Gak Jelas

Gak Jelas
Pernikahan


__ADS_3

Ini kali pertamanya ayah mengenalkan ku pada calonnya, aku berusaha bersikap baik, aku sadar cepat atau lambat ibu ku akan digantikan.


"Mil, kenalin ini Tante Zura, kamu mau ikut ke mall gak?" tanya ayah pada ku di depan semua keluarga. aku hanya berdehem, hati ku hancur, ayah tidak bertanya aku setuju atau tidak.


Kami berjalan mengitari mall duduk di sebuah cafe, dan ayah menjelaskan bahwa Minggu besok mereka akan mengadakan lamaran, dan lagi ayah tidak bertanya pada ku, apakah aku setuju atau tidak, ayah tidak tau hati ku hancur, aku ingin marah, tapi kembali lagi siapa aku?


waktu berlalu, ketakutan menghampiri ku,mereka lagi dan lagi menyakiti ku, Cici ku Fatana, menelpon dari Malaysia dia tinggal di sana untuk bekerja, dia yang mengasuh ku dari kecil, seandainya ia ada saat ini, ada di masa kritis ku, aku yakin aku tidak akan mengalami rasa sakit seperti ini, tapi aku kembali lagi,sekenarionya sudah di atur, aku hanya manusia, dan tak berguna.


Cici Fatana mengirimka surat yang di tulis khusus untuk ayah.


Assalamualaikum


seluruh saudara/i ku.

__ADS_1


Maaf aku tidak bisa hadir disaat sulit kalian, katakan pada keponakan ku, tanamkan keikhlasan di dalam hatinya, beri dia pelukan, berprilaku lembut dan benarkan jalannya, seperti pesan almarhumah.


Katakan pada Abang ku, berpikirlah dua kali untuk menikah lagi, aku tau akan kebutuhannya, tapi pikirkan kondisi keponakan ku juga, tanyakan apakah ia baik baik saja atau sebaliknya.


Sekian surat ku, semoga kalian semua selalu dalam lindungannya.


Wasalam...


Mereka semua sibuk mengurus perlengkapan seserahan, dari sprei, sepatu, tas, seragam untuk menghadiri acara itu, mereka sibuk sendiri, sementara aku tidak dipedulikan.


Sumpah sampai mati rasa sakit ini akan selaku membekas.


Aku mencoba tegar, untuk diam, aku tidak ingin hadir, namun semua memaksa untuk hadir, seharusnya aku kabur saja saat itu, harusnya aku kabur ke Surabaya ketempat pakde ku.

__ADS_1


Aku benci pernikahan itu, berusaha menutupi semuanya, namun seperti ditancap oleh duri, bergerak sedikit rasanya sakit.


Dalam Acara itu aku mengamuk, tiada satu orang pun yang menenangkan ku, Tante Ismi di minta tidak ikut campur, padahal aku butuh dirinya, aku butuh dekapannya.


"Milla, sudah jangan nangis ayah disini." begitu ucapnya yang telah berganti pakaian pernikahan.


"apa ayah pernah bertanya pada Milla? ayah tidak pernah bertanya, mau atau tidak, suka atau tidak, setuju atau tidak. Ayah hanya mendengar mereka, ayah tidak perduli Milla, dimana ayah saat Milla butuh ayah! ayah tidak pernah ada!"


Rasanya aku mau mati saat ayah hanya bisa diam seperti itu, aku benci semua ini, kenapa aku harus di paksa menerima yang tidak aku inginkan, ayah mengingkari semua janjinya, untuk tidak menikah lagi, apa dia lupa?


Tidak, ayah tidak lupa, dia hanya menganggap permintaan itu tidak ada, sama dengan halnya hanya menatap ku, mengakui aku sebagai anak, tapi tidak perduli dengan diri ku.


Ibu, bisakah aku meminta mu kembali lagi, peluk aku, kecup aku, lindungi aku, beri aku cinta ibu, aku rindu, aku kan lebih perduli pada mu.

__ADS_1


__ADS_2