
Aku mengunjungi dirinya yang sedang duduk di kursi roda dengan seorang perempuan yang tidak mungkin ibunya, ya... mungkin sanak saudaranya.
Dengan senyuman khas ku aku menyapanya.
"Hay, Mikha?" Ku tatap matanya, kulihat garis hitam dan wajah pucat yang menghiasi di siang ini.
"Dika? kau disini? untuk apa?" dia bertanya, namun aku mencoba mengalihkan pertanyaan itu.
"Kau sendiri? kau sakit?" duga ku padanya, dia tidak menjawab, wanita yang ada di belakangnya lah yang menjawab.
"Mikha, tidak apa apa, hanya kelelahan, oh ya... mau kau menjaga Mikha sebentar, saya mau mengurus beberapa berkas milik Mikha."
"Baik Tante, saya akan menjaga Mikha."
Perempuan itu pergi dan kini aku duduk menghadap Mikha, duduk di atas rumput dan menatap dirinya.
"Aku tau kau tidak baik baik saja, aku teman mu bercerita lah, aku selalu menemukan mu dengan keadaan butuh cerita, dan seseorang yang mampu mendengarkan dengan baik."
__ADS_1
Mikha masih diam, dan air matanya jatuh, aku merapikan rambutnya, mengikatnya dengan ikat rambut yang awalnya ingin ku berikan pada Ersa, sebelum berangkat ke rumah sakit tadi pagi.
Aku mengusap lembut pipinya, dengan tisu agar air matanya terhapus.
"Benarkan apa kata ku, kau tidak baik baik saja, aku hanya ingin kau bercerita dan melepaskan semua gundah di hati mu, kita teman, dan aku tidak ingin teman ku terluka."
Dia menggenggam tangan ku melepaskannya dari pipinya, dia menatap ku, aku tau ada sakit yang dalam telah menghantam dirinya.
"Sedari kecil, sedari aku bisa berfikir dan melihat dengan jelas, aku ingin sekali memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia." suaranya tersekat, dia menangis dengan deras dan rasanya dia akan meledak.
Aku kembali penasaran dan menemui Tante yang tadi, dan kini aku melihat Mikha telah tidur, tapi wajah penuh cemasnya masih ada disana.
"Permisi, Tante."
"Oh... kau teman Mikha?"
"Ya, perkenalkan aku Radika, aku temannya Mikha." Tante itu kembali menjelaskan siapa dirinya.
__ADS_1
"Saya Marwah, adik ipar ibunya Mikha, kau tau apa yang Mikha alami sekarang?"
"aku tau, apakah ini akan berlangsung lama?"
"Saya tidak tau Radika, tapi jika kamu teman Mikha, jangan menjauh darinya, jadilah teman yang selalu ada untuknya."
"Tante, boleh besok saya datang lagi?"
"tentu, datanglah kapan pun kau mau."
Aku berpamitan, dan pergi dari rumah sakit, dirumah aku di sambut dengan beberapa orang yang asing menurut ku, aku tidak suka mereka ada di sini.
"Dika, ayo beri salam pada om."
"Kita tidak punya tali persaudaraan apapun, kecuali sesama manusia, dan dia aku tidak suka dia ada di sini, tujuannya hanya mama, dan bukan aku."
Aku masuk kedalam kamar dan mendengus kesal. Dari awal aku benci semua ini, orang yang di pilih mama untuk menggantikan Daddy, mama ku sudah seperti orang yang tak ku kenal sekarang, terlalu banyak pria yang ia kenalkan pada ku, tentu semua itu tidak bisa mengganti Daddy di hati ku, meski aku sangat membecinya.
__ADS_1