
Sore itu aku kembali ke rumah, aku segera masuk kedalam kamar ku, karena beberapa sanak saudara ayah sedang berkumpul dilantai bawah.
Aku tidak suka keramaian, itu sebabnya aku tidak pernah perduli pada mereka, terlebih Oma yang selalu menasehati ku ini itu, aku benci keadaan ramai.
Salah satu dari mereka pernah memarahi ku ketika satu Minggu kepergian ibu, mereka bilang jangan terlalu menangisi kepergian seseorang, dan dia adik ayah ku malah bicara yang menyakiti hati ku, sudah jangan menangis terus dan mengurung diri begitu, yang sudah meninggal ya sudah kita nikmati saja semua yang sudah di tinggalkannya.
Kalian tau maksudnya apa? dia mau menikmati hasil tabungan ibu ku, koleksi barang milik ibu, mereka mengambil baju ibu, mereka mengambil koleksi tas milik ibu dan yang terparah dan aku tidak terima mereka mau mengosongkan barang barang dapur milik ibu, sumpah demi apapun selain koleksi milik ibu barang dapur lah yang paling di cintai ibu, aku menolaknya dan bertengkar hebat saat itu, dan kini mereka kembali ke rumah ini.
Jam sudah menunjukan waktu makan malam, aku sudah hampir terlelap, dan ketika nyaris terpejam pintu kamar ku di ketuk oleh keponakan ayah ku.
Dia Mona, aku biasanya memangnya begitu.
"Masuk!" teriak ku karena memang kamar ku tidak di kunci, dia melenggang masuk dan duduk di ranjang ku.
"Kau tidak makan malam Mikha?"
Dia bertanya namun aku sedikit acuh padanya.
__ADS_1
Sambil memainkan ponsel dan menjawabnya dengan malas.
"Aku tidak lapar, sebelum pulang tadi aku sudah makan di jalan."
"Mikha, besok kita sekeluarga harus menghadiri acara pernikahan, jadi kenakan gaun ini." ucapnya sambil menyerahkan tas berisi pakaian.
"Siapa yang akan menikah?" aku bertanya penuh selidik.
"Om." ucapnya singkat, dan aku tau siapa yang di maksud, siapa lagi kalau bukan ayah.
"Bagaimana Mikha, kau baik baik saja kan?"
Bagaimana bisa ku jawab baik, aku tidak percaya ayah akan melupakan ibu dengan mudah seperti itu, bahkan mungkin Prama pun belum tau tentang ini.
"Keluar lah, aku mau tidur, jangan ganggu aku." ucap ku penuh penekanan.
Setelah Mona pergi, aku menarik ransel ku dan memasukan beberapa baju kedalam ransel, tak banyak hanya baju seragam dan juga badminton, aku menarik dompet dan beberapa hal lain yang aku butuhkan, aku menyambar kunci motor dan pergi begitu saja menjemput Bass di garasi.
__ADS_1
Tidak mudah untuk pergi dari rumah ini, ayah mencegat ku dengan meremas pergelangan tangan ku.
"Kau tidak akan pergi kemana pun Mikhayla!"
"Aku akan pergi kemana pun yang aku mau, termasuk pergi bersama ibu!"
"Mikha, beraninya kau! selangkah keluar dari rumah ini, maka pintu itu tak akan pernah terbuka lagi untuk mu."
"Sejak kau memutuskan untuk menikah dengan perempuan itu, kau memang sudah tidak menganggap ku ada bukan!" Ayah hanya mampu terdiam, aku membawa Bass dan diriku melaju di jalanan, entah aku tak mengerti harus kemana.
Hati ku hancur, rapuh dan aku tidak bisa berbuat apapun, sampai akhirnya ku putuskan untuk datang ke rumah om David dan Tante Marwah.
Sesampainya di sana om dan Tante hanya memeluk ku dan mencium ku, mereka tidak berkomentar saat aku menceritakan semuanya.
Mereka menyuruh ku untuk naik kelantai atas dimana sebuah kamar kosong yang menjadi kamar ku menginap tersedia.
Aku terlelap dengan balutan selimut yang di berikan om David, dia mengecup kening ku, seakan meyakinkan bahwa semuanya akan baik baik saja.
__ADS_1