Gak Jelas

Gak Jelas
Mengalah Demi Aku


__ADS_3

Saat semua orang sedang merayakan kemenangan atas pertandingan ku, aku menggenggam mendali emas yang memang ingin ku persembahkan untuk ibu, tapi maaf Bu itu bukan punya ku, itu milik Radika.


Radika hanya memilih untuk kalah. Aku berjalan menuju ruang ganti dimana Radika dan teman temannya berada, bahkan ada pelatihnya disana.


"What's wrong with you? Radika, surrender at the end of the game just for a woman? You sacrifice your good name! Wake up!"


Ya aku tau itu nada bentakan, kenapa Radika? kau mengalah untuk ku yang bahkan baru mengenal mu.


"sorry sir, she needs the victory, I have won many times and it is appropriate for him who has fought for the match earlier."


Apa itu Radika bersuara? dia memang sengaja memberikannya? Kau bodoh Radika kau membuat ku lebih terinjak lagi sekarang, dan sekarang beberapa orang pergi dari ruangan itu sambil membawa tas mereka masing masing, dan di akhir ada Radika yang dengan senyumnya menatap ku.


"Hey... Mikha? kau belum berganti pakaian? ada apa dengan wajah mu? kau marah? oh... ya selamat atas kemenangan mu, kau hebat."


"Kau membuat ku lebih terinjak saat ini Radika, aku kecewa pada mu." ucap ku lalu menggenggam mendali emas yang seharusnya Radika genggam sekarang.

__ADS_1


"Ada apa? aku melakukan apa?"


"Kenapa kau melakukannya? bukankah kau bilang, permainan tadi tidak akan merusak apapun dari pertemanan kita, Radika wake up!"


Dia masih mematung, dan wajah lelah itu kembali nampak.


"Biarkan aku kalah karena ketidak mampuan ku, karena aku belum bisa untuk menang, dan jika aku menang biarkan semua itu karena memang aku pantas!"


Dia menatap ku, dia mengambil mendali itu."


"Radika? aku ingin mendapatkannya dengan tangan ku sendiri!"


"Kau akan mendapatkannya suatu hari nanti,tapi kali ini kau mendapatkannya dari ku, sudahlah, aku akan pergi, sampai jumpa."


Dan dia pun pergi, dan entah dimana harga diri ku yang terinjak itu saat dia berkata seperti tadi.

__ADS_1


Aku kembali ke kerumunan orang yang akan pergi bersama ku merayakan kemenangan ini.


"Mikha?" suara cempreng Mona hinggap di telinga ku saat aku hendak mengendari Bass.


Dia berlari kecil kearah ku yang tengah rapi dan akan kembali pulang, kerumah om dan Tante.


"Ada apa?" jawab ku ketus.


"Prama menanyai kabar mu, dan kau meninggalkan ponsel mu di rumah." dia menyodorkan ponsel itu.


"Serahkan pada ayah, aku tidak butuh apapun yang dia berikan untuk ku, aku hanya akan membawa apa yang ku dapatkan sendiri."


"Mikha berhentilah untuk bersikap seperti itu."


"Mona? kau tidak pernah merasakan di tiadakan seperti ini, keluarga mu sempurna dengan dua orang yang selalu menyayangi mu, ibu ku sudah pergi, dan sekarang pria yang ku anggap akan tetap bersama ku hingga aku dewasa, malah memilih wanita itu menggantikan ibu ku, dan kau tau dia tidak pernah memberi tau tentang semua itu, aku siapa di hidupnya?" Aku menarik nafas, menyalakan mesin Bass dan memakai helm full face milik ku, namun tangan Mona masih lekat di lengan ku.

__ADS_1


"Maaf Mona, aku harus pergi, kau jaga diri baik-baik, mungkin beberapa pekan ini aku kan pindah sekolah." lalu aku pergi begitu saja dari hadapan Mona.


__ADS_2