Gak Jelas

Gak Jelas
Teman


__ADS_3

Aku masuk kedalam kamar ku dan mengganti seragam dengan baju rumah, setelah itu aku mendapat notifikasi di ponsel ku.


KA Juddan.


"Kau pindah sekolah Mikha? Kenapa?"


Aku membacanya, aku tidak ingin cerita saat ini, aku tidak bisa mengumbar masalah ku.


Me.


"Tidak apa kak, hanya ada sedikit masalah, dan jangan pertanyakan mengapa ya, aku tidak bisa menceritakan nya pada mu."


KA Juddan.


"Baiklah, tapi apa kita masih bisa bertemu?"


Me.


"Tentu, kapan pun kau mau, aku pasti datang dan menyempatkan diri, maaf ka, boleh aku meminta sesuatu pada mu?"


KA Juddan.


"Apapun yang kau pinta, aku mengusahakannya."


Me.


"Tolong jangan beritahu siapapun di sekolah, tentang aku yang pindah ke sekolah negri."

__ADS_1


KA Juddan.


"Baiklah, tapi besok bisa kau datang ke cafe untuk main musik dengan ku?"


Me.


"Ya, aku kan datang, see you, aku ada pekerjaan lain."


Dan aku menyudahi pembicaraan lewat pesan singkat itu.


Menerawang jauh ke alam mimpi, aku mulai berandai, aku teringat saat terakhir kalinya ibu berkata pada pada ku, dan itu sukses membuat ku berteriak dan tersentak, lagi lagi air mata turun dengan derasnya, seandainya Prama ada di sini mungkin aku bisa membagi sedikit rasa sesal dan sedih ku padanya, namun semua percuma Prama pergi entah kemana.


7 bulan semenjak kepergian ibu, di empat bulan terakhir ini aku benar benar tidak pernah bertemu dengannya.


Pagi ini aku libur dari sekolah, aku dengan Bass memutuskan untuk pergi ke taman dan lagi aku bertemu dengan laki laki itu Radika, pria yang rela mengalah di turnamen waktu itu, iya, dia yang memberikan mendali emas untuk ku sebagai hadiah katanya.


Dia duduk di samping ku, tepat di kursi taman yang ku duduki.


"Kau? maksud mu keadaan seperti apa?" ucap ku yang sedikit bingung dengan arti pembicaraan nya.


"Selalu dengan keadaan kau membutuhkan teman untuk cerita."


"Aku tidak butuh seseorang atau sesuatu untuk mengungkapkan perasaan ku, aku baik baik saja." ucap ku yang mulai tersulut karena menyembunyikan perasaan.


"Mikha, kita teman kan?" tanya nya.


"Sejak kapan?" jawab ku ketus dan menatap Bass yang ada di depan ku.

__ADS_1


"Sejauh ini kau tidak menganggap ku teman? oh baiklah, aku berharap saat ini kau menjadi teman ku, mau?"


Aku tersenyum, menatap wajahnya yang mungkin mengiurkan bagi setiap perempuan, tapi tidak untuk ku, dia hanya tampan, tapi hati ku milik yang lain.


"Aku rasa aku mau menjadi teman mu Radika, tapi aku punya syarat."


"Apa itu?"


"Ketika menjadi teman ku, bersiaplah dan jangan pergi saat aku mulai menganggap mu sebagai sahabat, yang harus selalu ada dalam suka suka ku."


"Hanya itu?" dan aku mengangguk, dia menatap mata ku lekat, sungguh dia memang pria yang tulus, usianya bisa dibilang 2 tahun diatas ku.


"Mau jalan jalan?"


"Kemana?" jawab ku,


"Berkeliling, dengan motor mu, aku akan menunjukan tempat terbaik untuk menjernihkan pikiran mu."


Aku pun diajaknya ke sebuah tempat, disana terdapat sebuah air terjun, meski hanya buatan, tapi sungguh ini indah, dan di bawahnya adalah danau sungguhan.


"Kau tau danau itu asli, dan sangat dalam dasarnya, aku pernah jatuh di sana dan untung saja aku bisa berenang dan naik kepermukaan."


"Dika, kamu sudah berapa lama pindah ke Indonesia?"


"Sudah 6 bulan, dan tadinya aku juga tinggal di Indonesia, aku ke Jepang hanya untuk menemui ayah ku, dan itu hanya 4 tahun saja."


"Mengapa?"

__ADS_1


"Kau tidak perlu tau, jika kau saja masih mengunci rapat masalah mu."


Lalu kami saling terdiam menikmati sejuknya pemandangan.


__ADS_2