
Setelah ibu pergi, aku mencoba menetralkan hati ku yang sampai saat ini masih terasa sesak, sakit dan hampa, tapi satu yang aku sadari dan aku syukuri, tidak ada lagi tangisan malam, tidak ada lagi keluhan dan teriakan kesakitan, tiada lagi yang mengamuk pada ku, aku bebas! tidak ada lagi, mengganti popok, tiada lagi memandikan ibu, tidak ada lagi kegiatan membersihkan kotoran, dan tiada lagi orang yang ku panggil ibu.
Setelah kepergian ibu, aku dan ayah pindah ke rumah keluarga ayah, ada nenek disana, Cici atau bibi, uwak, dan banyak sepupu, tapi aku takut dengan mereka.
Semenjak pindah, aku memutus kontak dengan keluarga ibu ku, baik Tante Diana, om Oky, atau Om Herdi dan Tante Ismi.
Aku seperti orang gila sekarang, bermain tanah, air, pasir, berpetualang ke sungai, sawah, seperti anak hilang.
Keluarga dari ayah semuanya jahat, mereka memaki ku, mereka membuat ku merasa terancam, mereka menghardik ku.
Mereka selalu marah ketika aku berbuat ulah, baju kotor, kena marah, aku makan kena marah, bahkan makan ku di jatah, aku ingin berontak, tapi aku sadar aku siapa, tidak akan ada yang membela ku, aku sudah kehilangan ibu, semua foto album hilang, entah kemana, dibakar atau di buang, aku tidak tau.
Rasanya sakit, perih tapi aku harus bisa tersenyum, aku seperti biasa saja, tapi sebenarnya aku ingin meledak.
Aku mengekspresikan semuanya dengan, mandi hujan, berlatih tendangan, menonjok banyak atau guling, berteriak keras dan hal lain yang membuat ku terlihat gila, namun inilah aku, dan mereka tidak tau apapun tentang sikis ku.
__ADS_1
Mereka terus menyudutkan ku, melali hutang ayah dan ketidak berdayaannya sebagai lelaki, masalahnya disini aku tau betul uang itu untuk apa, ITU SEMUA UNTUK BIAYA KESEMBUAHAN IBU. Dan aku selalu menangis mengingat ini, jika saja aku bisa membalas, maka akan ku balas.
"Tidak kah kalian berempati sedikit saja, memeluk atau menyayangi ku, tidak kah kalian merasa kasihan pada anak malang ini, aku memang gila, sangat gila, aku kehilangan satu satunya orang yang menyayangi ku dengan tulus bahkan tiada yang mau memeluk ku saat itu, tidak ayah dan tidak juga kalian."
Beberapa bulan berlalu kini aku naik kelas 6 dengan keterpaksaan pihak sekolah, karena di semua mata pelajaran hanya ada satu nilai dengan angka 7, yang lainnya di bawah itu.
Pihak sekolah yakin aku mengalami gangguan konsentrasi, bahkan guru ku, saat kelas lima, membentak ku karena aku tidak mengerti apapun yang ia jelaskan, semua terasa menyakitkan, aku di cemooh bodoh, aku di hardik *****, entahlah bahkan om Herdi juga berkata begitu.
Di kelas 6 aku mencoba untuk bangkit, aku tidak bisa begini.
Setiap Minggu om Herdi menjemput ku, Tante Ismi satu satunya yang bisa memeluk ku.
Saat di peluk aku menangis, merasa sesak di dada seakan sirna, beban ku runtuh.
"Mill, kenapa nangis?"
__ADS_1
"Tante, peluk Milla lagi, Milla kangen ibu, makasih Tante sudah mau meluk Milla lagi, mau mengusap kepala Milla, mereka jahat, Milla gak mau pulang, Milla mau sama Tante."
"mil, gak semudah itu, Milla harus bilang sama ayah."
"Milla gak mau balik, ayah gak sayang Milla."
"Kenapa? kok Milla ngomong gitu?"
"Kemarin Milla denger, ayah mau di nikahin lagi, besok calonnya Dateng ke rumah, Tante, Milla gak mau punya ibu tiri."
Sejenak semua hening, sepi hanya ada pelukan dan Isak tangis keduanya.
Saat Ismi memeluknya, Camilla sadar hanya Ismi tempat dia bisa berlindung, bukan ayah atau yang lainnya.
Hanya Ismi yang mengerti hati Milla, sejak kecil Milla memang lebih dekat dengan Ismi, Milla selalu menangis saat Ismi pergi tanpanya. Ismi juga menganggap Milla seperti anaknya, tiada beda.
__ADS_1