
Starla dan Wisnu mulai menyadari perubahan sikap Axel. Biasanya, setiap malam mereka berkumpul sekedar untuk berbincang sebelum tidur. Tetapi sudah hampir satu minggu ini, Axel memilih mengurung dirinya di kamar dan sibuk dengan ponselnya.
Sempat terlintas dalam benak Starla kalau Axel sedang tidak baik baik saja, namun saat di temui. Raut wajah Axel terlihat senang dan sering senyum sendiri dengan ponselnya.
Apakah ini karena Bintang? Gadis yang sudah mencuri perhatian Axel.
"Axel sudah besar sekarang." Kata Starla membuka pembicaraan.
"Hmm..." Wisnu menanggapi datar pernyataan Starla.
"Sepertinya putra kita sudah menyukai seorang gadis." Kata Starla lagi.
"Siapa?" Tanya Wisnu mulai memperhatikan Starla.
"Bin...?
"AAAAAARRRGHH!"
Starla dan Wisnu terkejut mendengar suara teriakan Axel di kamarnya. Mereka bergegas menuju kamar putranya karena takut terjadi apa apa padanya.
Namun sesampainya di kamar Axel, mereka mau heran tapi itulah putra mereka. Apabila sedang kacau atau marah pasti teriak histeris dan selalu melempar barangnya.
"Axel?"
Axel menoleh ke arah Starla dan Wisnu dengan raut wajah kesal.
"Ada apa nak?" Tanya mereka.
"Aku kesal mom!" Sahutnya sambil melempar ponselnya ke atas tempat tidur.
"Kesal kenapa, coba cerita?" Starla menghampiri Axel lalu duduk di kursi dan siap mendengarkan keluh kesah putranya.
Matanya berkaca kaca, dengan nada yang berapi api, Axel menceritakan tentang Bintang yang lama membalas Chatnya sampai satu jam lamanya.
"Bintang?" Tanya Wisnu.
Starla menoleh ke arah Wisnu dan memintanya untuk diam dulu.
"Mungkin Bintang sedang sibuk, belajar atau tidur mungkin?" Terka Starla.
"Nggak mungkin mom, aku tau kebiasaan Bintang. Masa jam segini sudah tidur." Keluh Axel.
Starla melirik ke arah Wisnu yang menyembunyikan senyumnya, kemudian ia bertanya lagi pada putranya.
"Terus, mau kamu gimana?" Tanya Starla.
"Aku mau Bintang!' Sahutnya kesal.
"Baik, aku coba cari tahu. Bintang sudah tidur atau gimana." Kata Starla.
Axel mengangguk lalu menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur dan menarik selimut.
Setelah Axel tenang, Starla dan Wisnu keluar dari kamar Axel.
"Pak Doni, tolong kamu ke rumah Bintang sekarang juga." Perintah Starla.
"Baik nyonya!" Sahut Pak Doni.
"Cari tahu, kemana perginya Bintang. Kalau dia ada kesulitan, kamu bantu dia, paham?!"
__ADS_1
Pak Doni menganggukkan kepalanya, lalu beranjak pergi untuk menemui Bintang di rumahnya.
Wisnu menarik napas panjang seraya menggelengkan kepala.
"Katanya udah gede, telat balas chat sampai teriak teriak." Gumam Wisnu.
"Bukankah dia mirip kamu?" Tanya Starla.
"Ya, memang..." jawab Wisnu lalu tertawa kecil.
"Mungkin kamu terlalu memanjakannya," ujar Starla.
"Bisa jadi atau-?" Kata kata Wisnu terputus saat melihat Axel berlari menuruni anak tangga.
"Axel mau kemana?!" Tanya Starla.
Axel terus berlari menuju pintu utama dan menghiraukan panggilan Starla. Terdengar suara motor dari halaman rumah.
"Ikuti putraku!" Perintah Wisnu pada dua bodyguard yang berjaga.
"Baik tuan!" Sahut mereka lalu bergegas keluar dari rumah dan menyusul Axel menggunakan mobil.
***
Sesampainya di markas.
Axel menepikam motornya sembarangan lalu berlari seraya mengepalkan tinju ke wajah Edo.
Bukk
Bukk
"Bryan!" Seru Axel lalu mengangkat tubuhnya.
"Axel, maafkan gue." Ucap Bryan pelan.
"Simpan tenaga lo," ujar Axel, tengadahkan wajahnya melihat Celvin kewalahan menghadapi Gema dan kawan kawannya.
"Celvin!"
Axel meletakkan tubuh Bryan di jalan lalu berlari membantu Celvin.
Di saat bersamaan, anak buah Wisnu datang dan membantu Axel dan Celvin.
"Kabur woy!" Perintah Edo berlari dengan langkah tertatih di ikuti temannya yang lain.
Namun saat Gema hendak melarikan diri, Axel menarik kerah bajunya lalu memukul wajahnya hingga tersungkur.
"Bangun lo!" Axel menarik baju Gema di bantu Celvin.
Tangan Axel mengepal ke arah wajah Gema.
"Lo jujur, siapa yang sudah menyebarkan video?!" Tanya Axel marah.
"Gue, napa?! Jawab Gema.
Bukk!
Wajah Gema di hajar Axel hingga darah segar mengalir di hidungnya.
__ADS_1
"Kali ini gue ampuni. Sekali lagi lo mengusik kami. Gue nggak akan segan segan mampusin lo, paham?!" Axel mendorong tubuh Gema hingga oleng ke samping lalu berlari dengan langkah tertatih.
"Bryan!" Pekik Celvin menghampiri Bryan yang mencoba bangkit dan memeluknya erat.
"Axel..."
Axel berjalan mendekat dan membantu Bryan berdiri tegap.
"Maafin gue.."
Axel mengangguk.
"Lupakan, gue sudah lupa." Pungkas Axel.
"Lo memang sahabat terbaik. Maaf, gue sempat meragukan lo." Kata Bryan lalu memeluk Axel.
Kedua anak buah Wisnu berdiri tak jauh dari mereka dan memperhatikan.
Sementara di tempat lain.
Pak Doni sudah sampai di rumah Bintang, dan yang membuka pintu adalah Bintang sendiri.
"Non Bintang, saya di suruh nyonya untuk menyampaikan pesan tuan Axel." Kata pak Doni.
"Pesan?"
Pak Doni mengangguk.
"Tuan sedang tidak baik baik saja karena chatnya tidak di balas non Bintang."
Bintang terbatuk kecil lalu mengangguk.
"Maaf, aku kehabisan kuota. Tolong sampaikan pada Axel. Besok aku hubungi dia lagi." Jelas Bintang.
"Baik non, boleh minta nomernya biar saya isikan."
"Tidak perlu, nanti aku beli sendiri." Tolak Bintang.
"Tolong ringankan pekerjaan saya, biar saya isi." Kata pak Doni.
Bintang terdiam karena ragu dan tidak enak. Tapi pada akhirnya ia menterahkan nomer ponselnya.
"Makasih yaa..."
Pak Doni mengangguk, setelah itu ia berpamitan pada Bintang.
"Cari muka lo ya, atau sengaja biar di perhatikan Axel?" Sindir Berliana.
Bintang menarik napas panjang, balik badan menatap tajam pada Berliana.
"Tante, aku bukan Friska. Semua kebutuhan di berikan sama tante. Sedangkan aku?" Balas Bintang.
"Mikir, kamu di sini numpang!"
"Oya? Bukankah rumah ini peninggalaan papa?" Tanya Bintang setelah itu beranjak pergi menuju kamarnya dan membalas chat dari Axel.
"Loh nggak di bales, pasti marah lagi." Gumam Bintang.
"Ya sudahlah, biar aku jelaskan besok saja." Gumamnya lagi.
__ADS_1