Gak Jelas

Gak Jelas
Mengingat


__ADS_3

Malam ini aku terbangun, seringkali begitu, bayangan akan ibu terbayang lagi, bahkan pernikahan ayah pun singgah. Sudah hampir 3 bulan aku tidak menemui dirinya, aku tak rindu hanya sedikit penasaran, apa yang terjadi dirumah itu.


Ayah menikah dengan ibu karena ibu jatuh cinta pada ayah, dan ayah juga sangat tulus mencintai ibu, Eyang ku adalah pemilik perusahaan tempat ayah bekerja, dari status sosial pun jauh berbeda, eyang awalnya tidak setuju karena mana mungkin putri satu satunya menikah dengan seorang yang hanya berstatus karyawan di sana.


Eyang pemilik perusahaan batu bara terbesar di Indonesia, bahkan banyak negara yang menjalin kerjasama dengan perusahaan itu.


Entah apa yang terjadi akhirnya ibu dan ayah bisa menikah dan satu tahun kemudian ibu hamil kak Prama, dokter telah melarang ibu untuk bekerja atau apapun yang dapat memberatkan kerja jantungnya.


Kak Prama pun lahir dan lima tahun kemudian ibu melahirkan ku dengan penuh kasih ibu mendidik ku, dan ayah selalu over protective pada ku, awalnya tak apa, tapi setelah aku tau satu kenyataan ibu dari ayah ku yaitu nenek ku, berencana buruk pada ibu, yang sudah mulai keluar masuk rumah sakit masih teringat jelas kejadian 3 tahun lalu saat usia ku 9 tahun, aku memang anak dengan daya ingat sempurna, bahkan aku seperti alat perekam.


"Pokoknya, mama gak mau tau, kamu harus dapatkan perusahaan itu, masa iya dalam kurun waktu belasan tahun ini kamu belum bisa mendapatkannya."

__ADS_1


"Ma, perusahaan itu pasti akan jatuh ke tangan David atau Danu, karena Rina adalah anak perempuan dan dia juga tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan."


"Yasudah, kalau begitu, cari wanita lain untuk kebahagian mu, lagi pula Rina itu sudah mulai sakit sakitan dan mungkin dia sudah tidak pernah melayani mu kan?"


"Ma, aku mencinta Quartarina mah, Aku gak mungkin menghianati dia!"


"Tidak, mama akan minta pada Rina untuk memberikan jabatan bagus untuk mu di kantornya."


"Tetap tidak mama mau rumah, dan isinya menjadi milik mu, oh ya tabungan dan deposito atas nama Prama dan juga Mikha pasti ada kan? mama juga akan minta itu untuk kehidupan kamu setelah wanita itu mati."


Setelah aku mendengar semua perkataan mereka, aku mulai berontak pada ayah, aku benci.

__ADS_1


Di umur ku yang masih 12 tahun aku sudah duduk di bangku SMA kelas 1, tubuh ku tidak besar hanya tinggi, aku mendapatkan akselerasi untuk sekolah ku karena di jenjang sekolah dasar Eyang meminta ku untuk home schooling saja, dikarenakan ibu yang harus bolak balik rumah sakit, dan tidak ada yang mengawasi ku.


Dan itu berlangsung hanya 4 tahun, aku langsung ke jenjang menengah pertama di usia ku yang 10 tahun dan hanya perlu waktu 2 tahun untuk itu, kemudian aku keluar dari home schooling dan bersekolah di internasional school, dan ini tahun pertama, baru beberapa bulan, aku harus pindah karena perkara ku dengan ayah.


Bagai dicekam setiap malam aku selalu terbangun dan sulit tidur, Tante Marwah dan om David kadang sering memergoki ku menangis sendiri di tengah malam tanpa sebab yang jelas.


Malam ini aku benar benar sudah tak kuat lagi menahannya, aku teriak di tengah gulita, aku tumpahkan semua sesak di dada ku.


Aku tak perduli dengan orang lain yang terganggu, Tante dan om datang memeluk dan membuat ku tenang, namun nyatanya aku malah memberontak.


Om menghubungi temannya yang ternyata seorang dokter ahli kejiwaan, dokter itu datang di tengah malam dan memeriksa keadaan ku, setelah menyuntikan sesuatu aku pun bisa tenang dan tertidur dengan nyenyak.

__ADS_1


__ADS_2