
"Kau bilang Ayah? sejak kau memutuskan untuk menikahi sekertaris mu itu, kau bukan lagi ayah ku, adakah seorang ayah yang mengabaikan putrinya sendiri, menikah tanpa menjelaskan apapun dan yang terpenting adakah seorang ayah yang tak pernah perduli dengan perasaan putrinya? Aku sudah pernah berkata saat aku keluar dari rumah mu aku bukan lagi anak mu, sekarang kita bukan siapa siapa lagi tuan Antoni." Tegas Mikha yang masih penuh dengan emosi.
"Tenanglah Mikha." ucap Marwah yang memeluk Mikha dari belakang.
"Besok kau akan mendapatkan semua yang kau mau tuan Antoni, jika untuk lepas dari dirimu harus ku bayar dengan semua warisan yang ku punya maka aku kan memberikannya untuk mu, aku sudah muak dengan semua yang kau lakukan pada ku dan juga ibu."
Mikha mengandeng tangan Marwah untuk masuk kedalam rumah dan menutup pintu itu dengan rapat.
Marwah mengelus rambut Mikha dengan sayang, baru saja hendak berbicara, Mikha menggenggam tangan Marwah.
"Tante, sudah Mikha akan lanjutkan istirahatnya, Tante lebih baik tidur sekarang."
Mikha pun kembali ke kamarnya.
Jam pun berlalu sekarang sudah jam 3 pagi dan Mikha masih saja terjaga, sampai akhirnya dia membuka laptopnya dan membuka beberapa aplikasi menulis sebagai pelampiasan emosinya.
*Berubah, sebuah pantai yang ku nantikan berubah.
Sebuah api yang menghantarkan hangat telah padam.
Cahya bulan telah menghilang dari malam.
__ADS_1
Kini aku menunggu fajar untuk datang di peraduan.
Angin kini menerpa layar ku.
Gelombang kini menerjang sampan ku
Dingin kini menyengat kulit ku.
Aku merindukan hangatnya mentari.
Aku begitu merindukan daratan.
Aku begitu takut mengarumi lautan ini .
Tuhan hanya kau yang tau kemana ombak akan membawa ku*.
Mikha akhirnya dapat terlelap kembali, walau jejak air mata masih berbekas di pipi nya.
"Selamat pagi, kesayangan Tante, mari sarapan." ucap Marwah yang sedang menuang smoothies di gelas Mikha.
"Pagi tante." ucap Mikha lalu memeluk tantenya lalu mencium pipinya.
__ADS_1
"Kau mau sarapan dengan apa sayang? roti atau nasi?" tawar Marwah.
"Mikha mau buah saja Tante, biar nasinya untuk makan di sekolah saat istirahat saja."
"Baiklah, jangan lupa kau harus menghabiskan smoothies ini, ini sangat baik untuk mu, yoghurt, pisang, strawberry sangat baik untuk mu."
"Baiklah, tante.... Terimakasih." Mikha tersenyum dengan sangat manisnya seakan dia anak yang paling bahagia.
"Itu tugas ku untuk menjaga mu sayang."
"Kapan om akan pulang?"
"Mungkin besok pagi, om mu sangat sibuk mengurus semua aset mu itu." Mikha hanya tersenyum.
"Aku tidak akan mengambilnya sepeser pun, lagi pula itu semua masih milik kakek sampai usia ku 20 tahun bukan?"
"Ya kau benar Mikha, tapi tetap seja semua akan jadi milik mu."
"Tan, Mikha akan senang memiliki banyak aset, namun semua itu akan lebih berharga jika Mikha mendapatkan nya sendiri, dari keringat dan jerih payah ku sendiri." Jelas Mikha dan berakhir dengan dirinya yang menikmati smoothies buatan Marwah.
Marwah memasukan botol minum dan kotak makan kedalam tas jinjing Mikha.
__ADS_1
"ini tas bekal mu jangan lupa di bawa, ada buah, susu dan air mineral juga disana, belajar yang rajin, dan supir akan mengantar jemput mu."
"Baiklah aku pergi." Mikha mencium tangan Marwah dan bergegas pergi dengan supir yang mengantarkan nya ke sekolah.