
"Sudah sore, mari ku antar pulang." Ucap ku pada Radika.
Dia bangun dari duduknya dan mengikuti ku dari belakang, kali ini aku yang membawa Bass dan berboncengan dengannya.
"mengapa diam saja?" tanya ku dengan sedikit berteriak.
"Hanya kagum pada mu, wanita yang ku kira tidak bisa apa apa ternyata sangat jago dalam berkendara."
"Kita teman kan?" tanya ku kembali.
"Tentu, lalu mengapa?"
"mau melihat pertunjukan ku bermain musik? jika kau ingin datanglah ke Cup cafe, besok setelah pulang sekolah aku akan bermusik disana."
Dan seketika dia turun dari Bass, dan dia menjawab serta menerima tawaran ku.
"Aku akan datang setelah pulang sekolah, aku akan menonton pertunjukan musik mu."
__ADS_1
Lalu kita berpisah, aku melajukan Bass dengan kecepatan sedang, sungguh hari ini aku melupakan masa cemas ku.
Radika Putra Mahendra.
Ya... aku Radika Putra Mahendra, aku sering dipanggil Dika, beberapa bulan lalu aku bertemu dengan seorang perempuan, sederhana, dengan rambut sebahu, hidung tidak terlalu mancung, pipi tirus dan kulit putih bersihnya, jika perempuan seusianya mengenakan make-up, dia cantik dengan tampilan tanpa make-up nya.
Aku Radika, seorang anak broken home, kedua orang tua ku berpisah, ayah ku di Jepang sementara ibu ku di Indonesia bersama adik perempuan ku, aku hidup dengan sikap penuh keramahan, aku memiliki banyak teman, namun aku tidak memiliki bahagia disana, mereka selalu menuntut ku untuk tampil dengan mewah dan bukan diri ku, aku bukan pria yang mengikuti tren atau yang lainnya.
Aku cukup bersabar dengan apa yang orang sekitar ku katakan, tentang perceraian antara ibu dan ayah, atau bahkan karena aku yang harus selalu menjadi yang no 1.
Tapi tidak aku tau alasan mereka tentang itu, dan aku memberikan mendali itu untuk Mikha juga karena Mikha lebih membutuhkan nya.
Jujur, Mikha adalah seorang yang mulai berarti untuk ku, mungkin dengan menjadi temannya perlahan aku bisa mendapatkannya, seorang yang selalu ceria bahkan di hari hari menyakitkannya.
Aku mendengar semua yang ia katakan pada hari dimana mendali itu aku serahkan untuknya, tentang hidupnya kemarahannya pada ayahnya, ibunya yang pergi bahkan kakak laki-laki yang ia sayangi.
Aku tau semua tentang Mikha, dari blog yang selalu menjadi tempat curhatnya.
__ADS_1
Mikha orang yang tertutup tapi dia menggambarkan kekecewaan nya lewat tulisan tulisannya di blog miliknya.
Jika dikatakan aku telah jatuh hati pada Mikha, mungkin ia meski kita baru saja bertemu dan menjadi teman aku menjamin, Mikha akan menjadi yang terbaik dalam hidup ku.
Mikha, Mikha dan Mikha hanya dia wanita yang bisa membuat aku tersenyum dan merubah cara ku memandang dunia.
Aku akan menunggu sampai kau bisa jatuh cinta pada ku Mikha.
Tok... tok... pintu kamar ku di ketuk, ternyata Ersa, adik perempuan ku, dia datang dengan satu baki obat dan juga makanan.
"Waktunya minum obat kak."
"Ersa, apa kau tidak bosan mengantarkan itu semua untuk ku?"
"Aku tidak mau kau sakit, jadi makan, minum obat dan istirahat lah."
Dengan malas aku memasukan semuanya kedalam mulut ku bergantian.
__ADS_1