
"Kau masih terlalu kaku Xavion. Katakan apa yang kau butuhkan dari Daniel? Dia masih tertidur sekarang."
"Dokter Max White."
"Kenapa kau mencarinya? Kau ada mas..."
"Berikan saja Dariel!" Xavion menutup panggilan teleponnya dengan cepat sebelum Dariel bertanya lebih jauh dan ikut campur. Dia melihat nomor telepon yang telah dikirim oleh Dariel. Meski sedikit gila namun ternyata Dariel cukup cepat. Semoga saja dia tidak kepo lagi nanti.
[Kepo : Knowing everyting particular objective]
Xavion melirik istri kecilnya yang bergerak sedikit dari tidurnya. Sebaiknya dia menghubungi dokter Max nanti saja saat tidak bersama istri kecilnya. Dia takut istri kecilnya terbangun saat dia berbicara dengan sang dokter. Lebih baik dia menyusul istrinya yang sudah berlayar di alam mimpi.
"Sakit."
Mata Xavion yang semula tertutup kini terbuka kembali saat mendengar rintihan lirih dari mulut istrinya. Dia menatap Istri kecilnya yang terlihat sedang menahan rasa sakit. Dia segera bangun dan melihat tangan mungil istrinya sedang menekan bagian perutnya.
"Bee? Bangun Bee."
"Sakit Kak!" Rintih El pelan. Dia membuka mata Xavion lalu menatapnya sekilas. Kedua tangannya menekan perutnya dengan kuat berusaha menghilangkan rasa sakit yang datang secara tiba-tiba. Dia meringkuk karena merasa sangat kesakitan.
"Hei! Bee? Kamu kenapa?" Tangan besar Xavion menuju perut istrinya untuk menyingkirkan tangan istrinya yang sedari tadi menekan perutnya dengan kuat. Dia mengelus perut istri kecilnya dengan lembut. Dia bingung sekaligus khawatir karena istrinya tiba-tiba kesakitan saat tidur.
"Bee, kamu berdarah. Hei!"
Xavion panik sendiri saat melihat warna merah yang ada di tubuh bagian bawah istrinya bahkan sampai menempel di sprei.
__ADS_1
'Bagaimana ini? Bagaimana bisa istriku bisa terluka padahal hanya mereka berdua saja yang ada di sini? Apa ada alat baru yang bisa membuat istriku terluka?' Pikir Xavion.
El menahan tangan Xavion yang hendak meraih ponselnya. Mendengar kata berdarah dari suaminya memuatnya paham kenapa perutnya terasa sangat sakit. Sepertinya dia sedang kedatangan tamu bulanan, makanya dia merasakan sakit sekali di perutnya. Hal biasa karena setiap bulan dia memang merasakan hal seperti ini.
El menggelengkan kepalanya pelan untuk mengisyaratkan suaminya untuk tidak perlu memanggil dokter saat Xavion ingin menelepon dokter. Dia hanya datang bulan jadi akan memalukan kalau sampai memanggil dokter karena hal ini. Bisa-bisa dia ditertawai oleh dokter itu.
"Tidak perlu dokter Kak, tapi El boleh minta tolong?"
"Katakan... Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Xavion. Tangannya masih setia mengusap perut istri kecilnya untuk mengurangi sedikit rasa sakit.
"Tolong belikan pembalut sekalian cel*na d*lam, Kak." Ucap El pelan. Dia merasa sangat malu hingga membuat pipinya merah seperti kepiting rebus karena harus meminta Xavion membeli pembalut. Dia tidak memiliki pilihan lain, tidak mungkin dia pergi sendiri dengan kemeja putih yang sudah ternoda oleh darah tamu bulanannya.
Xavion akhirnya mengerti kenapa istri kecilnya kesakitan, itu karena El datang bulan. Dia mengangguk dan meraih ponselnya lalu menghubungi James.
"Belikan pembalut dan pakaian lengkap dengan cel*na dal*m untuk istriku!" Xavion langsung mematikan sambungan teleponnya setelah menyampaikan apa yang dia inginkan sebelum mendengar jawaban James. Dia kembali fokus pada istri kecilnya yang masih merasakan rasa sakit di perutnya.
"Bee, kamu hamil saja supaya tidak merasa sakit seperti ini. Eh, tapi nanti waktu melahirkan kamu juga kesakitan kan, Bee? Bagaimana caranya supaya kamu tidak merasa sakit?"
El tertawa kecil mendengar ucapan Xavion yang kebingungan. Padahal ini sudah biasa untuknya karena hampir setiap bulan merasakan sakit karena tamu bulannnya. Lagipula biarpun hamil, setelah melahirkan dia juga tetap datang bulan dan rasa sakit lagi.
Pintu ruangan di ketuk membuat Xavion dengan cepat beranjak untuk mendekati pintu ruangan itu. Dia meraih selimut untuk menutupi tubuh istrinya agar orang yang mengetuk pintu tidak bisa melihat tubuh istri kecilnya.
"Ini pesanan anda, Imperatore." Xavion menerima kantong plastik yang sangat besar dan paper bag brand ternama dari James. Setelah menerima barang-barang itu, dia menutup pintu kamarnya tanpa mengucapkan terima kasih ke James. Dia tidak perduli apapun, hal yang paling penting adalah istri kecilnya.
"Ini, Bee."
__ADS_1
"Kak Xavion mau buka toko pembalut?" Tanya El kaget ketika melihat suami tampannya membawa kantong plastik yang sangat besar yang berisi pembalut semua.
"Aku tidak tau, James yang membelinya. Simpan saja sisanya." El menerima kantong plastik besar dan mengambil satu pembalut yang bermerek Orange dan juga mengambil paper bag yang berisi pakaian di berikan oleh suami tampannya itu.
Sementara menunggu istri kecilnya mengganti pakaian, Xavion melepaskan sprei yang terkena darah lalu meletakkan di keranjang cucian. Dia bersyukur karena tempat tidurnya tidak terkena darah juga jadi setelah istri kecilnya mengganti pakaian dia bisa berbaring. Xavion melangkah menuju tempat mengambil hot water bag lalu merendamnya dengan air panas.
Hot water bag itu di pesan Xavion juga tadi saat dia mencari di app pencarian bagaimana cara meredakan rasa sakit saat datang bulan. Untung saja James masih berada di sekitar supermarket jadi dia bisa sekalian membelikannya.
"Kak?"
Xavion menoleh pada El yang sudah berganti pakaian dengan celana olahraga hitam dan hoodie berwarna putih. Dia tersenyum pada istri kecilnya lalu menyuruhnya berbaring di tempat tidur yang sudah dia lapisi selimut karena spreinya kotor. Dia meletakkan hot water bag di atas perut istri kesayangannya itu. Hoodie yang dikenakan oleh istrinya di singkapnya sebatas dada.
"Terlalu panas?"
"Tidak, ini nyaman sekali. Terima kasih Kak."
"Kita pulang."
El yang masih sibuk mengompres perutnya lalu menoleh kearah Xavion yang baru saja mengatakan bahwa mereka akan pulang. Dia menatap Xavion bingung, karena tadi siang dia bilang ada rapat pukul dua siang, kenapa sekarang mengajaknya pulang? Dia tidak masalah menunggu Xavion selesai rapat, dia tidak enak kalau membuat pekerjaan suami tampannya itu terganggu karenanya.
Sementara Xavion membereskan dokumen-dokumen dan mematikan laptopnya. Dia merasa tidak tenang bekerja sambil melihat istri kesayangannya menahan sakit. Untung saja istri kecilnya datang ke kantornya kalau tidak dia akan sangat khawatir saat mendengar kabar kalau istri kecilnya kesakitan.
"Kakak bilang masih ada rapat?"
"Itu tidak penting. Sekarang kita pulang supaya kamu bisa istirahat, Bee."
__ADS_1
"Tapi disini juga aku bisa istirahat, Kak. El gak masalah beristirahat disini dulu, lagipula disini ada aku bisa melihat pemandangan kota." Ucap El. Dia berusaha mencari alasan agar suaminya membatalkan niat untuk pulang. Dia tidak mau kehadirannya disini membuat pekerjaan Xavion terganggu. Dia juga tidak menyangka jika tamu bulanannya datang saat ini.
"Tidak suka di mansion?" Tanya Xavion. Dia menatap istri kecilnya yang menunduk dan sibuk membolak-balik kompresan air panas di perutnya. Sial! Kenapa hanya begitu saja tapi istri kecilnya terlihat sangat menggemaskan di matanya.