Gak Jelas

Gak Jelas
Depresi


__ADS_3

Di pagi ini Om mengambil kesimpulan untuk menghubungi pihak sekolah agar aku bisa istirahat di rumah.


Om menatap ku yang kini terdiam dengan wajah pucat, tatapan kosong dan juga rambut yang kusut, om menggenggam tangan ku dan mengelus rambut ku, Tante Marwah datang dan membawa makanan untuk ku.


Aku tau Tante Marwah bingung dan sedih, tapi dia hanya menatap ku.


Om David mengecup kening ku dan memeluk ku, tapi tetap aku tak bergeming, sampai kata kata muncul dalam hening itu.


"Jika Tuhan adil, Tuhan tidak akan menghadirkan ku di keluarga yang hancur seperti ini." ucap ku pelan dan itu masih bisa di dengar om David.


"Mikha, Tuhan sangat adil, dan jangan pernah berfikir begitu, om dan Tante sangat menyayangi mu, dan tidak akan meninggalkan mu."


Aku menatap om David dan meneteskan air mata dan lagi mulut ku berteriak, menyorakan semua yang ku pendam selama ini.


"Kenapa Tuhan mengambil ibu, menghilangkan Kak Prama, dan kenapa ayah tidak pernah menganggap ku ada, kenapa dia menikah lagi? jika tuhan adil dan menyayangi ku dia tidak akan merebut semua yang ku jaga!" Aku terisak dan terdiam sejenak.


"PERGI !!! SEMUANYA LEBIH BAIK PERGI DARI HIDUP KU, TINGGALKAN AKU SENDIRI!!!"


Aku terus merancau tak jelas, dan om semakin khawatir. Kami pergi ke rumah sakit, dan teman om mengawasi ku, mereka bertanya tentang apa yang ku rasakan.

__ADS_1


******


"Bagaimana Mikha?"


"Vid, aku butuh observasi lagi, Mikha mengalami depresi ringan, ini bisa sembuh dan tidak menghawatirkan namun beri dia kepercayaan bahwa kalian tidak akan meninggalkan dia dan semua kan baik baik saja, buat dia lupa dengan semua yang terjadi."


"Bagaimana caranya, aku mau Mikha ku kembali, Mikha ku yang ceria dan cerdas."


"percayalah dia akan kembali seperti Mikha mu yang dulu, tinggalkan dia beberapa saat di sini, aku akan memberikan terapi padanya."


"Terimakasih, tolong bantu kami."


******"


#Dirumah sakit yang sama di ruangan berbeda


"Siang dok,"


"Selamat siang, Dika semakin hari kau semakin semangat."ucap dokter Chikal pada ku.

__ADS_1


Ini jadwal rutin pemeriksaan berkala ku setiap dua Minggu sekali aku harus datang, mencoba peruntungan tes ku baik baik saja.


Dokter Chikal sudah mengenal ku selama 10 tahun, dia tau betul bagaimana diri ku.


"Bagaimana dok? apa ada kemajuan?"


"Ya, semakin hari semakin baik, masih bermain dengan si bulu angsa?"


"Tentu, bagaimana aku bisa menolak pesonanya."


"Radika, saya punya kabar baik, kamu tidak perlu menunggu 5 tahun lagi, karena kondisi mu membaik dengan cepat, plasma darah mu sudah kembali normal, dan jika terus begitu, satu tahun sepertinya pengobatan bisa segera di hentikan."


"Benarkah? aku sangat senang kalau begitu, oh ya dok aku bertemu dengan penulis blog itu, dia berbeda dengan foto profil nya."


"Semoga saja kau dapatkan hatinya, oh ya ayah mu juga berpesan kau harus cepat menyelesaikan pendidikan SMA mu dan kembali ke Jepang."


"Kuliah dan tinggal bersamanya lalu melihat kehidupan baru Papi? No! That will never happen!"


"Radika, dia itu ayah mu, kau tidak tau apa yang terjadi sebenarnya."

__ADS_1


"Aku sangat mengerti apa yang terjadi,maaf dokter Chikal, aku sepertinya harus pergi."


Lalu aku pergi meninggalkan ruangan itu. Aku melewati taman, dan ternyata aku melihat Mikha tapi, mengapa dengan kursi roda dan infusan? ada apa dengannya dia terlihat berantakan.


__ADS_2