
Manusia bisa bertahan disaat tersulit sekali pun, manusia juga bisa hancur bahkan hanya karena setitik hal.
Aku terdiam bisu, dan mata ku menatap nanar kearah batu nisan yang disana tercetak nama ibu ku, Quartarina Luis, aku berharap kau tenang disana tidak merasa sakit atau kecewa.
Aku menerawang ke masa lalu, dimana sosok manis itu selalu menyambut ku ketika kembali ke rumah, dia selalu tersenyum anggun dan selalu menyajikan masakan terbaiknya.
Aku teringat satu malam yang dingin dimana ayah tidak kembali dari pekerjaannya sementara Prama dan aku keracunan makanan akibat pembantu rumah tangga kami saat itu tidak membuang semua prodak expaerd.
Ibu dengan penuh perjuangan untuk melindungi kami membawa kami ke dokter menunggui dan merawat kami.
Saat aku bertanya dimana ayah? ibu hanya menghela nafas yang aku tau, ibu tidak pernah seragu ini.
Bulan berlalu dan aku mendengar perbincangan mereka berdua di kamar tidur mereka.
"Aku tau, kau sudah tidak mencintai ku lagi, dan aku sadar aku tidak mampu lagi menemani mu, tapi aku mohon tahan dulu apa yang kau mau paling tidak sampai aku mati." isakan datang dari balik pintu dan aku tau itu ibu.
"Aku pria normal, aku membutuhkan wanita, untuk nafsu ku, menunggu mu mati? seperti menunggu undian lotre!" kini ayah yang mulai berbicara, berhari hari aku ingin menanyakan semua tentang pertengkaran mereka tapi aku tau ibu akan lebih sedih lagi.
Aku pernah melihat ibu menangis, dan itu kali pertama aku melihatnya, jujur selama 12 tahun hidup ku bersama ibu aku tidak pernah melihatnya menangis seperti itu, bahkan melihatnya mengeluh akan sakitnya pun aku tidak pernah mendengarnya.
__ADS_1
"Ada apa ibu?" ucap ku sambil menghapus air matanya.
"Kau sudah kembali Ika? kau mau makan atau berganti pakaian dulu?" ibu berusaha menghindar, aku menahan dan memeluknya.
"Ibu? kau tidak sedang baik bukan? ceritakan pada ku sekarang ada apa?"
Ibu mengelus pipi ku, seakan aku yang butuh pertolongan dan aku yang memiliki masalah.
"Ibu akan baik baik saja selama kau dan Prama masih bisa tersenyum, Ika ibu sangat mencintai mu, jika suatu saat ibu harus pergi dan meninggalkan mu, tolong tetap bersama ayah dan hormati semua keputusan nya."
"Kenapa harus menurut pada ayah? ayah selalu melarang ku setiap saat, selama ini aku menurut padanya hanya karena aku tidak mau ibu sedih." aku mengeratkan pelukan dan mencium pipi nya.
"Ika, ibu akan selalu ada untuk mu, akan selalu sampai kapan pun."
Ingin sekali aku berteriak dan protes pada Tuhan, mengapa dia menguji ku dengan semua hal yang menyakitkan seperti ini.
Hari makin sore, aku memutuskan untuk kembali ke rumah om dan Tante.
Aku menghampiri Tante Marwah yang sedang memasak sesuatu, aku memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Sore Tante ku sayang, harum sekali." air liur ku hampir menetes saat ku tau Tante sedang memasak opor ayam kesukaan ku.
"Wow... opor ayam ya Tan?"
"Iya, Tante sengaja masak ini, melihat mu akhir akhir ini kurang nafsu makan, dan Tante ingat ibu mu selalu bilang kalau masak opor ayam Mikha selalu bersemangat." Aku menatap panci yang berisi opor ayam.
Rasa lapar ku hilang, dan aku tanpa sengaja pergi meninggalkan Tante Marwah di dapur.
"Mikha, kau mau kemana? kita makan bersama." teriakan Tante memenuhi penjuru ruangan.
Sedikit demi sedikit aku bisa menetralkan perasaan ku kini, dan aku kembali ke ruang makan, dimana Tante dan om sedang makan bersama.
"Mikha, ayo duduk." ucap Tante Marwah sambil menyiapkan nasi untuk ku.
Bukannya duduk aku malah memeluknya dan menumpahkan semua air mata di dalam dekapannya.
"Maaf Tante, Mikha membuat Tante sedih, Mikha hanya ingat ibu, maaf Tante."
"Iya sayang, Tante tau perasaan mu, Tante gak papa kok, kalau Mikha memang tidak mau makan opor buatan Tante juga gak papa."
__ADS_1
"Maaf Tante."
Dan akhirnya kami pun makan dengan perasaan yang masing masing kami rasakan.