Ganteng Ganteng Freak

Ganteng Ganteng Freak
Jadian karena terpaksa


__ADS_3

Pagi ini Axel mendapatkan kabar gembira dari pak Doni. Pasalnya kedua orang tua Axel akan pergi keluar kota selama satu bulan.


Axel melompar gembira di atas tempat tidur hingga melakukan salto. Pak Doni hanya tersenyum tipis memperhatikan prilaku Axel layaknya bocah 5 tahun yang mendapatkan mainan kesukaannya.


"Apa rencanamu tuan muda?" Tanya Pak Doni menghentikan aktifitas Axel.


Axel duduk dan berpikir keras, apa saja yang akan dia lakukan selama orang tuanya tidak ada.


"Dad selalu menuntut hidupku untuk sempurna," keluhnya. "Dad, menginginkan aku untuk mengikuti jejaknya." Keluhnya lagi.


"Lalu?"


Axel turun dari atas tempat tidur. Layaknya model, memperagakan apa saja yang di lakukan orang orang kelas atas.


"Menjadi seorang CEO berprestasi, di segani." Ungkapnya sambil memperagakan jalannya seorang CEO.


"Lalu, apalagi?"


"Makan di atur, jadwal tidur di atur, cara bicara di atur, menampilkan yang terbaik di depan publik." Axel tersenyum sambil manggut manggut ke kanan dan ke kiri.


"Terus?"


"Bertemu orang orang penting, membicarakan pekerjaan. Hal hal yang serius, dan membosankan." Katanya lagi.


"Lalu, apa yang tuan muda inginkan?"


Axel berjalan mendekati pak Doni.


"Kebebasan, aku harus memperjuangkan kebebasanku."


"Sampai kapan?" Tanya pak Doni.


"Entahlah, tapi aku tidak mau memikirkan hal hal yang rumit. Aku mau menikmati masa mudaku dan hidup bahagia." Ungkap Axel.


"Bahagia yang seperti apa?"


Axel menggeleng cepat.


"Tuan muda tidak terlalu egois?"


"No!" Sahut Axel. "Mom and dad, yang egois. Memaksaku untuk menjadi sempurna."


"Oya?"


"Bahagia itu tidak melulu soal harta." Dengan sok dewasanya, Axel mendefinisikan arti bahagia dengan sudut pandangnya.


"Tapi segalanya butuh uang. Beda lagi kalau-?" Ucapan pak Doni terputus saat Axel meletakkan satu jari di bibirnya.


"Jangan terlalu banyak berpikir, nanti botak loh. Mendingan anterin aku ke sekolah." Kata Axel menarik sehelai rambut pak Doni. Setelah itu bergegas ke kamar mandi.


Pak Doni menghela napas berat, lalu membiarkan asisten rumah tangga menyiapkan semua keperluan Axel.


Tiga puluh menit berlalu, Axel sudah siap berangkat bersama pak Doni.


Di perjalanan menuju sekolah. Axel melihat sebuah mobil, mirip punya papa nya. Awalnya Axel tidak berpikir kalau itu papa nya. Namun, tepat di lampu merah Axel melihat papa nya berada satu mobil bersama seorang wanita dan jelas terlihat kalau wanita yang berada di samping papanya bukanlah Starla.


"Pak Doni, dad and momi. Pergi ke kota mana?" Tanya Axel tanpa menoleh ke arah Pak Doni.

__ADS_1


"Bali."


"Bali?" Axel menautkan kedua alisnya.


"Ada apa?" Tanya pak Doni.


Axel menggeleng cepat, ia menepis pikiran buruk tentang papanya.


Tak lama mereka sampai di pintu gerbang sekolah. Pak Doni membukakan pintu mobil untuk Axel.


"Pak Doni tidak perlu menunggu, aku pulang cepat.' Pesan Axel.


Pak Doni mengangguk, lalu masuk kembali ke dalam mobil.


"Axel."


Axel menoleh, tatapannya tepat di wajah Gema.


"Lo yakin? Bintang lo jadikan pacar?" Tanya Gema sinis. "Gue ga yakin, paling buat mainan doang."


"Sudah? Bicaranya?"


"Nyokap and bokap lo gimana? Lo ga mikirin perasaan mereka?" Pertanyaan Gema membuat Axel emosi tapi tetap tenang.


"Bocah kek lo, nggak pantes nasehatin gue. Mau gue dimarahin atau di pukul nyokap, bokap gue. Itu bukan urusan lo!"


"Gue bukan nasehatin, cuma ngingetin. Gue tau bagaimana momi and dady lo," ucap Gema tersenyum sinis.


"Yang ada, kalau lo dapetin cewek ga sesuai ekspetasi orang tua lo. Yang ada, cewek lo yang akan di buat sempurna."


Axel berjalan lebih dekat dengan Gema. Hingga hembusan napas Axel terasa di wajah Gema.


Axel melirik ke arah Bintang dan Friska yang baru saja keluar dari dalam mobil. Lalu ia berjalan mendekati Bintang dan merangkul bahunya dengan paksa.


Axel menoleh ke arah Gema lalu tersenyum smirk. Setelah itu, memaksa Bintang untuk mengikuti langkahnya memasuki gerbang sekolah.


Friska menghentakkan kakinya kesal melihat Axel lebih memilih menggandeng Bintang dari pada dirinya.


"Ah kesel!" Teriaknya lalu menoleh ke arah Gema.


"Cowok lemah, kenapa lo biarin Axel merebut cewek lo?!"


"Ga jelas!" Gerutu Gema lalu melangkah memasuki gerbang sekolah di ikuti Friska.


"Liat saja nanti, Bintang." Gumamnya.


***


Jam istirahat Axel dan dua sahabatnya bermaksud pergi ke kantin. Namun niatnya ia urungkan saat Raka memberitahu Axel, ada kekacauan di belakang sekolah.


Awalnya Axel tidak tertarik, tapi Raka menyebut nama Bintang. Akhirnya Axek dan dua sahabatnya mendatangi belakang sekolah.


Sesampainya di belakang sekolah. Axel melihat geng sultan tengah berkumpul bersama teman temannya mengelilingi Bintang.


"Byy, kalian tahu. Ada cewek ga tau diri berusaha merebut tunangan gue!" Seru Friska mempermalukan Bintang.


"Kalian mau tahu siapa ceweknya?" Pekiknya lagi.

__ADS_1


"Bintang!" Tunjuk Friska ke arah Bintang.


"Dia sudah-?"


"Bintang sudah jadian sama gue!" Potong Axel.


Friska dan teman temannya menatap tak percaya.


"Jadi, siapapun yang berani mengganggu Bintang. Kalian akan berhadapan dengan gue!"


Axel berjalan mendekati Bintang, menatap tajam wajahnya.


"Kamu sudah gila ya?" Ujar Bintang.


"Mulai hari ini, lo jadi pacar gua." Tegas Axel.


"Gak!" Sahut Bintang menolak.


"Gue hitung sampai 10, kalo lo nolak gue. Gue pastikan lo cabut dari sekolah ini?" Ancam Axel tidak main main.


Mata Bintang melebar, menatap bingung. Antara menerima atau menolak tapi hilang kesempatan untuk sekolah lagi. Teman teman Axel dan yang lain melongo memperhatikan Bintang, menunggu jawaban apa yang akan di berikannya.


Satu


Dua


Tiga


Axel mulai menghitung, dan Bintang masih bingung dan takut.


Empat


Lima


Enam


Axel terus menghitung dengan tatapan tajam meng-intimidasi. Hingga hitungan yang sembilan, Axel berhenti menghitung.


"Ya! Aku mau jadi pacar kamu!" Seru Bintang lantang dan tidak ada pilihan lain.


Axel tersenyum penuh kemenangan, menatap satu persatu teman temannya. Gema menghampiri mereka berdua dan tidak dapat menerimanya.


"Ini konyol!"


"Bintang, kamu tidak serius kan?" Tanya Gema.


"Aku serius," jawab Bintang.


Gema mengalihkan pandangannya pada Axel.


"Lo punya rencana jahat apa?" Tanya Gema pada Axel. Namun Axel tidak menjawab, dan memilih pergi begitu saja dari hadapan mereka.


Gema kembali menatap Bintang.


"Ini bukan cinta namanya Bintang."


"Aku tidak tahu namanya cinta, yang aku tahu. Saat ini, aku hanya ingin tetap sekolah di sini." Tegas Bintang, lalu beranjak pergi.

__ADS_1


Gema diam terpaku memperhatikan satu persatu teman temannya pergi meninggalkan tempat. Tatapannya tertuju pada Friska, matanya merah berkaca kaca.


__ADS_2