Gak Jelas

Gak Jelas
Kepergian Ibu


__ADS_3

Rasanya sakit ketika menatap orang yang paling mencintai mu dan yang paling kau cintai atau orang yang selalu setia berada di samping mu harus mengalami siksaan luar biasa, bahkan tangisnya tidak pernah pergi dari malam ku.


Segala pengobatan telah di lakukan, alternatif, medis dan segalanya yang kami bisa, jutaan uang bisa kami cari namun semuanya seakan percuma, ibu masih saja berteriak sakit, dan tubuhnya semakin melemah.


Hari ini ibu kembali datang RSUD. Nafasnya sudah tidak teratur, dimalam gelap itu aku hanya bisa berdoa, bersimpuh di hadapan sang maha kuasa, yang aku yakini saat itu dia akan menolong ku, dengan caranya.


"Ya Allah, yang maha pengampun, yang maha mengetahui,yang mahakuasa, malam ini aku hamba mu meminta maaf atas nama ibu ku, jika ia telah melakukan dosa, maka ampunilah dia, jika kau menyiksanya seperti ini, lebih baik kau ambil dia dari ku, aku tak sanggup melihat dia menahan sakit, ibu ku orang yang sangat baik, dia tidak pernah jahat pada ku, aku sayang kepadanya, Ya Allah jangan buat dia merasakan sakit lagi, aku tidak sanggup."


Aku mengucap kata seperti itu, entah keluar begitu saja dari mulut ku, aku anak kecil yang dewasa sebelum waktunya, dan bisa bisanya aku memohon kepada Allah agar ibu tidak merasakan sakit lagi.


Ibu kritis, Livernya semakin parah, ginjalnya sama sekali sudah tidak berfungsi, aku tak tau kejadian malam itu, betapa kuatnya ibu bertahan.


Pagi di hari Minggu aku datang bersama seorang yang di minta untuk membersihkan rumah atau memasak.

__ADS_1


Aku mencium tangan ibu yang dingin, dia tersenyum menatap ku, aku menangis rasanya sakit dan sesak.


"ibu, aku minta maaf." aku teringat akan doa ku semalam, aku benar benar takut kehilangan ibu, aku mengecup keningnya berkali kali, ibu lagi lagi tersenyum.


saat itu ayah tertidur, aku keluar untuk membeli minum, sementara aku meminta mbak Santi biasa aku memanggilnya, dia orang yang membantu di rumah.


"mbak, telpon om Herdi sama om Oky, aku mau bicara, suruh mereka semua datang." begitu ucap ku, bahkan aku ingin mengumpulkan semua keluarga pada hari ini, aku ingin bercerita bagaimana rapuhnya aku, dan berharap mereka mengerti.


"iya Mill, mbak beli pulsa dulu ya."


"Bu, Milla sayang ibu, kalau waktu bisa di putar, Milla mau ibu antar Milla ke sekolah, hanya itu." begitu ujar ku, namun seketika aku mendengar suara yang berasal dari gigi yang beradu itu ibu.


Aku berteriak memanggil ayah, lalu aku berlari mengejar Santi yang entah dimana, saat bertemu di koridor, aku dan Santi segera ke kamar rawat ibu, aku menyaksikan ayah meraung, menangis menatapi ibu, ayah memeluk ku, dan aku hanya bisa menatap ibu Dangan linangan air mata.

__ADS_1


Sesak itu yang kurasa saat para keluarga berdatangan.


aku ingin teriak "puaskah kalian! menatapi ibu ku yang sudah jadi mayat sekarang? kemana kalian disaat ia ingin keluarganya menjenguknya, kalian hilang, puas kalian melihat aku hancur menjadi kepingan? kenapa menangis? kalian menyesal! percuma air mata kalian tidak akan bisa membuat ibu ku bangun." ucapan ku membulat dalam hati aku ingin teriak.


Tante dari om Herdi yang bernama Ismirah, memeluk ku, aku memanggilnya Tante ismi.


"Mill, yang kuat sayang."


"kalau Milla kuat, apa ibu akan bangun lagi? enggak Tante!"


Aku menangis lagi, aku ingin menyusul ibu sepertinya.


Ibu di bawa kembali kerumah, aku diminta memandikan ibu, aku kembali menangis, bercampur perih namun tetap bisa tersenyum saat mereka semua bertanya.

__ADS_1


Setelah Pemakaman, hujan turun, itu sudah sore, aku di peluk om dan Tante ku, untuk meninggalkan pemakaman, namun hati ku hancur mengingat betapa sulit aku merawatnya, dan memintanya untuk pergi, betapa banyak aku berkorban, tapi hasilnya hanya nol.


__ADS_2