
Waktu berjalan dengan cepat, kondisi Quartarina ibunya, kini semakin memburuk badannya bertambah bobot, bengkak di sekujur tubuhnya, luka di kakinya telah di oprasi karena menyebar di seluruh punggung kakinya.
Setiap kali ke rumah sakit Daerah, Arif ayahnya, harus menggendong istrinya itu, dikarenakan kursi roda yang habis, Arif di temani Camilla kecil ikut mengantri di poli.
Arif begitu sabar, tanpa mengoceh, tanpa marah selalu membantu Quartarina.
Nama dokter itu Dr Anton Isdijanto Sp.pd
dokter itu sangat lembut, menerangkan apapun yang Camilla sebenarnya tidak tau.
Dia hanya menatap dokter yang sedikit tampan itu.
"ibu itu harus semangat, ingat anaknya masih terlalu kecil, cantik lagi, kelas berapa dia sekarang?" tanya sang dokter kepada Quartarina sambil menatap Camilla dengan berbinar.
"sekarang kelas 3 SD dok, saya mau titip dia, jika di mengalami hal yang sama seperti saya, tolong jadilah dokter untuknya." ucap Quartarina sambil tersenyum.
__ADS_1
Camilla kecil sudah mengalami miopia yang cukup parah di usia 8 tahun, minusnya mencapai -2, dia harus menutup mata indahnya dengan kaca mata.
Camilla kecil tumbuh sehat, makanannya banyak, lahab, dan berat badan nya semakin bertambah.
Camilla tumbuh dengan banyak tekanan.
yang pertama ia harus menatapi sang ibu dengan penuh rasa sakit, dia harus mencoba kuat melupakan tangisan ibunya, dia harus berlalu dengan sendirinya.
"Kenapa harus ibu? aku membutuhkan ibu, aku mencintai ibu, tapi kenapa Allah menyiksa ibu, kata ibu hanya orang yang berdosa yang akan di siksa, apa ibu berbuat dosa?" Camilla kecil menangis di pojok ruangan rumah sakit.
Camilla selalu datang setiap pulang sekolah atau hari libur ke rumah sakit, dia mengenal dokter Anton dengan baik, sampai terkadang bermain di ruangannya.
"Milla, kamu kenapa sayang? kamu menangis?" ucap suster yang Camilla tau namanya suster Tati.
"Sus, kapan ibu bisa sembuh? kapan ibu bisa temani Milla main, Milla mau sama ibu, suster boleh Camilla menginap disini sampai ibu sembuh, Camilla gak mau sekolah."
__ADS_1
Camilla menangis sesenggukan, suster Tati pun memeluknya dengan penuh rasa sayang.
"Jangan nangis sayang, Milla lihat suster Tati, mil, Milla, Milla harus kuat, harus tegar, harus berani, harus ikhlas dengan semua kemungkinan yang akan terjadi." begitu jelas suster Tati.
"Suster, kalo ibu sakit, biar sakitnya ke Milla saja, suster kalo ibu meninggal Milla sama siapa, kalo ayah kerja berarti Milla sendiri di rumah, Milla gak mau sama Tante Diana, terus kalo Milla ikut ayah Milla akan di taruh di rumah nenek, Milla gak mau, disana banyak orang, mereka jahat sama Milla." air mata Camilla terus menetes, suster Tati pun ikut meneteskan air mata.
Seketika Dokter Anton datang menemui Milla, dia harus menenangkan Milla, padahal jika di pikirkan siapa Milla, hanya anak dari pasien nya bukan.
"Hay, Milla, anak baik, suatu hari saya yakin kamu akan kuat dan mengerti kondisi ibu mu, ibu mu sudah komplikasi sayang, paru-paru nya sudah terendam cairan, Livernya juga memburuk, lambung, serta ginjalnya sudah rusak karena obat, Milla harus mengerti jika suatu hari Milla sadar, kalau ibu sudah tidak bisa bertahan." ucap dokter Anton dengan lembut, Milla mengangguk dia pergi berlari sambil tersenyum menatap ibunya.
"ibu, Milla mau belajar disini aja, Milla bisa kerjakan semua PR disini." ibunya tidak setuju, tapi saat melihat nilai Milla menurun dia melunak, mengajarkan anaknya dengan penuh kasih sayang.
Milla merawat ibunya selama 2 tahun menggantikan Pampers penuh nanah dan darah, karena infeksi di bokongnya, Milla harus membantu ibunya untuk buang air besar atau kecil, memasak, memberi obat, dengan rasa kesal Milla menjalani semuanya.
Setiap bulan sanak saudara mengirim uang, atau keperluan untuk Quartarina.
__ADS_1
waktu yang seharusnya dia habiskan untuk belajar dan bermain, kini ia gunakan untuk merawat sang ibu.
Emosi Quartarina naik turun, dia marah, pada dirinya sendiri tapi menghakimi orang lain, dia menutupi segala kurangnya dengan emosi, menggap, semua orang tak lebih baik darinya.