
Setelah seminggu kepergian ibu, aku mencoba untuk kembali beraktivitas, aku bertekad untuk memenangkan turnamen musim ini, aku akan mendapatkan mendali emas untuk lomba kali ini.
Pagi ini aku bersiap untuk pergi ke sekolah, aku menolak untuk diantar, aku mengenakan sepeda ku untuk berangkat, aku berangkat lebih pagi dan kembali hampir malam, semua ku lakukan hanya untuk melupakan ibu, jika terus berada di rumah aku hanya semakin mengingat semua kenangan ku bersamanya.
Setelah sampai di sekolah aku menyibukan diri dengan membaca buku buku bahkan ketika jam istirahat pun aku membawa bekal makan siang ku ke perpustakaan dan memakannya sambil membaca.
"Mikha, aku tidak pernah melihat mu di ruangan musik lagi selama tiga hari ini, kau sedang sibuk ya?" Ucap Kak Juddan.
Kak Juddan adalah senior ku di kelas musik isinya hanya berbeda dua tahun dari ku, dia yang mengajari ku bermain gitar di kelas musik.
"Maaf, aku hanya ingin sendiri sekarang, bisa kakak tinggalkan aku sebentar." ucap ku yang mulai merasa terganggu dengan kehadirannya.
Dia pun pergi meninggalkan ku, cukup lama sampai jam istirahat selesai aku baru kembali ke kelas, dan setelah jam selesai, aku kan pergi ke lapangan indoor.
Tempat ku bermain badminton cukup jauh dari sekolah, namun tidak menyurutkan semangat ku.
"Aku boleh ikut main?" ucap ku pada ke tiga orang disana, ada Hardi, Felix dan pak Rendy.
"Mikha? kau sudah datang, baiklah ganti baju mu dan bermain bersama kami." ucap Hardi.
Saat bermain bersama mereka aku selalu menang namun mengapa hari ini aku terkalahkan.
__ADS_1
"Mikha, kau sedang melakukan apa?" ucap Felix.
"Tidak, aku hanya sedikit lelah mungkin, Felix apa aku bisa melawannya ya?" ujar ku yang nampak ragu dan kini mengambil tas ku dan melenggang pergi.
"Jangan risaukan semua itu, kau pemain yang hebat, kau akan mendapatkan emas mu kembali Mikha."
Kami pun terpisah karena Felix dan kami beda tujuan.
Sesampainya di rumah aku tak mendapati kak Prama atau ayah, rumah terasa sepi dan sangat membosankan.
Aku memasuki kamar ku dan lagi air mata ku luruh tak beraturan, aku menulis di kertas warna-warni menuliskan harapan ku kali ini, aku selalu membuat tulisan" seperti itu dan memasukannya kedalam toples bening dan terkunci.
Aku merasakan lelah dan akhirnya mandi lalu terlelap.
Aku kembali ke kamar tanpa memperhatikan apapun yang di lakukan ayah bersama orang itu.
Pagi pun tiba sinar matahari masuk menembus jendela kaca milik kamar ku.
Hari ini tak ada aktivitas sekolah hanya saja aku memiliki janji untuk mengisi acara musik di cafe orang tuanya kak Juddan.
Aku mandi dan berganti pakaian celana pendek cargo berwarna hitam, sepatu cats dan juga kaos oblong hitam di padukan dengan kemeja lengan pendek.
__ADS_1
Aku mengambil gitar dan dompet kemudian berlenggang pergi, aku melihat ke seisi rumah, mata ku hanya tertuju pada pembantu rumah ku kak Santi.
"Pagi non."
"Pagi kak, ayah sudah berangkat ke kantor lagi?" tanya ku sambil meneguk segelas jus mangga fresh yang ada di kulkas.
"Bapak sudah berangkat dari subuh tadi non, mau dibuatkan sarapan apa?" tanya kak Santi karena dia sangat tau aku akan makan sebelum keluar rumah.
"Enggak kak, nanti aku akan makan di cafe saja." Aku berlenggak pergi dan kali ini aku mengeluarkan Bass dari dalam garasi. Aku mengelus Bass.
"Kita akan bersama sekarang, masa bodo dengan peraturan ayah, kali ini aku akan melanggarnya.
Aku memakai helm full face ku, dan menyalakan mesin Bass. Aku pergi dengan Bass, sepanjang perjalanan mata ku berpusat pada jalanan yang ada di depan ku.
Setelah sampai di cafe aku menemui kak Juddan yang sedang menyesap kopinya.
"Maaf, kau menunggu terlalu lama kak?"
"Tidak, baru lima menit, kau sudah sarapan? kau mau pesan apa?" tanya nya pada ku dengan senyum manisnya.
"Adakah pancake? aku mau makan pancake dan susu coklat dingin saja."
__ADS_1
"Baik tunggu sebentar." kak Juddan pergi untuk memesankan makanan ku.