Gak Jelas

Gak Jelas
Perkenalan


__ADS_3

Hai, namaku Mikhayla Andrean, kakak laki laki ku, ayah dan ibu biasanya memanggilku dengan nama Ika, menurut mereka itu lebih terlihat simpel, terserah mau mereka memanggil ku dengan sebutan apa, selagi itu tidak merepotkan mereka atau masih bisa terlihat bagus, aku akan baik baik saja.


Pagi ini ayah tidak mengantar ku pergi ke sekolah, ayah bilang ada rapat dengan beberapa pengusaha asing dari luar, ayah punya perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan, ibu ku hanya seorang ibu rumah tangga yang selalu menanti anak dan suaminya kembali, kakak laki laki ku bernama Prama, kak Prama berkuliah dan sekarang sudah semester akhir, dia tinggi tampan dan juga ramah, aku menyayanginya, karena dia selalu mau mengajariku bela diri dan mengajak ku untuk menonton pertandingan badminton atau menonton balapan motor di sirkuit.


"Ayah, hari ini Ika bawa motor sendiri aja ya?"


tanya ku pada ayah.


"Prama akan mengantar mu, Ika berulang kali ayah tekankan pada mu, mengertilah kau anak perempuan, ayah akan membelikan mu mobil saja setelah SMA mu tamat, dan sebelum itu kau akan tetap diantar Prama atau ayah." Begitu tegas ayah.


Aku hanya bisa menunduk diam, aku tak mau membantah, meski sebenarnya aku ingin sekali mengendarai motor Kawasaki Ninja 250, keluaran tahun ini, warna hitam berpadu silver yang membuatnya sangat gagah.


Motor itu ku dapatkan karena kak Prama, aku menang melawan temannya di sirkuit, waktu liburan ke Jepang tahun lalu, dan hadiahnya adalah motor itu, sejak datang di enam bulan lalu, ayah selalu saja mengawasi ku.


Dan kak Prama tetap membela ku agar ayah tak tau tentang balapan yang ku lakukan atau tentang siapa sebenarnya pemilik motor itu.

__ADS_1


Aku berangkat ke sekolah dengan kak Prama, dia membawa ku dengan mobilnya, kak Prama sangat tau perasaan ku, yang menginginkan suatu hobi tapi di tentang, memiliki cita cita tapi harus selalu melanggar peraturan ayah.


"Senyum dong..."


Aku hanya menatap kak Prama dengan emosi yang sulit diartikan.


"Minggu besok kakak janji akan bawa kamu untuk coba si Bass." kak Prama bersungguh kali ini.


"Benarkah? kak akan mengajak ku ke sirkuit? mencoba Bass?"


Kak Prama malah mengangguk dan tersenyum.


"Hadiah apa? kakak mau apa?" tanya ku, begitulah kak Prama dia akan meminta hadiah jika telah membuat sesuatu untuk ku.


" Menangkan kompetisi musim ini, kau harus menang emas di musim ini!"

__ADS_1


"Aku akan berusaha, lawan ku kali ini sangat berat kak, dia sudah menang badminton dan selalu mendapat emas."


"itu tantangan untuk mu, buktikan kau hanya punya prestasi bukan yang lain, kau adik perempuan ku yang terhebat."


Dengan dukungan kak Prama aku menjadi selalu bersemangat, dalam hidup ku hanya dia yang mampu faham dengan mimpi mimpi ku.


Aku pun kini berjalan keluar dari mobil, aku tersenyum dan dengan riangnya aku menyapa semua orang dengan senyuman.


Aku berada di kelas sekarang, aku selalu datang 30 menit sebelum kelas di mulai.


"Hello Mikha, was there any extraordinary event this morning? until you smile so brightly?"


Dia Frida, teman ku. Frida seorang anak yang pandai, berkulit sedikit gelap, berambut hitam dan bergelombang, dia selalu ceria, berbeda dengan ku yang terkadang murung.


"ya... my brother promised me something great this morning!"

__ADS_1


"Kakak mu memang selalu menjadi yang terbaik Mikha."


Lama aku bercengkrama dengannya dan Mrs Handayani datang.


__ADS_2