
Sesampainya di rumah, Tante Marwah sudah menunggu ku di teras rumah.
"Malam, Tan? kenapa di luar?" sapa ku dan mencium pipi Tante Marwah.
"Menunggu mu, Mikha Tante mau bicara sesuatu dengan mu, dan Tante harap kamu dapat menerimanya."
Aku duduk dan menggenggam tangan Tante Marwah.
" Katakan apapun itu." ucap ku dengan senyuman.
"Kembalilah pada keluarga mu yang sebenarnya, kembali pada ayah mu."
Aku terperangah mendengar kata² yang di ucap tante.
"Ini keluarga ku Tante." air mata ku turun seakan tak percaya apakah Tante Marwah sudah tak ingin aku berada di sini?
"Ada apa ini? kalian keluarga ku bukan? Mikha tidak ingin kembali Tante."
__ADS_1
"Mikha dengar Tante baik², kami keluarga mu, akan tetapi ayah mu lebih berhak atas dirimu, Tante akan selalu ada untuk mu, tapi untuk kali ini, tolong kembali walau hanya beberapa waktu saja."
"Jelaskan pada Mikha kenapa harus seperti itu Tante?" ucap ku meminta kejelasan kembali.
"Lindungi sertifikat rumah itu, dan Tante mau Mikha menyelidiki sesuatu, Tante rasa Mikha bisa bekerja sama dengan baik."
Lalu Tante Marwah menjelaskan segala hal tentang mengapa aku harus melakukan itu semua, salah satunya adalah untuk mengungkapkan mengapa ibu meninggal.
"Tante rasa Mikha cukup mengerti apa yang Tante bicarakan, tolong pertimbangkan ini dengan baik."
"Baiklah besok sepulang sekolah supir akan mengantar mu kembali ke rumah."
"Baik Tante."
"Dimana Bass?"
"Bass ada di tempat yang aman, bersama kak Amar."
__ADS_1
Tante mengangguk, dan masuk bersama ku kedalam rumah.
Aku mandi dan berganti pakaian aku sangat lelah, ingin rasanya berbaring namun aku sadar tugas ku belum selesai, tugas matematika dan Sains ku belum selesai.
Usia ku baru 13 tahun tapi seperti yang kalian tau aku sudah duduk di bangku SMA, mengapa? Karena di sekolah ku yang sebelumnya aku mendapat akselerasi, semacam melompat kelas.
Awal pertama masuk ke sekolah baru itu aku merasa segan, diantara mereka akulah yang paling muda, dan mereka selalu menganggap remeh diriku, aku menyembunyikan Bass bukan tanpa alasan akan tetapi, karena ayah akan merampasnya, ayah pasti akan melakukan itu.
Mengambil apa yang menjadi milik ku, entah apa yang ada di pikiran ayah.
Semenjak ibu pergi,keluarga ayah selalu datang ke rumah awalnya aku menerima mereka dengan baik, karena yang ku pikir mereka menyayangi ku namu nyatanya mereka hanya ingin mengambil barang² koleksi ibu, guci puluhan juta yang dibelikan oleh teman ibu, tas, bahkan baju gaun milik ibu, semuanya di ambil tanpa satu pun tersisa.
Hati ku terkadang meminta otak ku untuk tenang dengan keadaan tetap stabil namun emosi ku rasanya terlalu besar, sampai jika aku tidak melepaskan nya pastilah aku sudah ada di kamar jenazah.
Kenapa aku harus kehilangan dirinya, mengapa semua itu harus aku terima dengan lapang, tanpa harus bisa bertanya?
Aku merasa tidak adil, merasa di permainkan oleh takdir, aku merasa dunia telah menghukum ku untuk sesuatu yang tidak aku lakukan, pada dasarnya aku hanya ingin memiliki keluarga sempurna.
__ADS_1