Gak Jelas

Gak Jelas
Bekal Makan Siang


__ADS_3

Aku membereskan buku kedalam tas ku, lalu mengambil buku besar dengan judul Teori Bumi, oke aku akan jelaskan buku ini memang bukan buku karya ilmiah, buku ini adalah novel fiksi, tentang seorang pria jenius dan baik hati namun dia membalut semuanya dengan ketegasan, dia menjelaskan teori tentang berbagai macam hal yang bertentangan dengan dunia, aku sangat suka buku ini.


"Mikha, kau tidak pergi untuk makan siang? kami akan ke kantin untuk makan siang." ajak Yura pada ku, tapi aku membawa bekal dan juga bagaimana buku ini, aku ingin sekali membaca bab selanjutnya.


"Emmm... Yura, kau ke kantin saja, aku membawa makan siang, dan aku juga ingin membaca ini."


"Oh, baiklah, ibu mu sangat baik hati membawakan mu makan siang, aku tidak akan lama ke kantin, aku akan menemani mu makan siang, bay... aku akan segera kembali." ucapnya lalu pergi dari pandangan ku.


Kembali ke novel tadi, tokoh novel ini adalah Jacob dan Cristine, Jacob adalah ilmuan yang mengabdikan dirinya untuk pendidikan selalu meneliti teori teori yang merusak paham dunia, sementara Cristine mencintai Jacob dengan tulus, sampai ia menentang dunia hanya karena cintanya pada Jacob.


"Mikha, seberapa bagus novel yang kau baca hingga kotak makan siang mu belum juga kau sentuh." ucap Yura yang kembali dari kantin.


"Sangat amat menyukainya, dan terlebih mungkin aku sudah jatuh hati pada tokoh dalam buku ini."


"Kenapa?"


"Karena setiap perkataan dan pemikiran nya tegas namun tidak kasar, dia juga cerdas."

__ADS_1


"Kau juga cerdas, apa yang kau jelaskan tadi membuat aku kagum pada mu."


Aku membuka kotak makanan ku...


"Mikha, ibu mu yang membuatkan bekal makan siang untuk mu, wahhh ibu mu pasti yang terbaik ya..." Tanpa tau apapun Yura tersenyum dan kembali memakan, makanan yang tadi di belinya.


"Yura, ibu ku memang yang terbaik, sampai sampai Tuhan sangat menyayangi nya dan membawanya lebih dulu."


Wajah Yura berubah, aku tak tau apa yang Yuna fikirkan sekarang.


Aku menggenggam tangan Yura, dan menatapnya dengan senyum.


"Tak apa, kau orang baru untuk ku, dan aku juga tidak tau apapun tentang mu, hal yang wajar, aku tidak apa, ayo lanjutkan makan siang kita." Aku dan Yura kembali tersenyum dan berbincang sampai jam makan siang usai.


sekolah baru akan usai pada pukul 15.00, dan kalian tau di luar hujan, aku tidak akan bisa pulang tepat waktu, aku juga tidak bisa menghubungi Tante atau om, karena kalian tau kan aku tidak memiliki ponsel.


"Bagaimana ini? hujan tak hentinya turun, huh..." lelah ku menunggu, aku menadahkan tangan ku agar terkena air hujan, rasanya sejuk sekali seperti ada kedamaian yang tersalurkan, aku memejamkan mata.

__ADS_1


tin... tin...


Aku terperanjat dari pejaman mata ku, aku tersenyum menatap dia ternyata kak Juddan.


"Mikha? kau sedang apa? ayo naik ke mobil biar ku antar."


"benarkah kau akan mengantar ku?"


"Tentu, ayo cepat masuk, hujan semakin deras."


Aku pun mengikuti ajakan kak Juddan, diperjalanan dia menanyakan alamat rumah ku.


"Mikha? alamat rumah mu masih yang dulu bukan?" tanyanya karena dia dulu pernah mengantar ku pulang saat pentas seni.


"Bukan, aku telah pindah rumah, sekarang di jalan Cempaka no 145, perumahan sentosa."


"Baiklah." lalu keadaan hening lagi, aku menatap lurus air yang berjatuhan ke kaca depan mobil, sesampainya di sana aku segera turun dan mengucapkan terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2