
Pagi ini aku terbangun karena ponsel ku berbunyi.
"Kak Prama!" aku terkejut saat menatap layar ponsel, aku mencoba berfikir positif tentang apa yang akan di bicarakan kak Prama.
"Hallo, bagaimana kondisi ibu kak?" tanya ku yang selalu saja merujuk pada kondisi ibu.
Wajah Prama memucat saat ia menghubungi sang adik yang kini posisinya berada di rumah dan tidak mengerti bagaimana keadaan ibundanya yang kini sudah semakin lemah,di tambah adiknya itu segera mengajukan pertanyaan tentang kondisi sang ibu.
Dengan suara netral Prama mencoba untuk menyembunyikan semuanya.
"Ah... iya Ika, ibu sedang dalam perawatan, hari ini jangan masuk sekolah ya, kau kesini saja ke rumah sakit, kita menjaga ibu bersama." jelas Prama kepada sang adik, Prama juga tak dapat menahan rasa sedihnya saat ini.
"Baik kak, Ika akan datang, jaga ibu ya kak."
"Ya."
Setelah sambungan terputus aku segera melesat ke kamar mandi dan berganti pakaian, aku pergi ke ruang makan, di sana terdapat Tante Marwah yang sedang menyiapkan sarapan.
"Mikha, sarapan dulu kamu mau kemana?"
__ADS_1
"Rumah sakit Tante, aku ingin menjaga ibu, kak Prama meminta ku untuk tidak masuk sekolah hari ini."
" Oh baiklah, setidaknya minum susu atau makan roti untuk sarapan mu."
Aku pun mengambil roti dan meminum susu dari kulkas, dan setelah itu berpamitan dengan Tante Marwah.
Aku datang ke rumah sakit dengan mengunakan taksi online, setelah sampai aku bertanya pada resepsionis dimana ruangan ibu ku.
"Ada yang bisa di batu nona?" tanya resepsionis wanita itu.
"Mbak saya mau tanya, ruangan ibu Quartarina Luis ada dimana ya?"
"Atas nama ibu Quartarina Luis ada di ruangan ICU lantai 3 di ruangan observasi."
"Oh, baiklah, terimakasih."
Dengan langkah gemetar aku berjalan melewati koridor rumah sakit, aku kecewa ibu tidak ada diruang rawat, melainkan di ruang ICU, mata ku memanas air mataku turun deras, detak jantung ku berdegup tak beraturan.
Sampai aku di ruangan yang ku tuju kak Prama, ayah dan om ada disana.
__ADS_1
Mereka menangis, menyaksikan seorang dokter telah memacu kerja jantung ibu ku.
Tanpa bertanya aku sudah mengerti nyawa ibu mungkin tidak dapat tertolong, melihat detak jantung ibu dari monitor aku mengerti ikhlas adalah hal yang harus kami berikan sekarang.
"Seharusnya kalian memberi tau aku tentang kebenaran kondisi ibu, jangan seperti ini."
Kak Prama menoleh dan segera memeluk ku, dia menangis, aku tak pernah melihatnya menangis seperti ini.
"Maaf Ika, kak gak berani takut kamu tidak menerimanya."
"Aku, tidak papa jika ibu harus pergi, asalkan ibu tidak merasa sakit lagi, ayah berjanjilah pada ku untuk tidak menikah lagi."
Aku menatap ayah tapi ayah hanya menatap ibu yang berada di sana, dan ia terus menundukan kepalanya.
om memeluk ku dengan erat, dia menyalurkan semua rasa kasihnya pada ku, sementara aku hanya diam menatap dokter yang keluar dan mengabarkan kepergian ibu.
"Maaf, keluarga nyonya Quartarina, saya dan tim turut berduka, nyonya Quartarina sudah tiada tiga menit yang lalu." Aku meluruh merasakan sesak, dan seperti sesuatu yang ada dalam dada ku menghilang, dan aku hanya bisa meneteskan air mata lagi dan lagi.
Kak Prama hanya diam sekarang dia berusaha tegar dan ikhlas namun aku tau kak Prama sungguh amat kehilangan ibu.
__ADS_1