
Pagi ini aku berniat untuk kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Mikha dengan mengajak Ersa, karena hari ini Ersa juga tidak ada kelas homeschooling.
"Sa, kamu sudah siap?"
"Sebentar." ucap Ersa yang keluar dari halaman belakang dengan membawa banyak buah mangga dari kebun belakang.
"Untuk apa Sa?" tanya ku yang penuh heran.
"Untuk kak Mikha."
"Kita bisa beli buah di jalan, dan itu kan cuma mangga."
Ersa mendengus kesal dan menatap lekat ke arah ku.
"Kau ini, mangga yang ku jaga dan ku tanam dengan jerih payah ku akan terasa nikmat, apalagi ini buah pertamanya, aku ingin buah pertama ini kak Mikha yang kau cintai yang pertama kali mencicipinya." aku tersenyum mencubit pipinya.
"Terimakasih atas dukungan mu." dia tersenyum dan kami masuk kedalam mobil yang akan membawa kami menuju rumah sakit.
Sampai di depan lobby aku bertemu dengan Tante Marwah, wanita yang kemarin menemani Mikha.
"Selamat pagi Tante." ucap ku menyapanya yang membawa tas ransel dan kantung makanan.
__ADS_1
"Pagi, oh... Dika, ini siapa cantik sekali?" sapanya.
"Ini Ersa, dia adik ku Tante, oh ya, Sa ini Tante Marwah tantenya Mikha." Ersa langsung saja bersalaman dengan Tante Marwah.
"Kamu mau jenguk Mikha atau ada hal lain?"
tanya Tante Marwah sambil berjalan.
"Menjenguk kak Mikha Tante, selain itu aku juga ingin memberikan ini untuk kak Mikha."
Jawab Ersa dengan cepat sebelum aku menjawab.
"Mikha? ini ada Dika dan adiknya."
Mikha tidak menjawab hanya tersenyum menatap aku dan juga Ersa.
"Hallo kak Mikha, aku Ersa senang bertemu dengan mu, oh ya, aku membawakan mu mangga, ini buah pertamanya, dan aku ingin ini kau yang mencicipinya." suara cempreng Ersa membuat Mikha tertawa.
"Aku Mikha, aku juga senang bertemu dengan mu." ucap Mikha dengan nada lemas khas orang sakit.
Kami bicara banyak dengan Mikha, ku harap dia mau menjadikan ku temannya, ku harap bisa mendengarkan segala keluhnya, tapi dia benar benar menyimpan rapat segala hal tentangnya dan tersenyum seakan tak ada apapun.
__ADS_1
"Ersa, kau senang punya kakak laki laki seperti dia?" tanya Mikha dan menatap pada ku.
"Tentu, aku sangat berterimakasih pada Tuhan telah memberikan dia dalam hidup ku, dan tuhan memberikan dia lengkap dengan wajah tampan serta hatinya yang baik." ucap Ersa dengan segala celotehnya yang membuat ku malu.
"Mikha...?" aku hening, sepertinya aku tidak mungkin menyatakan perasaan ku disaat seperti ini.
"Ya... ada apa Radika?"
"Tidak ... tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya kapan kau kembali ke lapangan?"
"Oh... aku tidak tau kapan, tapi mungkin secepatnya."
"Secepatnya? Lalu bisakah kita tanding kembali, kemudian kalahkan aku."
"Tentu Radika asalkan kau tidak mengalah seperti waktu itu..." Mikha bicara lalu terdiam menatap ku dengan penuh perhatian.
"Ada apa menatap ku seperti itu? apakah aku setampan itu sampai kau benar benar enggan melepaskan tatapan mu?"
"Kau lebih dari tampan menurut ku, kau ini jelmaan Malaikat atau apa?" ucap Mikha lalu bersambung dengan tawa mereka yang pecah menghimpit sunyi di ruangan tersebut.
Mikha, jika aku bisa mengambil dan memiliki seluruh hati mu, maka aku yang akan menjaga, melindungi dan setia di samping mu, aku tidak akan biarkan kau terluka lagi.
__ADS_1