
Di sekolah
Axel yang baru saja tiba di pintu gerbang sekolah. Tiba tiba di tarik tangannya oleh Bryan dan Celvin.
"Ada apa?" Tanya Axel, namun tatapannya tertuju pada teman temannya yang mengerumuni Friska.
"Ayo ikut gue!" Kata Bryan menghampiri kerumunan anak anak.
"Stop!" Axel menepis tangan Bryan dan Celvin. "Gue lagi sakit, jangan tarik tarik."
"Hah? Lo sakit?" Bryan menempelkan telapak tangannya di kening Axel.
"Ahh, paan sih!" Protes Axel.
"Kayanya lo makin dekat deh," timpal Celvin memperhatikan wajah Axel.
"Dekat apaan?" Tanya Axel menatap serius wajah kedua sahabatnya.
"Dekat keranda mayit, hahaha!" Celvin tertawa terbahak bahak di ikuti Bryan.
"Seneng lo, gue mati!" Rutuk Axel cemberut.
"Axel, sini!" Panggil Friska.
Bryan dan Celvin langsung menarik tangan Axel mendekat ke arah Friska.
"Minggir, ada apa ini?!" Seru Axel mendorong satu persatu teman temannya.
"Hai, Axel!" Sapa Friska tersenyum manis.
"Nggak usah sok manis depan gue," Kata Axel ketus.
"Taraaa!" Friska menunjukkan sebuah video di ponsel miliknya.
Axel menautkan kedua alisnya melihat Bintang tengah berduaan bersama seorang pria paruh baya di sebuah kafe.
__ADS_1
"Maksud lo apa, nunjukin video kek gini ke gue?" Tanya Axel menatap tajam Friska.
"Lo, dan kalian semua harus tau, cewek yang terlihat kalem dan mukanya melas minta di kasihani. Ternyata buaya betina!" Friska menunjukkan video itu kesemuanya.
"Maksudmu apaan sih!" Bintang dan Gema yang baru saja datang langsung merebut ponsel milik Friska.
"Napa lo, malu? Masih punya muka lo di depan kita semua!" Friska semakin nyolot ketika target nya sudah datang.
"Bubar bubar!" Seru Gema, mengusir satu persatu teman temannya. Tinggallah Friska, Axel dan dua sahabatnya.
"Lo juga, ngapain lo masih di sini?" Tanya Gema menatap ke arah Axel.
Axel mendengus kasar lalu balik badan.
"Cabut yuk!" Ajaknya pada dua sahabatnya.
"Fris, kenapa si? Kamu ga berhenti nyakitin?" Tanya Bintang, menatap marah ke arah Friska.
"Punya nyali? Balas dong, jangan cengeng!" Seru Friska.
Friska semakin benci dan marah pada Bintang. Karena banyak yang peduli padanya. Termasuk Gema, salah satu siswa yang paling baik, care dan pintar.
"Masih ada Axel, gue yakin Axel tidak menyukai Bintang." Friska tersenyum dan memutuskan untuk menemui Axel.
Friska berjalan santai sambil memainkan rambutnya yang panjang, tersenyum dan menghampiri Axel.
"Axel tunggu!"
Namun Axel tak menggubris panggilan Frika. Ia terus berjalan tergesa gesa dengan tas di punggungnya.
"Axel!"
Friska berdiri di hadapan Axel sambil terus berjalan mundur dengan pelan sampai halaman sekolah.
"Lo kenapa? Kerasukan?" Tanya Axel.
__ADS_1
"Apa? Gue yang cantik gini, ga mungkin kerasukan." Jawab Friska mencoba menghentikan langkah Axel.
"Minggir lo!"
"Bisa tidak, sedikit saja lo bersikap baik ke gue kaya si Gema." Kata Friska membandingkan.
Axel terdiam seketika, lalu tersenyum seringai.
"Terus, kalau gue baik. Gue bakalan tertarik sama lo, mimpi!"
Raut wajah Friska berubah masam. Pernyataan Axel menyinggung perasaannya. Apalagi ada teman temannya yang mendengar perkataan Axel.
"Lo lupa, gue cewek tercantik dan terpopuler di sekolah ini."
Axel tertawa kecil, mengangkat dagu Friska.
"Lo mengingatkan gue sama uang receh buat kerokan Celvin, bermuka dua dan ga ada harganya."
"Lo menghina gue?" Tanya Friska mulai tidak suka dengan ucapan Axel.
"Gue nggak menghina, gue cuma mendeskripsikan lo seperti itu. Lo sadar gak sih, lo memang cantik. Tapi kelakuan lo kalah cantik sama si Jeni." Ungkap Axel dengan nada meledek.
"Jeni?" Tanya Friska.
"Ya, Jeni cewek gendut. Mungkin kita perlu jalan jalan ke kebun binatang, siapa tahu keluargamu di sama bisa menasehatimu, secantik apa kamu sampai menghina orang lain dan menyebar fitnah soal Bintang." Jelas Axel panjang lebar.
"Akh! Bintang lagi Bintang lagi!" Pekik Friska marah.
"Ngaca neng, lo ga lebih baik dari Bintang."
Selesai bicara seperti itu, Axel beranjak pergi meninggalkan Friska.
"Axel!" Teriak Friska tidak terima.
Namun Axel tidak perduli, ia terus melangkah meninggalkan sekolah.
__ADS_1
"Kata katamu pedes banget, nyakitin hati. Tapi aku menyukaimu." Gumam Friska.