Gak Jelas

Gak Jelas
Menang tapi Seperti Kalah


__ADS_3

Hari ini aku sudah bersiap dengan seragam badminton dan juga peralatan untuk turnamen.


Aku menghela nafas saat Tante Marwah meminta ku untuk sarapan bersama.


"Mikha, Tante sudah buatkan makanan sehat untuk atlet kesayangan di rumah ini." ya satu satunya yang mendukungku menjadi seorang atlet hanya Tante Marwah, bahkan ibu hanya sekedar mendukung.


Aku tersenyum, dan berandai coba saja keluarga ku saling mendukung seperti ini.


"Baiklah, terimakasih Tante, hari ini aku akan berangkat sendiri bersama Bass, doakan aku semoga bendali emas itu untuk ku."


"Kami akan selalu berdoa yang terbaik untuk mu Mikha." ucap om David.


Aku duduk dan menikmati sarapan ku, kemudian aku berpamitan untuk pergi.


Berdiri lah aku disini menatapi kondisi lapangan dan lawan main yang tak ku tau siapa dia.


"Hai, Mikhayla?" sapa seorang pria, ya... aku tau dia, Radika, dia pria yang ku temui di taman tempo hari.


"Radika? kau disini?"


"Ya... aku bermain setelah pertandingan ganda ini selesai."

__ADS_1


"Kau bermain putra atau campuran?"


"Aku bermain tunggal putra, tapi sepertinya kali ini aku akan main melawan seorang perempuan."


Deg.... aku tau dia yang akan bermain bersama ku. Aku masih diam membisu mengemblok tas berisikan raket kesayangan ku.


"Hey... jangan melamun seperti itu, oh ya kau sudah selesai bermain?" suaranya memecah lamunan ku, baru saja aku ingin menjawab pelatih ku sudah memanggil.


"Mikha?"


"Maaf Radika, aku harus meninggalkan mu, pelatih ku sudah memanggilku."


Dia hanya tersenyum dan membiarkan ku pergi.


"Ya... bolehkah aku bertanya?"


"Ya... silahkan."


"Apakah yang akan menjadi teman bermain ku kali ini adalah seorang anak laki laki?"


"Ya... kau sudah tau itu bukan? oh ya... Mikha jangan berharap menang kali ini dia sangat tangguh, bermain bersamanya adalah suatu keberuntungan untuk mu, dia baru di Indonesia tapi dia sangat baik di Jepang."

__ADS_1


"Tuan, kau meragukan kemampuan ku? bicara menang atau kalah sebelum kau masuk lapangan adalah suatu yang haram bagi ku." jawab ku sinis dan menatapi raket di tangan ku.


"Buktikan pada dunia kita akan selesaikan permainan ini, menang atau kalah hanya pelajaran bagi ku." ucap ku penuh tekad sampai akhirnya nama ku di panggil.


Aku melangkah dengan sejuta rasa percaya, tak ada ragu sedikit pun. Radika tersenyum simpul menatap ku, dia membisikkan sesuatu pada ku.


"Setelah ini siapapun yang kalah berjanjilah untuk tetap bahagia, dan itu tidak akan membuat permusuhan dalam pertemanan kita." ucapnya dan aku setuju dengannya aku hanya tersenyum.


Tiba di ronde pertama dia menang telak atas ku dimana score tercetak 21-14....


Aku beralih ke ruang minum di sisi lapangan, aku menatapnya dan lagi dia hanya tersenyum, aku pun membalasnya.


Ronde kedua dimenangkan oleh ku walau hanya beda 3 angka....


Kami harus bermain satu ronde lagi, barulah kami tau siapa pemenangnya....


score kini tercetak 14-8 dan lagi dia yang menang... tapi waktu masih berlanjut.


Sampai di score 18-17 dan lagi dia yang dapat, dan di akhir dia seperti kelelahan dan score mencetak 21-20 dan itu jatuh kepada ku...


Pelatih dan beberapa teman ku berteriak gembira menyerukan nama ku, aku masih menatapnya yang tersenyum sembari bersalaman lalu meninggalkan ku di tengah lapangan untuk mengambil tas berisi peralatan yang dia bawa.

__ADS_1


Aku menang tapi entah mengapa aku ragu, ini bukan seperti kemenangan yang aku ingin kan, ini seperti di buat buat olehnya.


AKU MENANG TAPI BERASA KALAH


__ADS_2