
Ketika sesuatu yang datang tanpa kau ketahui, tanpa bersiap dan juga tanpa bisa kau cegah, kalian bisa apa selain menerima.
Pintu kamar ku di ketuk, aku tau siapa lagi selain mama.
"Masuk!" Seru ku yang sudah paham betul apa yang akan di ucap mama kali ini.
Dengan memeluk ku sayang mama kembali menguraikan kata kata.
"Dika, kau marah pada mama?"
"Untuk apa aku marah, lakukan apapun yang menurut mama benar, aku hanya anak mu yang hanya bisa menurut bukan?"
mama hanya diam dan dingin menatap ku.
"Dulu saat mama bercerai dengannya mama juga tidak meminta persetujuan ku bukan?mama juga tidak pernah bertanya apakah aku bahagia dengan perceraian kalian,kalian juga tidak tau berapa banyak kesakitan yang aku alami setelah kalian bercerai." ucap ku dingin, dan kini aku meninggalkannya memasuki kamar mandi.
Setelah pembicaraan ku dengan mama tadi aku tidak lagi perduli, aku masih betah di kamar ini, dan Ersa kembali datang ke kamar ku mengantarkan makanan dan obat ku.
__ADS_1
"Kak, mengapa melamun, masuklah udara di luar sudah mulai dingin, jangan terus bermain gitar di balkon dengan udara seperti ini." ucap nya, dan sebenarnya hujan sudah mengguyur sedari tadi.
Aku mengikuti Ersa dan duduk di sofa kamar ku. "Kenapa kau rajin sekali selalu seperti ini?" Dia hanya tersenyum.
"Bagaimana hasil cek up tadi siang? ada perkembangan?"
"Ya, dokter Chika bilang terapi dan obat obatan akan selesai di akhir tahun depan, tapi..." aku menghentikan ucapan ku.
"Kenapa?"
"Tidak, aku hanya khawatir, bagaimana jika umur ku akan berakhir sebelum tahun depan?"
"Bukan, hanya saja... bagaimana jika aku tidak bisa mengungkapkan perasaan ku pada Mikha?"
"Hahaha... Kau sungguh jatuh cinta padanya?"
"Aku memang sudah cinta padanya."
__ADS_1
"Aku yang akan menyampaikannya, aku akan menjadi pak pos untuk mu, menyampaikan lembaran kertas di tabung itu untuknya."
Aku mengambil tabung yang di sebut Ersa tadi.
"Kau akan menyampaikan ini untuknya?"
"Ya, tentu, aku akan menjadi yang terbaik untuk kakak ku yang tampan ini."
"Jika nanti aku tidak lagi ada, janji ya... tetap bahagia dan tersenyum."
Dia tidak menjawab namun guratan air mata bersarang di matanya.
Ersa memang selalu menahan air matanya saat berhadapan dengan ku, namun aku sangat faham dia terluka.
Aku membenci papi dan tidak ingin menerima warisan darinya bukan karena aku sungguhan namun karena papi tidak adil, dia sudah menikah lagi dan punya anak laki laki, namun anak itu tidak mendapat hal yang sama seperti ku, dan apa aku harus bersenang dengan harta papi sementara tidak ada keadilan di dalam nya?
Beberapa tahun tinggal dengan papi aku baru sadar jika papi sangat memperhatikan aku dan Ersa, jauh berbeda dengan apa yang mama utarakan selama ini.
__ADS_1
Hari sudah larut dan aku masih terus memikirkan kepelikan ini tentang hidup ku yang mungkin tak ada harapan lagi, aku beci dengan kebohongan yang di ucap dokter Chikal tadi. Aku tau bagaimana kondisi ku, obat berhenti bukan karena ku sembuh, tapi karena obat itu sudah tidak bisa bereaksi lagi pada tubuh ku, dan itu alasan dokter Chikal menyarankan supaya aku kembali ke Jepang dan pindah ke Jerman agar pengobatan bisa segera dilakukan.