci kecilnya kesini, dia tidak akan ketakutan lagi. Meski bukan sepenuhnya salah James tapi menurut Xavion, pria itu tetap salah. Seharusnya James menghubunginya bukan malah membawa istrinya kesini.


"Kau akan mendapatkan hukuman James," desis Xavion pelan. Pria itu meninggalkan tempat itu, dia membawa istrinya ke kamar mereka. Dia mencium puncak kepala kelinci kecilnya berulang kali selama di lift.


"Sudah tenang, hmm?" Tanya Xavion pada El. Dia mendudukkan sang istri di pinggir ranjang itu, lalu dia berlutut di depannya. Dia menyunggingkan senyuman hangat seraya menggenggam kedua tangan kelinci kecilnya itu.


"Maaf, Kak Xavion. El--"


"No problem, Bee. Wajar jika kamu ketakutan karena kamu sudah pernah mengalami kejadian yang tidak menyenagkan sebelumnya. Kamu tidak salah, istriku tidak pernah salah. Aku yang salah karena meninggalkanmu sendirian di kamar." Xavion memotong ucapan El dengan cepat. Pria tampan itu tidak ingin mendengar kalau istrinya menyalahkan dirinya sendiri karena hal ini.

__ADS_1


Menurut Xavion, El tidak pernah salah. Ini hal wajar jika kelinci kecilnya ketakutan saat melihat lorong gelap seperti itu. Bahkan istri kecil kesayangannya juga sangat takut melihat pria berpakaian hitam dengan wajah tertutup.


Dia tidak menyalahkan El jika dia ketakutan. Malah sebaliknya, dia menyalahkan dirinya sendiri karena telah membuat kelinci kecilnya ketakutan. Seharusnya dia memberikan penerangan di lorong saat istrinya mengalami kejadian buruk itu. Seharusnya dia lebih peka akan kemungkinan istrinya akan masuk kesana.


__ADS_2