Gak Jelas

Gak Jelas
Perasaan


__ADS_3

Hari ini hari Minggu aku akan datang ke club batminton ku, meski sejak kejadian mengalah dari Mikha cukup membuat beberapa orang menjauhi ku, aku tetap berlatih.


Sebelumnya aku sudah memberi tau kalian bahwa sekarang aku sedang sakit dan juga menjalankan pengobatan beserta serangkaian perawatan.


"Hii... Radika, bagaimana keadaan lo?" Dia Judan, teman rumah ku, dia tau banyak tentang ku termasuk pengobatan ini.


Tubuh tinggi kulit sawo matang dan mata tajamnya, Judan cukup tampan dan di usianya yang baru 14 tahun dia sudah memiliki banyak penggemar karena kepandaian nya bermain alat musik.


"What's up bro ...yeahhh seperti yang kau pandang sekarang, lumayan bugar dan masih bernafas." sambut ku yang di balas tawanya.


"Kau ini, bagaimana dengan perempuan yang menulis di blog itu? kau sudah menemuinya bukan?" tanya dirinya pada ku, ya... aku menceritakan perempuan yang membuat hati ku untuk pertama kalinya tergetar, meski usia ku baru 12 tahun saat itu tapi aku tau ini yang terakhir.


Aku banyak cerita tentang penulis itu pada Judan, dia selalu menanggapi dengan antusias.


"Gue udah ketemu sama dia, bahkan sudah lebih dekat, tapi sekarang..."


Aku menundukkan kepala lalu tersenyum dan membawa tas latihan ku pergi bersama Judan.

__ADS_1


"Kenapa bro? jangan terlalu terobsesi lah, cewek gak cuman satu kok."


"Bukan itu, dia sedang sakit sekarang, psikologi nya terganggu, terakhir ketemu dia memang lagi drop banget, sampai gue aja gak tega buat ninggalin dia sendiri." ucap ku penuh iba.


"Terus lo mau gimana? kalau menurut gue harusnya lu lepas dia aja, masih banyak cewek di luar sana yang mengharapkan senyuman dari Lo, cewek gangguan jiwa gitu apa yang Lo harap?"


"JUDAN! JAGA OMONGAN LO!!! Lo boleh bicara apapun tentang semua wanita di dunia ini, terkecuali dia! ngerti Lo!" ucap ku final.


"Ya... sorry gue gak maksud..."


Aku cuma bisa mengangguk, dan terus melangkah menuju parkiran.


Judan memesan sebuah hot vanilla latte sementara aku dengan lemon tea tanpa gula.


"Dik, gue jadi penasaran sama perempuan yang di blog itu, dia beneran cantik gak?" ujar Judan dengan senyum² andalannya.


"Dia gak cantik, dia garang, dia juga sederhana, tapi dia beda..."

__ADS_1


"Apa yang buat dia beda? body?" ucapnya sambil mengedipkan mata.


"Gue bukan cowok mesum kaya Lo ya... dia selalu bersembunyi dalam kesedihannya, senyumannya buat gue jatuh cinta, dan mungkin ini yang pertama dan terakhir buat gue."


" Lu tau gak, lu itu lebay, kenapa lebay? karena lu gak akan bisa prediksi siapa yang akan mendampingi Lo nanti dan juga Lo gak akan pernah tau kapan Lo mati."


"Tapi kayanya kondisi gue semakin memburuk Dan."


"Kenapa Lo ngomong begitu, Lo udah gak mau jadi temen gue lagi, Lo udah gak mau melindungi keluarga Lo dari pria brengsek itu, inget Dik, Lo masih punya banyak mimpi termasuk penulis itu."


"Gue gak tau, mungkin perasaan ini gak akan pernah gue ungkapin ke dia."


"Gue bisa bantu Lo supaya dia bisa tau perasaan Lo sama dia."


"Makasih, tapi rasanya lebih enak begini, lagian usia kita masih belum cukup untuk main perasaan."


"Kata siapa? jatuh cinta itu gak kenal umur."

__ADS_1


"Ya... iya sih, tapi gue bukan elo."


jawab ku cepat, kemudian aku berpamitan dengannya.


__ADS_2