
Setelah dua hari di rawat, kondisi Celvin jauh lebih baik. Selama Celvin di rumah sakit, Ramdan maupun Sinta tidak datang menjenguknya. Hanya Bryan dan Axel yang setia menemani dan kedua temannya yang membayar biaya administrasi rumah sakit.
Dokter pun mengizinkan Celvin pulang ke rumahnya dan beraktifitas seperti biasa, meski kedua orang tuanya tidak pernah menyapa meski satu meja saat sarapan atau makan malam.
Di sekolah.
Axel yang sudah tidak tahan melihat kedekatan Bintang dan Gema. Akhirnya memberanikan diri mendatangi Bintang dan mengancamnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Bintang sambil memainkan pulpen miliknya.
"Sudah tahu, kesalahan lo apa?" Axel mengambil pulpen di tangan Bintang dengan kasar.
"Apa salahku?" Bintang balik bertanya tanpa menoleh ke arah Axel.
"Gue benci, liat lo tiap hari ngekorin si Gema." Jelas Axel.
"Dih! Itu bukan urusanmu. Urus saja tunanganmu noh, si Friska!" Sahut Bintang kesal karena Axel mencampuri urusannya. Padahal selama ini, Axel terlihat cuek.
"Friska bukan tunangan gue, paham lo!" Bentak Axel.
"Bodo amat!" Ujar Bintang.
"Lo nantangin gue?" Tanya Axel semakin mendekat ke arah Bintang.
"Dih, mending tidur. Dari pada nantangin kamu." Jawabnya Bintang lalu berdiri dan melangkahkan kakinya.
__ADS_1
Namun Axel menarik paksa tangan Bintang hingga mundur ke belakang.
"Jangan buat gue, tambah membenci lo. Jauh jauh dari Gema, paham?!' Ancamnya.
"Kaya anak kecil, marah ga jelas. Ngelarang orang sesuka hati." Rutuk Bintang, terkejut dengan ancaman Axel.
"Gue bukan anak kecil." Kata Axel.
"Kamu memang anak kecil." Balas Bintang santai.
"Gue bukan anak kecil! Gue sudah dewasa dan bisa ngehamilin lo!" Sahut Axel menatap marah pada Bintang.
Bintang menautkan kedua alisnya, ia terkejut untuk kedua kalinya. menatap wajah Axel. Laki laki di hadapannya itu terlalu polos atau terlalu jujur. Bintang tidak mengerti apa yang ada di dalam otak Axel. Hingga berani mengatakan hal frontal tanpa rasa malu.
"Apa lo liat liat?" Tanya Axel, menatap kedua bola mata Bintang cukup lama.
"Gila apa ya?" Gumamnya.
Sementara Bryan, Celvin dan Gema yang memperhatikan di luar kelas.
"Anjirrr! Umpat Bryan saat melihat kejadian barusan.
Celvin dan Gema menoleh ke arah Bryan dengan tatapan tanya.
"Kenapa lo?" Tanya Axel yang baru saja datang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Jangan ciuman di sini, Sial! Gue iri!" Pekik Bryan mengusap bibirnya sendiri.
Axel tersenyum tengil, setelah itu melirik tajam pada Gema.
"Jauhi Bintang." Ancamnya.
"Lo pikir hebat? Kita lihat, siapa yang di pilih Bintang. Gue atau lo!" Tantang Gema.
Pernyataan Gema mengundang gelak tawa Axel dan dua sahabatnya.
"Gue, saingan sama lo?" Axel kembali tersenyum tengil. "Sory, lo punya apa, berani nantangin gue?"
"Gue memang ga sebanding sama lo, tapi gue bisa dapatkan hati dan cinta Bintang." Dengan bangga Gema mengungkapkan perasaannya.
"Cinta?" Kata Axel mengulang.
"Hahahahaha!" Bryan dan Celvin tertawa terbahak bahak.
"Cinta oh cinta, seperti apa rupamu oh cinta!" Bryan bersenandung di ikuti Celvin.
"Kalian memang bebal!" Rutuk Gema, lalu beranjak pergi masuk ke dalam kelas.
"Cieee, ada yang jatuh cinta. Makan tuh cinta!" Teriak Celvin pada Gema.
"Cabut yuk!" Ajak Axel.
__ADS_1
Bryan dan Celvin melangkah bersama mengikuti langkah Axel seraya bersenandung sepanjang koridor.
Sementara Friska yang menyaksikan semuanya semakin membenci Bintang dan akan menghancurkan hidup Bintang apapun caranya.