Gak Jelas

Gak Jelas
Pelangi Dusta


__ADS_3

Hari hari ku selama 10 tahun hidup ku yang penuh dengan terapi dan juga mengkonsumsi banyak obat obatan, aku berharap semuanya bisa berakhir di usia ku yang ke 20 tahun, berarti aku hanya perlu melalui 5 tahun terakhir ini.


Ersa adik perempuan ku selalu tersenyum saat aku meminum obat obatan yang di hantarkannya 2 kali sehari saat pagi dan malam, Ersa sangat takut kehilangan ku, bahkan dia pernah berkata jika aku sakit dia manusia pertama yang paling sakit, jadi sebisa mungkin aku selalu menjaga kondisi ku.


Bagi ku bulutangkis adalah hidup ku, hanya permainan itu yang membuat aku lupa akan penyakit yang terus menggerogoti hidup ku.


entah lah, bahkan aku tidak percaya saat dokter mengatakan bahwa semuanya akan berakhir saat usia ku 20 tahun nanti, aku selalu berfikir, mungkin berakhir tapi aku tak lagi bisa mereka lihat, mati maksud ku.


"Sa, kakak mau bicara." Aku menaruh nampan dan piring itu di meja samping tempat tidur ku, dan kami saling menatap lekat.


"Apa? kakak mau bicara apa? tentang usia 20 tahun yang di janjikan dokter Chikal?"


Jawabnya dengan nada menuduh, lalu dia menarik nafas.


"Percayalah kak, semuanya akan baik baik saja, lupakan dan nikmati masa sekarang, aku sudah melihat mu lebih baik dalam beberapa hari, bahkan kau tidak lagi murung kan."


"Ersa, kau adik satu satunya yang ku punya, kelak cepat atau lambat aku akan meninggalkan mu, aku tak tau kapan Tuhan akan mengambil diriku dari kalian, tapi yang perlu kau tau, aku sangat menyayangi mu."


Aku memeluk Ersa yang sekarang menangis didalam pelukan ku. Aku melepas pelukan ku dan mengambil laptop ku, membuka sebuah blog dan memperlihatkan blog itu pada Ersa.

__ADS_1


"Sa, blog ini sederhana, aku mengagumi penulisnya, semua tulisannya adalah teka-teki kata yang dia rangkai dalam kehidupan nya, tapi saat aku mengenal dan berbicara padanya, dia wanita tegar dan tak pernah melihatkan kesedihannya."


"Kau mengagumi, wanita penulis dan pemilik blog itu? kau sudah mengenalnya?"


"Ya, satu tahun aku menguntitnya dan kami tidak sengaja saling mengenal,aku sepertinya jatuh cinta padanya, bisa dibilang dia cinta pertama ku Sa."


"Kau mengenalnya kan? apakah dia tau perasaan mu?"


"Tidak dengan hanya menjadi temannya aku sudah sangat bahagia, lagi pula sepertinya diam lebih baik."


"Sampai kapan kau akan diam kakak ku yang


"Sampai dia sadar kalau aku benar benar pilihan yang tepat, sudahlah Ersa, bisa bertahan hidup seperti sekarang saja dan melihatnya aku sudah bahagia."


"Jangan merendah begitu, aku tidak suka!" Ersa mencebikan bibirnya lalu keluar kamar ku dengan nampan kotornya.


Aku memang mengagumi Mikha, dia penulis sajak sajak dengan penuh kiasan, bahkan diksi yang dia pakai bisa membuat ku sedikit berekspresi.


Aku bukan laki laki dengan tipe pendiam dan tanpa ekspresi namun, bagaimana ya, kadang aku merendah karena kondisi ku yang seperti ini, aku menjadi juara olimpiade bahkan pertandingan seperti beberapa Minggu lalu pun hanya untuk menutupi kekurangan ku, kuharap aku tidak dipandang rendah karena sakit ku, hanya itu.

__ADS_1


Pelangi Dusta, Puisi pertama yang di buat Mikha satu tahun lalu yang membuat aku sadar akan diri ku.


Tergambar indah di langit senja.


Terbit setelah hujan reda,


Tercipta karena bias cahaya.


Tertawa padahal terluka.


Aku pelangi,


Pelangi di ujung senja yang hanya terbit karena bias cahaya.


Ada badai tapi tetap indah dengan dusta.


Ada hujan karena awan, tapi tetap terlihat indah.


Tercipta setelah hujan, hadir setelah bias.

__ADS_1


Indahnya meski dengan dusta.


__ADS_2