Gak Jelas

Gak Jelas
Bersama Ibu


__ADS_3

Hari ini hari terakhir ku menatapi ibu, helaian kain putih membungkus tubuhnya, sebelum wajahnya di tutup aku di minta untuk mencium keningnya, air mata ku menetes tak beraturan.


"Ibu, kau kini sudah bebas dari rasa sakit, percayalah kita akan berjumpa lagi nanti, aku akan menjadi anak yang baik, seperti apa yang kau katakan, ibu aku akan selalu berdoa agar kita selalu bersama walau jarak dan waktu memisahkan, dan raga tak saling memiliki lagi aku pastikan aku selalu bersama mu." ucap ku lirih terdiam menatapi wajah ibu yang kini mulai di tutup.


Kak Prama memeluk ku dia menumpahkan air matanya di pundak ku, aku tau dia terluka dan kehilangan.


"Semua akan baik baik saja kak, ikhlaskan kepergian ibu." aku mencoba untuk tegar walau ternyata hati ku sama sekali tidak sanggup menghadapi semua ini.


"Ya, aku sedang mencobanya Ika." Dengan mata sayu kakak ku menjawab.


Lapisan tanah kini tertutup perlahan, aku hanya bisa menatapi kenyataan, aku harus menerimanya.


Setelah acara pemakaman Tante dan om berusaha menenangkan ku yang terlihat lemah dan hilang arah.

__ADS_1


"Mikha, kau belum makan apapun sedari tadi, kau boleh bersedih tapi tak seperti ini."


"Tante, jawab aku, ibu bahagia disana kan? ibu sudah tidak merasakan sakit lagi kan?" ucap ku yang terus saja tak mengontrol apapun yang keluar dari mulut ku.


"Mikha, ibu mu sudah baik baik saja, dia tersenyum menatap mu, kau jangan menangis lagi ya, ibu mu akan bersedih nanti." ucap om David.


Ya, aku masih tak mengerti mengapa om David yang katanya sedang berada di Singapura, sekarang malah ada di samping ku sambil mengusap kepala ku.


"Om, Mikha, sayang ibu, Mikha..." ucapan ku terputus, aku tak bisa melanjutkan perkataan ku, karena jujur air mata dan sesak tak dapat ku bendung.


Aku menjadi yang paling hancur saat ini, bagaimana tidak semenjak kecil aku selalu bergantung pada ibu, ibu selalu membuatkan aneka kue untuk ulang tahun ku, bahkan saat aku menolak untuk bertemu banyak orang di pesta ultah ku yang ke 3, aku masih ingat semuanya, ibu menjelaskan aku harus menemui mereka untuk menghormati.


Di ulang tahun ku yang ke 4,5 dan 6 ibu mulai sakit, ia tak bisa menemani ku merayakan ulang tahun, karena lagi... jarak memisahkan kita, ibu melakukan operasi jantung di Amerika, sementara aku di Indonesia, meski begitu ibu tetap membuat video bersama kue ulang tahun dan mengucapkan selamat untuk ku.

__ADS_1


Kami baru kembali berkumpul saat usia ku menginjak 8 tahun, semenjak itu ibu selalu bersama ku menghabiskan waktu, bahkan setiap aku kembali dari sekolah ibu selalu menyuruh ku tidur siang, dan itu pun ibu memeluk ku, seperti tidak ingin kehilangan ku, aku sering menolak, tapi ibu selalu bilang, jangan pernah menolak apapun yang ibu berikan, karena kelak mungkin aku tidak pernah bisa merasakannya kembali.


Di usia ku yang ke 12 tahun ibu dan aku membuat kue tart bersama, kami banyak bercerita.


"Ika, dulu ibu sangat menginginkan anak perempuan."


"Kenapa?"


"karena anak perempuan itu manis, dan aksesoris nya pun banyak, namun ketika ibu memiliki anak perempuan, ibu malah ingin anak perempuan ibu menjadi perempuan yang tangguh dan perkasa."


"Oh... jadi itu alasan ibu memasukan ku ke kelas karate?"


"Iya, tujuan ibu adalah supaya Ika bisa bertahan di segala kondisi, ibu tak mau Ika takut atau tersakiti jika tidak ada ibu nanti, Ika ibu ingin kamu kuat dan tangguh."

__ADS_1


"Ibu, jangan bicara kalau ibu akan meninggalkan Ika lagi, Ika gak mau ibu pergi lagi, Bu berjanji sama Ika ibu akan selalu ada bersama Ika dan akan membuatkan Ika kue tart bertingkat di ulang tahun Ika yang ke 17 ya... ya ... ya... Bu Ika mohon."


Ibu tersenyum menatap ku, Tuhan mengapa kau ambil ibu bahkan disaat sebelum ultah ku yang 17, Ibu bahagialah disana Ika akan selalu tangguh di sini.


__ADS_2