Ganteng Ganteng Freak

Ganteng Ganteng Freak
Kekerasan di sekolah


__ADS_3

"Lo boleh babak belur sana sini, kena hajar sama yang namanya hidup. Tapi lo jangan lupa, begitu lo memulai sesuatu, jangan berenti." Pesan Celvin, menatap ke arah Bryan yang berbaring di atas tempat tidur milik Axel.


Bryan menoleh ke arah Celvin lalu duduk di atas tempat tidur dengan kepala tertunduk. Axel yang berada di sampingnya merangkul bahu Bryan dengan menundukkan kepalanya begitu juga dengan Celvin.


Malam ini mereka berkumpul di kamar Axel. Suasana hening, dingin, mencekam. Malam yang sepi, seolah menceritakan tentang anak laki laki yang hidup tapi berkali kali di matikan.


Wajahnya selalu terlihat bahagia tapi hatinya terluka. Terluka bukan karena cinta, tapi karena yang ia percayai tidak sempurna dan mati oleh harapannya sendiri.


"Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu mau, Bryan."


Axel, Bryan dan Celvin melepaskan rangkulannya menoleh ke arah starla dan mbok yang membawakan makan malam.


"Makasih tante, aku bisa pulang ke rumah kakek." Kata Bryan.


"Terserah kamu, pintu rumah ini terbuka buat kalian." Ucap Starla .


"Makasih tante!" Sahut Bryan dan Celvin.


"Sekarang kalian makan ya."


Setelah itu Starla keluar dari kamar dan mbok meletakkan semua makanan di atas meja lalu bergegas pergi.


"Makan yuk!" Ajak Axel.


Bryan dan Celvin mengangguk, lalu mereka bertiga turun dari atas tempat tidur, duduk bersama menikmati makan malam.


***


Di sekolah.


Baru saja Axel, Bryan dan Celvin memasuki gerbang sekolah. Tiba tiba dari arah belakang, Ramdan menarik baju Celvin hingga mundur ke belakang. Sontak, aksi tidak terpuji papa tirinya Celvin jadi tontonan murid murid sekolag tersebut.


"Plak!!"


Satu tamparan keras mendarat di wajah Celvin.


"Plakk!"


Satu tamparan lagi hingga sudut bibur Celvin mengeluarkan darah segar.


"Stop!" Pekik Axel.


"Kalian berandal yang cuma bisa bikin rusuh!" Ramdan membentak Axel dan Bryan.


"Om punya hak untuk menasehati Celvin, tapi tidak pakai kekerasan!" Balas Axel. "Jadi jangan salahkan, kalau kami cuma tau kekerasan!"

__ADS_1


"Plak!" Satu tamparan mendarat di pipi Axel.


"Kau tak berhak mencampuri hidupku lagi!" Seru Celvin.


"Diam kau!" Tunjuk Ramdan ke arah Celvin. "Hormati orang tua!"


Ramdan mengalihkan pandangannya pada Bryan dan Axel.


"Kalau kalian mau jadi anak brengsek, jangan bawa bawa anak orang!" Pekiknya marah.


Axel mendengus geram, tatapannya tajam seakan akan ingin menelan hidup hidup pria paruh baya di hadapannya.


"Hentikan!"


Ramdan dan yang lain menoleh ke arah sumber suara. Nampak para guru berusaha menengahi keadaan yang tidak baik untuk di pertontonkan.


"Ini sekolah, kami harap bapak bisa menghormati peraturan di sini." Kata pak Salim.


Ramdan tersenyum sinis menatap pak Salim.


"Buruk, kalian sama sekali tidak bisa mendidik. Celvin contoh buruk, membuktikan kalau kalian tidak bisa mengajar dengan baik." Ucap Ramdan.


"Cukup!" Sela Axel.


"Lebih baik lo pergi dari sekolah ini, atau gue laporin lo ke Polisi!" Ancam Axel.


"Lihat, betapa buruknya anak ini. Mentang mentang anak pemilik sekolah."


"Bapak sebaiknya pulang dan selesaikan masalah di rumah. Tapi jika bapak berani melakukan kekerasan terhadap Celvin lagi, kami terpaksa akan melaporkan bapak." Tegur pak Salim.


Ramdan membuang muka sekilas, menatap marah pada Celvin.


"Anak tidak berguna!" Hardiknya. "Sampah!"


"Lo pikir, gue peduli? Balas Celvin, matanya berkaca kaca. Selain harus menahan malu di hina papa tiri di depan teman dan sahabatnya.


"Aku tidak sudi memiliki anak sepertimu!"


"Lo pikir gue mau, punya bokap kaya lo! Gue cuma punya satu bokap, bokap gue yang sudah almarhum!! Pekik Celvin.


"HENTIKAN, ATAU SAYA LAPORKAN POLISI!" Teriak pak Salim.


Pak Salim membubarkan anaka anak yang menonton. Dan meminta Axel dan Celvin ke ruang UKS. Sementara Ramdan di minta ke ruangan kepala sekolah untuk menyelesaikan permasalahan.


Di ruang UKS.

__ADS_1


Axel dan Bryan sedang menenangkan Celvin. Dari arah pintu, Bintang masuk ke ruangan UKS.


"Gue malu.." ucap Celvin menundukkan kepala.


"Kena mental lo?" Sindir Bryan. "Ternyata lo bisa kena mental juga."


"Tapi-?"


"Lo ngapain malu, yang seharusnya malu itu bokap lo!" Potong Axel.


"Benar!" Timpal Bryan.


"Kalian memang sahabat terbaik gue.." kata Celvin merangkul bahu Axem dan Bryan.


"Kamu tidak apa apa?" Tanya Bintang pada Axel.


"Tumben lo perhatian," sahut Axel ketus.


"Kalau kamu ga suka di perhatikan, ya sudah!" Bintang balik badan, tapi di tarik tangannya oleh Axel.


"Apa?" Tanya Bintang.


"Lo judes amat jadi cewek!"


"Terus aku harus gimana, perhatian salah, diem juga salah!" Setelah bicara seperti itu, Bintang beranjak pergi dari ruang UKS.


Di ambang pintu, Bintang menoleh ke arah Axel.


"Pak kepala sekolah menunggu kalian."


"Gimana Vin, kita ke ruang kepala sekolah." Kata Bryan.


Celvin menolak.


"Gue males, tidak ada yang mesti di sekesaikan. Gue hapal gimana bokap tiri gue," jawab Celvin.


"Gue ngikut aja." Sela Axel.


"Sory, gue melibatkan kalian." Kata Celvin lagi.


"Sudahlah, kita sahabat bahkan lebih dari sahabat,' jawaban Axel menenangkan hati Celvin.


"Cabut yuk!" Ajak Celvin.


"Terserah lo, gue ngikut." Timpal Bryan.

__ADS_1


"Ke pantai."


"Kemon!" Bryan berjalan mendahului Axel dan Celvin. Mereka memilih pergi ke pantai untuk menenangkan dari pada harus berdebat di ruang kepala sekolah.


__ADS_2